Emile Heskey Sentil Kepemimpinan Bruno Fernandes di MU: Seharusnya Fokus Bermain Saja

Legenda Liverpool, Emile Heskey, mengkritik cara Bruno Fernandes memimpin MU.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Oktober 2026, 18:45 WIB
Pemain Manchester United Bruno Fernandes merayakan gol dalam laga Premier League Inggris antara Man Utd vs Ipswich Town di Manchester, Inggris, Minggu, 30 Agustus 2026. (AP Photo/Dave Thompson)

Bola.com, Jakarta - Mantan penyerang Liverpool dan Timnas Inggris, Emile Heskey, melontarkan kritik terhadap cara Bruno Fernandes menjalankan peran sebagai kapten Manchester United.

Ia menilai gelandang asal Portugal itu belum mencerminkan sosok pemimpin tim yang ideal dan seharusnya lebih berkonsentrasi pada permainannya sendiri.

Advertisement

Fernandes menjadi sorotan setelah secara terbuka mengkritik taktik Michael Carrick seusai MU dibantai 1-4 oleh Como di Liga Champions, medio pekan lalu.

Sejumlah pihak menilai sang kapten seharusnya menyampaikan keberatannya secara internal, bukan mengungkapkannya kepada publik ketika Carrick masih berada di bawah tekanan.

Dalam wawancara dengan BestBettingSites, Heskey bahkan menilai Fernandes lebih cocok menjadi wakil kapten daripada pemimpin utama tim.

"Saya tidak sepenuhnya yakin Bruno Fernandes adalah kapten dalam pengertian tradisional. Mungkin dia lebih cocok menjadi wakil kapten," ujar Heskey, dikutip dari TEAMtalk.

 

Cek klasemen terkini Liga Inggris 2026/2027 di sini.


Kapten Ideal

Pemain Manchester United, Matthijs de Ligt (kiri), berbicara dengan rekan setimnya, Bruno Fernandes, saat mereka meninggalkan lapangan pada jeda babak pertama dalam pertandingan fase pembuka Liga Champions antara Como dan Manchester United di Como, Italia, Rabu (21-10-2026). (Foto AP/Antonio Calanni)

Menurutnya, seorang kapten harus bisa diandalkan dan menjadi tempat rekan setim mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Ia menyebut John Terry, Steve Walsh, dan Gary McAllister sebagai contoh kapten yang memiliki karakter kepemimpinan kuat.

Heskey juga mencontohkan Rio Ferdinand dan Terry sebagai pemain yang mampu membela rekan setim, tetapi tetap berani mengingatkan mereka agar bekerja dengan baik.

Baginya, seorang pemimpin harus memberikan teladan, bukan hanya memarahi pemain lain atau menunjukkan kekesalan di lapangan.

"Menurut saya, Bruno perlu lebih berkonsentrasi pada sepak bolanya daripada menjadi kapten," tuturnya.


Kritik Sikap Fernandes

Gelandang Manchester United Portugal #08 Bruno Fernandes bereaksi selama Liga Champions UEFA, League Phase matchday 3, antara Como 1907 dan Manchester United di Stadio Giuseppe Sinigaglia di Como, Italia utara pada 21 Oktober 2026. (PIERO CRUCIATTI/AFP)

Heskey kemudian menanggapi tindakan Fernandes yang mengkritik pendekatan taktik Carrick setelah kekalahan dari Como.

Ia menilai pemain terkadang terlalu mudah menjadikan pelatih sebagai alasan, padahal mereka juga memiliki tanggung jawab untuk membaca situasi pertandingan dan menyesuaikan permainan.

Menurut Heskey, sepak bola terus berkembang sehingga pemain harus mampu beradaptasi.

Jika tim membutuhkan tekanan lebih besar terhadap lawan, misalnya, para pemain perlu menyadari kebutuhan itu dan mengambil tindakan di lapangan.

"Anda tidak bisa terus melihat ke arah manajer sambil berkata, 'Dia bilang jangan melakukan ini.' Anda mungkin perlu menantang manajer dan mengatakan, 'Kita tidak bisa melakukan ini, kita harus menekan lawan.' Anda berada di lapangan dan harus mengambil tanggung jawab, terutama jika Anda seorang kapten," kata Heskey.


Pemain Harus Menyesuaikan Diri

Pemain Manchester United tertunduk lesu usai kalah dari Como (AFP)

Ia lalu menggambarkan pengalamannya saat masih bermain sebagai penyerang.

Ketika bola terus kembali ke lini belakang dan tim kesulitan mengembangkan permainan, bek tengah seperti Matt Elliott atau Steve Walsh akan memintanya lebih kuat menahan bola serta membantu tim keluar dari tekanan.

Para pemain bertahan itu juga akan mendesaknya bergerak ke sisi lapangan, menekan lawan, dan tidak memberikan keleluasaan kepada mereka untuk menguasai bola.

Menurut Heskey, seluruh pemain harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi pertandingan, bukan sekadar menunggu instruksi dari pinggir lapangan.

"Di level tertinggi, terlalu mudah untuk terus menyalahkan manajer. Sebelas pemain di lapangan bisa mengubah keadaan karena apa yang dilihat manajer dari pinggir lapangan sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di lapangan," ujar Heskey.

 

Sumber: Teamtalk

Berita Terkait