Presiden LaLiga Desak Perubahan di FIFA: Era Gianni Infantino Sudah Berakhir!

Presiden LaLiga, Javier Tebas, mengklaim Gianni Infantino "menghancurkan esensi" sepak bola dan yakin masa jabatan Infantino sebagai presiden FIFA telah berakhir.

Bola.com, Jakarta - Presiden LaLiga, Javier Tebas, kembali menyerukan perubahan di tubuh FIFA. Tebas menilai masa kepemimpinan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA telah berakhir.

Tebas bahkan menilai Infantino telah merusak esensi sepak bola melalui sejumlah proyek yang dijalankannya. Menurutnya, sepak bola tidak hanya berkaitan dengan kompetisi elite, tetapi juga keberadaan liga-liga domestik.

"Bagi saya, masa Gianni Infantino sudah lama berlalu," kata Tebas kepada Le Monde.

Tebas menegaskan pandangannya bukan semata-mata muncul akibat sejumlah kontroversi yang terjadi belakangan. Ia mengaku sudah lama memperhatikan gaya kepemimpinan Infantino, meski menurutnya banyak pihak baru menyadarinya sekarang.

"Saya tidak mengatakan ini karena peristiwa-peristiwa baru-baru ini. Saya sudah lama melihat gaya manajemen seperti ini, meski semua orang sepertinya baru menyadarinya sekarang," ujarnya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Tak Berkontribusi

Tebas juga menilai Infantino tidak memberikan kontribusi terhadap perkembangan sepak bola.

"Gianni Infantino bukan seseorang yang berkontribusi terhadap pertumbuhan sepak bola. Sebaliknya, proyek-proyeknya justru menghancurkan esensi olahraga ini, yaitu liga-liga nasional," tutur Tebas.

"Sepak bola tidak terbatas pada kalangan elite. Bagi saya, era Infantino sudah berakhir."

Menurut Tebas, hal yang kini perlu ditunggu adalah kapan perubahan tersebut akan terjadi dan bagaimana proses pergantian kepemimpinan FIFA berlangsung. Ia berharap perubahan tidak sekadar mengganti sejumlah orang dengan nama-nama baru.

"Yang masih harus dilihat adalah kapan hal itu akan berlaku dan bagaimana proses suksesi berlangsung. Saya berharap ini bukan sekadar mengganti beberapa orang dengan orang lain, tetapi benar-benar melakukan pembenahan," katanya.

Maaf, tapi Belum Cukup

Seruan Tebas muncul setelah Infantino menghadapi berbagai tekanan. Sebelumnya, rencana FIFA untuk mencari investasi swasta melalui sebuah perusahaan yang akan mengelola kompetisi FIFA dan menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta mendapat kritik.

FIFA kemudian menyatakan tidak akan melanjutkan rencana tersebut. Rabu lalu, Infantino menyampaikan permintaan maaf kepada asosiasi-asosiasi anggota FIFA terkait proses penyusunan rencana tersebut.

UEFA dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sebelumnya telah menyerukan agar Infantino mengundurkan diri.

Tekanan terhadap Infantino kembali meningkat setelah UEFA mengonfirmasi adanya pembayaran "departure payment" kepada seorang pegawai perempuan yang disebut-sebut pernah menjalin hubungan dengan Infantino ketika pria asal Swiss itu masih menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA. Infantino membantah klaim tersebut.

Di tengah tekanan tersebut, FIFA balik mengkritik pihak-pihak yang menyerang Infantino. FIFA menuduh para pengkritik berusaha melemahkan kewenangan Infantino agar ia dicopot dari jabatannya tanpa melalui proses pemilihan ulang yang semestinya.

Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) dan Argentina (AFA) menyatakan dukungan kepada Infantino.

Puncak Gunung Es

Ancaman dari sejumlah negara Eropa untuk memboikot Piala Dunia juga masih ada, meski Infantino telah menyampaikan permintaan maaf.

Tebas mengatakan situasi tersebut tidak mengejutkannya. Ia justru heran dengan reaksi sejumlah pihak yang menurutnya selama bertahun-tahun memilih diam.

"Apa yang terjadi tidak mengejutkan saya. Yang mengejutkan justru reaksi banyak orang yang selama bertahun-tahun tetap diam," ujar Tebas.

Menurut Tebas, persoalan yang terjadi saat ini bukan hanya berkaitan dengan satu kejadian atau satu individu. Ia menyebut apa yang terjadi sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas mengenai tata kelola di FIFA dan sepak bola.

"Episode ini hanyalah puncak gunung es dari apa yang telah terjadi di dalam sebuah institusi, FIFA, tetapi juga secara lebih luas dalam sepak bola, di mana tidak ada kebijakan tata kelola yang nyata. Dan masalahnya tidak terbatas pada satu orang; ini menyangkut seluruh sistem," katanya.

Tebas berharap perubahan kepemimpinan nantinya juga diikuti dengan perubahan sistem di FIFA.

"Sistem lama dapat terus bertahan, meski orang-orangnya berubah. Mari berharap benar-benar ada perubahan, pemimpin baru datang, dan tata kelola baru diterapkan di FIFA," harapnya.

 

Sumber: ESPN

Trilogi Sepak Bola Putri
Trilogi Sepak Bola Putri
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer