Pemain Korban Rasisme Kini Bisa Hentikan Pertandingan Piala Dunia 2026 dengan Satu Isyarat

Jika jadi korban rasisme, pemain di Piala Dunia 2026 diminta melakukan gerakan satu ini.

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 akan menghadirkan prosedur khusus untuk menangani tindakan rasisme selama pertandingan.

FIFA telah menginstruksikan para pemain agar menggunakan isyarat tertentu untuk melaporkan dugaan pelecehan rasial kepada wasit.

Turnamen yang digelar di Amerika Utara itu akan dimulai pada 11 Juni mendatang dengan pertandingan pembuka antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan, mengulang laga pembuka Piala Dunia 2010.

Edisi kali ini menjadi yang pertama menggunakan format 48 peserta. Sebanyak 104 pertandingan akan digelar di tiga negara tuan rumah, yakni Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.

Menjelang dimulainya kompetisi, FIFA juga telah memastikan penerapan protokol antirasisme yang akan digunakan sepanjang turnamen.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Sinyal Resmi

Jurnalis Henry Winter mengungkapkan pada Rabu waktu setempat bahwa seluruh pemain telah diberi pengarahan mengenai isyarat yang harus digunakan jika mengalami atau menyaksikan tindakan rasisme, baik yang terjadi di lapangan maupun berasal dari tribune penonton.

Pemain cukup menyilangkan kedua lengan bawah di depan dada hingga membentuk huruf "X".

Isyarat tersebut menjadi sinyal resmi kepada wasit bahwa telah terjadi insiden yang memerlukan penanganan segera.

Setelah menerima laporan tersebut, wasit wajib menjalankan prosedur tiga tahap yang telah ditetapkan FIFA.

Tahap pertama adalah menghentikan pertandingan. Jika situasi tidak membaik, pertandingan dapat ditangguhkan selama 15 menit. Apabila pelecehan terus berlanjut, wasit memiliki kewenangan untuk mengakhiri laga sepenuhnya.

Bagian dari Kampanye "No Racism"

Isyarat silang berbentuk "X" merupakan elemen utama dalam kampanye "No Racism" yang digagas FIFA.

Usulan tersebut sebelumnya disampaikan kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA. Gagasan itu kemudian memperoleh dukungan penuh dalam Kongres FIFA ke-74 di Bangkok pada 2024 sebelum pertama kali diterapkan pada Piala Dunia Wanita U-20 2024 di Kolombia.

"Penerapan isyarat 'No Racism' pada Piala Dunia Wanita U-20 2024 di Kolombia merupakan langkah awal yang penting untuk memberdayakan para pemain di seluruh dunia," ujar Gianni Infantino, Presiden FIFA.

"Sekarang, setelah resmi menjadi bagian dari prosedur tiga tahap, kami menantikan penerapannya di seluruh dunia dengan dampak yang sebesar-besarnya," imbuhnya.

Infantino menegaskan bahwa kebijakan tersebut mendapat dukungan bulat dari seluruh anggota FIFA.

"Ini didukung secara bulat dalam Kongres FIFA oleh seluruh 211 Asosiasi Anggota FIFA. Saya berterima kasih kepada anggota FIFA atas tekad dan upaya mereka dalam perjuangan bersama untuk menghapus rasisme dari sepak bola dan masyarakat untuk selamanya," ucap Infantino.

"Saya juga ingin berterima kasih kepada seluruh pemain, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, yang telah berkontribusi terhadap langkah maju ini," lanjutnya.

Sudah Pernah Digunakan

Isyarat antirasisme tersebut sebelumnya sudah terlihat dalam dua pertandingan Real Madrid, masing-masing saat menghadapi Pachuca dan Benfica.

Dalam dua kasus itu, Antonio Rudiger dan Vinicius Junior melaporkan dugaan pelecehan rasial yang mereka alami.

Wasit Ramon Abatti dan Francois Letexier sempat menggunakan sinyal tersebut sebagai bagian dari prosedur resmi. Namun, hingga kini belum pernah ada pemain yang melakukannya dalam pertandingan Piala Dunia senior.

Menariknya, sejumlah pemain yang akan tampil di Piala Dunia 2026 sudah ikut memperagakan isyarat itu dalam sesi pemotretan resmi menjelang turnamen. Satu di antaranya adalah gelandang Timnas Skotlandia dan Aston Villa, John McGinn.

 

Sumber: Sportbible

Video Populer

Foto Populer