Kolom: Sejumlah Perubahan Terbaru Aturan di Sepak Bola Mengubah Warna Piala Dunia 2026

Simak kolom Darojatun yang menyoroti sejumlah perubahan terbaru aturan sepak bola sebelum menikmati Piala Dunia 2026.

Bola.com, Jakarta - Banyak penggembar bola di Indonesia heran mengapa ketika Tim Garuda menjamu Oman pekan lalu, kiper kita, Emil Audero, dianggap mengulur waktu dan timnas dihukum dengan hadiah tendangan penjuru bagi lawan.

Momen itulah yang membuat kolom ini dibuat agar pembaca mahfum dan bisa menikmati Piala Dunia 2026 dengan lebih pintar.

Audero saat itu dianggap memegang bola lebih dari delapan detik sehingga hukuman berupa sepak pojok dijatuhkan. Ini adalah bagian dari perubahan Laws of the Game FIFA yang dibuat menjelang Piala Dunia 2026 yang dimulai minggu ini.

Ya, Piala Dunia 2026 tidak hanya akan dikenang sebagai edisi pertama yang diikuti 48 negara dan digelar di tiga negara sekaligus. Turnamen ini juga akan menjadi panggung utama pertama bagi sejumlah perubahan penting dalam Laws of the Game yang disahkan oleh International Football Association Board (IFAB) dan FIFA.

Sebagian aturan baru itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya berpotensi mengubah ritme pertandingan, strategi pelatih, hingga karakter permainan tim-tim unggulan.

Jika dibandingkan dengan perubahan-perubahan besar seperti larangan back pass pada awal 1990-an, penerapan golden goal atau sudden death goal jelang Euro 1996 atau kemunculan VAR pada 2018, reformasi aturan kali ini memang tidak terlalu ekstrem.

Akan tetapi, hampir seluruh perubahan memiliki satu tujuan yang sama: mempercepat tempo permainan dan mengurangi waktu yang terbuang akibat protes, cedera taktis, atau aksi mengulur waktu.

Singkat kata, FIFA ingin membuat bola lebih sering bergulir dan pertandingan lebih banyak dimainkan daripada dihentikan.

Semua akan lebih jelas bila mengamati tabel di bawah ini:

Aturan baru sepak bola. (Bola.com)

 

Nah, bila dilihat selayang pandang, perubahan-perubahan di atas tampak bersifat administratif semata. Namun, dalam praktiknya, dampaknya menurut saya akan sangat besar.

Salah satu contohnya adalah aturan delapan detik bagi kiper. Selama bertahun-tahun, aturan enam detik praktis tidak pernah ditegakkan secara konsisten.

Kini, wasit diwajibkan memberikan hitungan visual dengan kedua tangan sehingga pelanggaran menjadi lebih mudah diawasi dan uniknya justru kiper Indonesia, Emil Audero, yang pertama kali menjadi contoh nyata penerapan aturan baru ini.

Pengaruh utama dari serangkaian perubahan aturan ini akan membuat tim yang selama ini sering memperlambat tempo saat unggul kemungkinan kehilangan salah satu senjata akal-akalannya. 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Diharapkan Tempo Laga di Piala Dunia 2026 Jadi Cepat

Secara keseluruhan, arah perubahan aturan menunjukkan FIFA ingin menciptakan pertandingan dengan intensitas lebih tinggi.

Data uji coba IFAB menunjukkan ancaman hukuman sepak pojok cukup efektif membuat kiper melepaskan bola lebih cepat. Bahkan dalam ratusan pertandingan uji coba, pelanggaran relatif jarang terjadi karena para penjaga gawang langsung menyesuaikan perilaku mereka.

Dampak lainnya adalah meningkatnya jumlah fase transisi, contohnya ketika kiper dipaksa mendistribusikan bola lebih cepat dan waktu bola mati dipangkas, pertandingan cenderung berubah menjadi lebih bergerak vertikal ke depan ketimbang melebar dan lebih dinamis.

Tim yang memiliki kebugaran tinggi dan organisasi permainan yang matang seperti Spanyol misalnya, akan memperoleh keuntungan lebih besar dibanding tim yang mengandalkan pengelolaan tempo.

Dari seluruh kandidat juara, memang Spanyol bisa jadi tim yang paling diuntungkan. Permainan modern skuad asuhan Luis de la Fuente itu dibangun di atas penguasaan bola, sirkulasi cepat, dan tekanan tinggi setelah kehilangan bola.

Mereka jarang mengandalkan penghentian tempo atau mengakali berjalannya waktu laga secara berlebihan.

Makin cepat bola kembali dimainkan, makin besar peluang Spanyol mendominasi penguasaan bola. Aturan baru juga mengurangi kesempatan lawan untuk mencuri napas di saat laju bola sedang kencang-kencangnya, apalagi setelah terus ditekan.

Dalam konteks ini, keberadaan pemain seperti Rodri, Pedri, dan Lamine Yamal menjadi makin berharga.

Bisa dikatakan bahwa perubahan aturan FIFA sejalan dengan filosofi sepak bola Spanyol, itulah juga sebabnya penulis menjagokan La Furia Roja menjadi kandidat juara Piala Dunia 2026 dalam kolom sebelum ini.

Adaptasi Argentina Diduga Bakal Lancar

Menariknya, penulis justru menilai bahwa dampak yang berbeda justru akan dirasakan sang juara bertahan Argentina. Tim asuhan Lionel Scaloni terkenal sangat fleksibel. Mereka bisa bermain cepat, tetapi juga sangat piawai mengontrol ritme pertandingan ketika unggul.

Pada Piala Dunia 2022, salah satu kekuatan terbesar Tim Tango adalah kemampuannya mengelola tempo dan memancing emosi lawan dan khalayak.

Aturan baru yang mempercepat restart permainan berpotensi mengurangi ruang bagi Argentina untuk mendinginkan laga ketika berada dalam tekanan.

Namun, pengalaman dan kecerdasan taktikal adaptif skuad mereka kemungkinan membuat dampaknya tidak akan dominan.

Tidak adil rasanya jika kita sudah mengulas dampak untuk Spanyol dan Argentina, tetapi tidak membahas Prancis. Well, menurut penulis kelihatannya Les Bleus jadi sosok yang paling santai menghadapi perubaan-perubahan aturan terbaru.

Armada Didier Deschamps selama bertahun-tahun dibangun untuk menyerang lewat transisi cepat. Mereka tidak membutuhkan penguasaan bola dominan seperti Spanyol dan tidak terlalu bergantung pada kontrol tempo seperti Argentina.

Sebaliknya, makin banyak momen transisi yang tercipta, makin berbahaya pemain-pemain seperti Kylian Mbappe dan konco-konconya. Pertandingan yang lebih terbuka justru dapat menciptakan lebih banyak ruang bagi kecepatan lini depan Prancis.

Karena itu, jika Spanyol diuntungkan oleh kontrol permainan yang lebih tinggi, Prancis justru diuntungkan oleh kemungkinan meningkatnya jumlah situasi serangan balik.

Walhasil, seperti penulis ungkap di awal, perubahan Laws of the Game menjelang Piala Dunia 2026 tidak akan mengubah sepak bola secara revolusioner, tetapi cukup signifikan untuk memengaruhi warna kompetisi.

Ritme pertandingan berpotensi lebih cepat, waktu efektif bermain meningkat, dan taktik mengulur waktu menjadi lebih sulit dilakukan.

Bagi para kandidat juara, Spanyol tampaknya menjadi tim yang paling cocok dengan arah perubahan tersebut karena filosofi mereka memang bertumpu pada sirkulasi bola cepat dan tekanan yang konsisten di sepanjang 90 menit.

Prancis juga berpotensi memperoleh keuntungan melalui permainan transisi yang lebih sering muncul. Argentina tetap berbahaya berkat kematangan taktisnya, meskipun sebagian instrumen pengendalian tempo yang selama ini menjadi keunggulan mereka mungkin sedikit jadi tidak efektif.

Jika tujuan FIFA adalah membuat pertandingan lebih hidup dan lebih menyerang maka perubahan aturan kali ini berpotensi membantu mewujudkannya. Dan jika itu benar terjadi, Spanyol mungkin menjadi tim yang paling siap memetik manfaatnya. Bagaimana, setujukah Anda pembaca? (**)

 

**Penulis adalah VP Content Operations & Editor in Chief untuk Merdeka.com, Bola.com dan Bola.net; isi kolom adalah pandangan pribadi dan bukan institusi.

Video Populer

Foto Populer