Sukses


Cerita Kevin Diks, Pengalaman Bermain di Liga Champions dan Keinginan Berkostum Timnas Indonesia

Bola.com, Jakarta - Kevin Diks termasuk pemain keturunan Indonesia yang beruntung merasakan atmosfer Liga Champions. Kevin tampil di turnamen elite antarklub Eropa itu ketika memperkuat Feyenoord pada musim 2017/2018.

Saat itu, Feyenoord berada satu grup dengan Manchester City, Shakhtar Donetsk, dan Napoli. Kevin yang baru berusia 21 tahun selalu dimainkan saat laga tandang. Feyenoord memang gagal lolos ke-16 Besar, tetapi momen itu sangat berkesan dalam karier sepakbola Kevin.

Pada musim yang sama, Kevin Diks juga menjadi bagian penting dari Feyenoord saat meraih Piala KNVB dan Piala Johan Cruyff. Selain Feyenoord, Kevin yang musim lalu bermain untuk klub Liga 1 Denmark, AGF Aarhus ini pernah berkostum Vitesse, Fiorentina, dan Empoli. Pengalaman cukup lumayan buat Kevin yang pada 6 Oktober nanti genap berusia 24 tahun.

Dalam channel youtube Yussa Nugraha, Kevin menceritakan jatuh bangun perjalanan kariernya di sepak bola. Termasuk saat berjuang untuk bangkit setelah harus menepi selama 1,5 tahun karena cedera lutut.

"Kembali bermain selama 90 menit bersama AGF pada Oktober 2019 adalah momen paling berkesan. Bagi saya, kesempatan itu adalah buah dari kerja keras dan selalu fokus kepada impian," ujar Kevin yang sampai sekarang masih berstatus pemain Fiorentina ini.

Kevin mengaku mengenal sepak bola sejak usia 4 tahun dari kedua orangtua yang juga berstatus pesepak bola amatir. Ia mulai menimba ilmu di Akademi Sepak Bola Aegon VV.

Pada usia 8 tahun, bakatnya terpantau oleh Vitesse yang kemudian merekrutnya sebagai pemain akademi. Setelah bermain di turnamen kategori usia, Kevin mendapat kontrak profesional untuk masuk di tim utama Vitesse jelang musim 2014-2015.

Selama dua musim memperkuat Vitesse, Kevin yang berposisi sebagai bek kanan itu tampil dalam 56 partai di Erevidivisie (Liga 1) Belanda. Penampilannya yang impresif membuat Fiorentina tertarik merekrutnya dengan durasi kontrak selama empat tahun.

Akan tetapi, pada musim pertamanya di Fiorentina, Kevin Diks gagal menampilkan kemampuan terbaiknya. Ia hanya tampil dalam dua partai di Seria A bersama Fiotentina.

 

2 dari 4 halaman

Tampil di Liga Champions

Butuh jam terbang membuat Kevin meminta kembali ke Vitesse dengan status pinjaman. Bersama klub lamanya itu, nama Kevin kembali mencuat dengan raihan trofi Piala KNVB pada 2017. Prestasi yang membuat Feyenoord ingin memakai jasanya pada musim 2017-2018.

Bersama klub elite Belanda itui, Kevin Diks tampil reguler di Liga Belanda. Sementara itu di Liga Champions, ia selalu dimainkan pada laga tandang. Pada pentas elite antarklub Eropa tersebut, Kevin kerap berduel dengan sejumlah pemain atas di Eropa.

Ia menunjuk sosok Raheem Sterling (Manchester City), Lorenzo Insingne dan Dries Mertens (Napoli) sebagai lawan yang tersulit dihadapi.

"Momen yang paling berkesan ketika saya berduel dengan Dries. Ia mengenal saya karena sama-sama pernah menimba ilmu di Akademi Sepakbola Aegon VV," tuturnya.

Bersama Feyenoord, Kevin kembali meraih trofi juara Piala KNVB. Tampil baik bersama Feyenoord membuat Fiorentina kembali menariknya ke Italia jelang musim 2018-2019. Kevin pun selalu ditampilkan pada partai pramusim Fiorentina yang ketika itu dilatih Stefano Pioli.

Namun, impiannya untuk bermain reguler di Fiorentina terkendala cedera lutut yang menimpanya. Ia pun harus menjalani perawatan. Setelah pulih, Fiorentina meminjamkannya ke Empoli.

Tetapi, karena kebugarannya yang belum kembali membuat Kevin tak mendapatkan menit bermain pada musim 2018-2019. Beruntung pada paruh musim, klub Denmark, AGF Aarhus mengajaknya bergabung. Bersama AGF, Kevin kembali bangkit dengan bermain dalam 19 partai di Liga Denmark dengan koleksi satu gol.

3 dari 4 halaman

Ingin Memperkuat Timnas Indonesia

Seperti layaknya pemain keturunan Indonesia, Kevin yang pernah memperkuat Timnas Belanda U-19 ingin memperkuat tim nasional Indonesia di level senior.

"Saya tentu ingin membela timnas Indonesia. Tapi, saya belum bisa terlalu memikirkannya saat ini. Apalagi, belum ada undangan resmi dari PSSI," ungkap Kevin yang tetap mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia termasuk kompetisi Liga 1.

Kevin mengaku kerap menonton laga Liga 1 yang melibatkan pemain asal Belanda seperti Melvin Platje, William Pluim, dan Marc Klok.

"Atmosfer kompetisi Indonesia lumayan meriah. Saya menyaksikan antusiasme suporter sangat tinggi saat mendukung tim kesayangannya."

Kevin berdarah Indonesia dari ibunya."Oma dan Opa saya asli Maluku. Nama belakang keluarga saya adalah Bakarbessy. Saya sudah dua kali berlibur ke Indonesia dan mengunjungi Ambon. Jersey klub saya dipajang pada sebuah kafe di Ambon," terang Kevin.

Sebagai keturunan Indonesia, Kevin juga menyukai masakan khas tanah air seperti nasi goreng dan sate ayam.

"Saya sering menyantap makanan itu disela-sela waktu senggang bersama keluarga. Tapi, saat kompetisi, saya terpaksa menahan dulu karena menu makanan sudah diatur oleh ahli gizi klub," pungkas Kevin.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Video Populer

Foto Populer