Yasin Ayari di Piala Dunia 2026: Alasan Kenapa Gelandang Swedia Ini Sujud Syukur Seusai Bobol Gawang Tunisia dan Ogah Melakukan Selebrasi

Pertandingan di Monterrey menjadi pertemuan emosional antara Ayari dan negara asal sang ayah. Sebuah duel yang menghadirkan kebanggaan sekaligus perasaan yang sulit dijelaskan.

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 selalu menghadirkan cerita yang melampaui sekadar hasil pertandingan. Di tengah kemenangan telak Timnas Swedia atas Tunisia dengan skor 5-1 pada laga Grup H, Minggu (14/6/2026), muncul satu kisah yang menyita perhatian publik sepak bola dunia.

Sosok itu adalah Yasin Ayari. Gelandang berusia 22 tahun tersebut menjadi bintang kemenangan Swedia lewat dua gol yang dicetaknya ke gawang Tunisia. Namun, bukan semata brace yang membuat namanya ramai diperbincangkan.

Ayari justru mencuri perhatian karena reaksinya setelah mencetak gol pertama. Alih-alih berlari merayakan gol dengan penuh kegembiraan seperti kebanyakan pemain muda yang menjalani debut Piala Dunia, ia mengangkat kedua tangannya, lalu melakukan sujud syukur.

Momen itu terasa berbeda karena lawan yang dihadapinya adalah Tunisia, negara yang memiliki hubungan sangat dekat dengan keluarganya.

Ayari lahir di Swedia dari ayah berdarah Tunisia dan ibu keturunan Maroko. Bahkan beberapa tahun lalu, peluang untuk membela Tunisia masih terbuka lebar sebelum akhirnya ia memutuskan mengenakan seragam kuning-biru milik Swedia.

Pertandingan di Monterrey menjadi pertemuan emosional antara Ayari dan negara asal sang ayah. Sebuah duel yang menghadirkan kebanggaan sekaligus perasaan yang sulit dijelaskan.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Memilih Swedia daripada Tunisia

Jauh sebelum tampil di Piala Dunia 2026, Ayari sudah dihadapkan pada keputusan penting mengenai masa depan karier internasionalnya.

Sebagai pemain muda yang berkembang pesat, ia memiliki kesempatan untuk membela Tunisia maupun Swedia. Namun, saat berusia 18 tahun, Ayari memilih melanjutkan perjalanan bersama negara tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Keputusan tersebut mendapat dukungan penuh dari sang ayah, Azzouz Ayari, yang hijrah dari Tunisia ke Swedia beberapa dekade lalu.

"Saya ingin dia bermain untuk Swedia. Dia harus merasa sedang memberikan sesuatu kembali kepada negara yang telah merawatnya," ujar Azzouz Ayari kepada Aftonbladet.

Menurut sang ayah, tawaran untuk memperkuat Tunisia memang sempat datang. Namun, keluarga mereka tidak pernah benar-benar mempertimbangkan opsi tersebut secara serius.

Bagi Ayari, membela Swedia terasa sebagai sesuatu yang alami karena sejak kecil ia telah tumbuh bersama sistem sepak bola negara tersebut dan memperkuat berbagai kelompok umur Timnas Swedia.

Ketika undian Piala Dunia 2026 mempertemukan Swedia dan Tunisia dalam satu grup, Ayari mengaku cukup terkejut.

"Rasanya gila kami akhirnya berada satu grup dengan mereka," katanya.

 

Dari Solna ke Panggung Piala Dunia

Perjalanan Ayari menuju panggung terbesar sepak bola dunia dimulai dari kota Solna, Swedia.

Ia mulai bermain sepak bola pada usia tujuh tahun bersama klub lokal RÃ¥sunda sebelum bergabung dengan akademi AIK, salah satu klub terbesar di Swedia.

Bakatnya berkembang pesat. Pada 2020, Ayari berhasil menembus tim senior AIK ketika masih berusia belasan tahun. Ia kemudian menunjukkan potensinya dengan mencetak empat gol dalam 24 pertandingan liga pada musim terakhirnya bersama klub tersebut.

Penampilan impresif itu menarik perhatian klub Premier League, Brighton & Hove Albion, yang merekrutnya pada Januari 2023 dengan nilai transfer sekitar empat juta euro.

Adaptasi di Inggris tidak berjalan instan. Ayari sempat menjalani masa peminjaman bersama Coventry City dan Blackburn Rovers untuk mendapatkan menit bermain sekaligus memahami kerasnya sepak bola Inggris.

Kesabaran tersebut akhirnya membuahkan hasil. Secara perlahan, ia mulai mendapatkan tempat di Brighton dan berkembang menjadi salah satu gelandang muda yang menjanjikan.

Pada tahun yang sama ketika pindah ke Inggris, Ayari juga melakoni debut bersama Timnas Swedia senior.

 

Gol yang Tak Bisa Dirayakan Sepenuhnya

Di Piala Dunia 2026, Ayari akhirnya mendapatkan panggung yang selama ini diimpikan.

Tujuh menit setelah laga melawan Tunisia dimulai, sebuah sapuan bola dari lini pertahanan lawan mengarah kepadanya di luar kotak penalti. Ayari langsung melepaskan tendangan keras yang meluncur ke gawang Tunisia.

Gol tersebut seharusnya menjadi momen sempurna untuk dirayakan secara emosional. Namun, Ayari memilih jalan berbeda.

Ia mengangkat kedua tangan seolah meminta maaf sebelum melakukan sujud syukur di lapangan. Gestur sederhana itu langsung menjadi sorotan dunia karena menggambarkan hubungan batin yang masih kuat dengan akar keluarganya.

Baru saat mencetak gol kedua yang memastikan kemenangan Swedia, Ayari memperlihatkan selebrasi khasnya dengan melakukan sliding menggunakan lutut.

Brace tersebut membuatnya tercatat sebagai pemain pertama Brighton & Hove Albion yang mampu mencetak dua gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.

Namun, di balik statistik itu, banyak orang justru lebih mengingat selebrasi gol pertamanya.

Ayari menjadi simbol identitas ganda yang sering ditemui dalam sepak bola modern. Ia mewakili Swedia, tetapi tetap membawa warisan budaya Afrika Utara yang membentuk kehidupannya sejak kecil.

Gol ke gawang Tunisia mungkin membantu Swedia meraih kemenangan besar. Namun, cara Ayari merespons momen tersebut menunjukkan bahwa sepak bola tidak selalu hanya tentang menang dan kalah.

Terkadang, sebuah selebrasi yang sederhana mampu menceritakan kisah yang jauh lebih besar daripada skor di papan pertandingan.

Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer