Kronologi Petualangan Ruben Amorim di MU yang Berujung Pemecatan: Fase-Fase Krusial Menuju Kejatuhan Sang Pelatih

Perjalanan Ruben Amorim bersama Manchester United resmi berakhir setelah klub memecat pelatih asal Portugal tersebut usai 14 bulan penuh gejolak.

Bola.com, Jakarta - Perjalanan Ruben Amorim bersama Manchester United resmi berakhir setelah klub memecat pelatih asal Portugal tersebut usai 14 bulan penuh gejolak. Pernyataan keras Amorim dalam konferensi pers seusai laga melawan Leeds United menjadi kata-kata terakhirnya sebagai manajer Setan Merah.

Amorim meninggalkan Old Trafford dengan catatan yang jauh dari memuaskan. Dari total 63 pertandingan di semua ajang, ia hanya mampu meraih 25 kemenangan, 15 hasil imbang, dan menelan 23 kekalahan. Sebuah rekor yang menempatkannya di antara manajer terburuk United di era Premier League.

Manchester United kini kembali ke titik awal. Darren Fletcher ditunjuk sebagai pelatih interim dan akan memimpin laga kontra Burnley pada Rabu mendatang, sembari manajemen berburu sosok pelatih permanen untuk proyek jangka panjang berikutnya.

Selama 420 hari masa kepemimpinannya, ada banyak momen yang perlahan menggerus kepercayaan publik dan manajemen terhadap Amorim. Berikut rangkuman fase-fase krusial yang mengantarkan kejatuhan sang pelatih.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 7 halaman

Awal Penuh Peringatan dan Janji Proses Panjang

Debut Amorim terjadi saat Manchester United bertandang ke markas Ipswich Town. Ia langsung menerapkan sistem andalannya, 3-4-3, dengan sejumlah eksperimen posisi yang cukup berani. Marcus Rashford mencetak gol pertama era Amorim pada menit kedua, tetapi Omari Hutchinson menyamakan skor sebelum turun minum dan laga berakhir 1-1.

Usai pertandingan, Amorim sudah memberi sinyal bahwa periode sulit akan datang.

“Saya tahu ini membuat frustrasi para suporter. Kami sedang mengubah banyak hal dalam waktu bersamaan. Kami akan menderita dalam periode yang panjang. Kami akan mencoba menang, tetapi ini butuh waktu,” ucapnya kala itu.

Peringatan tersebut ternyata menjadi gambaran akurat atas apa yang terjadi setelahnya.

 

3 dari 7 halaman

Malam Sempurna yang Tak Pernah Terulang

Satu laga yang sempat memberi harapan besar datang saat United menghancurkan Everton 4-0. Sistem Amorim bekerja nyaris sempurna. Joshua Zirkzee dan Marcus Rashford masing-masing mencetak dua gol, sementara Bruno Fernandes dan Amad Diallo tampil dominan.

Kemenangan itu mengangkat United ke peringkat sembilan dan dianggap sebagai blueprint kesuksesan Amorim. Namun ironisnya, laga tersebut justru menjadi titik balik yang buruk.

Rashford, yang tampil gemilang, justru tak pernah lagi menjadi starter di liga. Ia bersama Alejandro Garnacho dicoret dari skuad pada laga derby berikutnya. Amorim bahkan melontarkan pernyataan keras terkait komitmen pemain.

“Saya akan menaruh Vital (pelatih kiper MU) di bangku cadangan daripada memainkan pemain yang tidak memberikan segalanya setiap hari,” ujarnya.

Tak lama berselang, Rashford hengkang dengan status pinjaman dan kini hampir pasti tak akan kembali ke Old Trafford.

 

4 dari 7 halaman

Rentetan Kekalahan dan Kritik Terbuka ke Pemain

Setelah momen positif tersebut, performa United anjlok. Kekalahan beruntun termasuk dipermalukan Bournemouth 0-3 di kandang sendiri membuat suasana kian panas.

“Semuanya terasa sangat sulit. Semua orang cemas,” kata Amorim saat United dicemooh suporter.

Puncaknya terjadi setelah kekalahan telak dari Brighton yang membuat United terpuruk di papan tengah. Amorim tanpa tedeng aling-aling mengkritik timnya sendiri.“Dalam 10 pertandingan Premier League, kami hanya menang dua kali. Mungkin kami adalah tim terburuk dalam sejarah Manchester United,” ucapnya.

Eksperimen pergantian kiper dari Andre Onana ke Altay Bayindir juga berakhir petaka. Bayindir kebobolan empat gol dari enam tembakan saat menghadapi Newcastle.

“Klub ini belum pernah menderita seperti ini,” tutur Bruno Fernandes.

 

5 dari 7 halaman

Final Eropa, Filosofi Kaku, dan Awal Akhir

Di tengah keterpurukan liga, United justru melaju ke final Liga Europa. Namun Amorim meredam ekspektasi.

“Tidak ada yang bisa menyelamatkan musim kami,” katanya jelang final.

United akhirnya kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur. Keputusan Amorim mencadangkan Garnacho hingga menit akhir menuai kritik tajam.

“Jika dewan dan fans merasa saya bukan orang yang tepat, saya akan pergi keesokan harinya tanpa bicara soal kompensasi,” ujarnya.

Masalah terus berlanjut, termasuk kekalahan memalukan dari klub kasta keempat Grimsby Town di Piala Liga. Amorim kembali menyalahkan pemainnya.

“Saya pikir para pemain saya sudah berbicara dengan sangat jelas tentang apa yang mereka inginkan,” katanya.

 

6 dari 7 halaman

Pernyataan Terakhir dan Pemecatan

Segalanya mencapai klimaks setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United. Dalam konferensi pers, Amorim menyinggung langsung struktur klub.

“Saya datang ke sini sebagai manajer Manchester United, bukan pelatih. Departemen pencari bakat dan direktur olahraga harus melakukan tugas mereka,” ucapnya.

Kurang dari 24 jam kemudian, Manchester United resmi memecat Ruben Amorim. Manajemen menyebut keputusan itu diambil karena tidak melihat perkembangan yang cukup signifikan.

Namun, sulit mengabaikan fakta bahwa ledakan pernyataan Amorim di Elland Road menjadi pemicu terakhir runtuhnya era singkat, penuh gejolak, dan nyaris tanpa fondasi di Old Trafford.

Sumber: ESPN

7 dari 7 halaman

Persaingan di Liga Inggris

Video Populer

Foto Populer