Sukses


Kisah Agus Supriyanto, Alumnus Timnas Indonesia Junior yang Sukses Berbisnis Konveksi dan Kos-kosan

Bola.com, Jakarta - Kiprah Agus Supriyanto sebagai gelandang bertahan sempat mewarnai pentas Liga Indonesia era 1990 sampai 2000-an. Ia tercatat pernah berkostum Barito Putera, Petromikia Putera, Persekaba Badung, Persegi Gianyar dan Persikad Depok.

Tak hanya itu, Agus juga pernah memperkuat Timnas Indonesia U-16 dan U-18 pada sejumlah turnamen internasional.Agus pantas jadi role model buat para pesepak bola tanah air.

Setelah pensiun sebagai pemain di usia 30 tahun, Agus memilih fokus dengan bisnis konveksi dan rumah kos yang sudah dirintisnya pada pengujung karirnya sebagai pemain.

"Bagi saya, ukuran sukses pemain bukan seberapa besar yang ia dapatkan ketika masih aktif sebagai pemain. Yang penting bagaimana kehidupannya setelah gantung sepatu," ujar Agus dalam channel Youtube Pinggir Lapangan.

Menurut Agus, ketika masih bergelut sebagai pemain, ia sudah menata sekaligus mempersiapkan masa depan.

"Saya sadar, bahwa durasi atau waktu buat seorang pemain sepak bola pasti akan habis sejalan dengan usia. Bisa juga lebih cepat bila mendapat cedera seperti yang saya alami," tutur Agus.

2 dari 4 halaman

Mencuat Lewat Piala Haornas

Bermodalkan hubungan baiknya dengan sesama pemain atau komunitas sepak bola, usaha konveksi Agus merambah Aceh sampai Papua.

"Saya memafaatkan koneksi saya dengan rekan seangkatan atau senior yang sudah menjadi pelatih sebuah tim atau SSB. Mereka sering membeli jersey atau peralatan olahraga produksi saya," kata Agus.

Begitu pun dengan usaha rumah kos Agus yang berjumlah 10 unit yang menambah pandapatan bulanan Agus bersama keluarga. "Saya seperti menjadi PNS, dapat uang bulanan dari usaha kos-kosan."

Foto lama Agus Supriyanto, gelandang bertahan sempat mewarnai pentas Liga Indonesia era 1990 sampai 2000-an saat berbincang dengan Youtube Omah Balbalan. (Bola.com/Ario Yosia)

Dalam channel itu, Agus menceritakan peruntungan kariernya sebagai pesepak bola yang dimulai ketika membawa Jawa Tengah juara Piala Haornas pada 1994.

Setelah itu, ia terpilih masuk Diklat Salatiga bersama sejumlah nama yang kemudian mencuat di pentas sepak bola nasional seperti Nova Arianto, Warsidi, mendiang Ngadiono, Eko Kancil dan Gendut Doni Cristiawan.

Tak lama di Diklat Salatiga, Agus mendapat kesempatan menimba ilmu di Diklat Ragunan Jakarta bersama pesepak bola dari berbagai penjuru Tanah Air, di antaranya Erol Iba, Silas Ohe, Elie Aiboy, Purwanto Suwondo dan Ismed Sofyan.

3 dari 4 halaman

Piala Pelajar Asia

Status sebagai pemain Diklat Ragunan, Agus kemudian terpilih masuk skuad tim Indonesia yang mengikuti turnamen pelajar Asia di India pada 1997.

"Di ajang itu, Indonesia meraih peringkat tiga," terang Agus.

Di ajang ini pula nama Bambang Pamungkas mulai dikenal sebagai striker masa depan Indonesia. Begitu juga dengan Ismed Sofyan yang awalnya adalah striker tapi kemudian diplot sebagai bek kanan oleh pelatih tim pelajar Indonesia, Edi Santoso.

"Waktu itu yang menjadi striker utama adalah Bambang dan Purwanto."

Sepulang dari India, Agus kembali terpilih memperkuat timnas U-18 di kualifikasi Piala Asia U-19. Menurut Agus, sebenarnya, setelah ajang itu, ia bersama rekan-rekannya diproyeksikan berguru ke Italia. Tapi, krisis monoter yang melanda Indonesia membuat program ini urung terjadi.

"Akhirnya tim dibubarkan. Saya pun ke Barito Putera yang sudah menggaji saya sejak di Diklat Ragunan," papar Agus.

 

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer