Mengulik Rencana Alvaro Arbeloa di Real Madrid: Ada Ide Besar untuk Bangkitkan Performa Tim?

Real Madrid menang 2-1 atas Rayo Vallecano, tetapi euforia kemenangan langsung tertutup siulan yang lebih keras, seolah menegaskan para suporter tetap tidak puas dengan performa tim.

Bola.com, Jakarta - Dalam kemenangan 2-1 yang diraih Real Madrid atas Rayo Vallecano, Minggu (1/2/2026), tetap memberikan keraguan yang terdengar nyata lewat siulan dan cemooh suporter. Pertanyaan besar timbul di Santiago Bernabeu, apakah Alvaro Arbeloa, sang pelatih baru, memiliki rencana yang jelas?

Dengan waktu bermain baru sedikit lebih dari satu jam, lini pertahanan Real Madrid benar-benar kehilangan fokus. Saat skor masih 1-1 dan Real Madrid mendapatkan sepak pojok, hanya dalam hitungan detik Rayo melancarkan serangan balik cepat. Andrei Ratiu berlari sendirian ke area pertahanan Madrid tanpa satu pun pemain outfield Los Blancos di dekatnya.

Satu-satunya pemain yang mampu mengejar adalah Gonzalo Garcia, penyerang muda yang sejatinya bermain sebagai winger kanan.

Ia cukup berhasil mengganggu Ratiu hingga memaksanya menembak tergesa-gesa dengan kaki kiri, dan Thibaut Courtois kembali menjadi penyelamat dengan sebuah tepisan krusial, pemandangan yang sudah terlalu sering dilihat fans Madrid musim ini.

Sorak-sorai untuk Courtois segera berubah menjadi siulan untuk tim secara keseluruhan. Para pendukung tampak tidak percaya betapa mudahnya Rayo menciptakan peluang berbahaya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Kemenangan yang Tidak Membawa Kepuasan

Reaksi serupa kembali terdengar saat wasit Isidro Díaz de Mera meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga. Real Madrid menang 2-1, tetapi euforia kemenangan langsung tertutup siulan yang lebih keras, seolah menegaskan para suporter tetap tidak puas dengan performa tim.

Real Madrid sebenarnya kalah rapi sepanjang pertandingan dari Rayo yang jauh lebih terorganisasi. Kartu merah untuk Pathe Ciss pada 10 menit terakhir membuka jalan bagi Real Madrid, sebelum akhirnya Kylian Mbappe mencetak gol penalti penentu pada menit 99:34, di tengah kemarahan kubu Rayo atas tambahan waktu sembilan menit.

Hasil ini membuat Real Madrid tetap berada di posisi kedua klasemen, hanya terpaut satu poin dari Barcelona. Namun, penampilan tersebut memperjelas satu hal: tanpa peningkatan signifikan, tim Arbeloa sangat kecil kemungkinan untuk benar-benar menantang rival El Clasico mereka dalam perebutan gelar.

Ketidakpuasan publik Bernabeu memang tidak sebesar saat kemenangan 2-0 atas Levante dua pekan sebelumnya, tetapi sepanjang laga melawan Rayo, kegelisahan terus muncul, terutama karena Real Madrid kesulitan menghadapi tim yang duduk di peringkat ke-17 La Liga.

Taktik Membingungkan dan Ketidakseimbangan Tim

Masalah terbesar Arbeloa terlihat jelas pada aspek taktik. Contoh paling mencolok adalah peluang emas Ratiu, tapi bukan satu-satunya.

Gol penyeimbang Rayo lewat Jorge de Frutos juga berawal dari kegagalan sistem bertahan, dengan Federico Valverde dan Aurélien Tchouaméni, dua gelandang murni, berada dalam posisi krusial di lini belakang.

Eduardo Camavinga kembali dimainkan sebagai bek kiri, padahal Arbeloa memiliki empat bek asli di bangku cadangan: Dani Carvajal, David Alaba, Alvaro Carreras, dan Fran Garcia.

Hal ini memperkuat kesan bahwa sang pelatih berusaha memaksakan sebanyak mungkin pemain bintang masuk ke dalam satu starting XI, meski harus mengorbankan keseimbangan dan organisasi tim.

Arbeloa tampak menganut kebijakan bintang lebih dulu, dengan memasukkan kembali Franco Mastantuono dan Arda Guler ke tim utama.

Kebijakan ini diyakini sejalan dengan keinginan presiden klub Florentino Pérez. Namun, kualitas individu semata tidak cukup membentuk sebuah tim yang solid.

Meski Vinícius Jr mencetak gol individu yang brilian, dan perbedaan anggaran gaji antara Madrid dan Rayo sangat mencolok, Madrid tetap terlihat rapuh.

Bahkan, suasana di Bernabeu mungkin akan jauh lebih sunyi andai Mbappe tidak gagal mencetak gol dari peluang nyaris terbuka di babak kedua.

Pembelaan Arbeloa dan Waktu yang Terus Menipis

Dalam enam pertandingan pertamanya, belum terlihat identitas permainan yang jelas dari Real Madrid versi Arbeloa. Tidak ada keseimbangan, tidak ada rencana permainan yang tegas, dan tidak ada ide taktik cerdas untuk memaksimalkan potensi skuad bertabur bintang.

Dalam konferensi pers, Arbeloa mencoba mencairkan suasana dengan humor yang tidak sepenuhnya berhasil.

“Ini bukan seperti saya adalah Gandalf the White,” ujar Arbeloa, menunggu tawa yang tak kunjung datang, sebelum menambahkan, “Yang saya inginkan dari para pemain adalah apa yang saya lihat sekarang — komitmen dan sikap.”

Arbeloa juga mengakui masih banyak yang harus diperbaiki, sembari menyoroti minimnya waktu latihan.

“Kami harus bekerja di semua fase permainan, meningkatkan performa dengan dan tanpa bola,” katanya.

“Saya sering mengatakan kepada para pemain bahwa tim ideal adalah tim di mana semua orang berpikir dengan cara yang sama. Saya kekurangan sesi latihan untuk bisa meningkatkan kami secara individu dan kolektif,” lanjutnya.

Namun, di Bernabéu, kesabaran bukan mata uang yang mudah didapat. Undian Liga Champions kembali mempertemukan Madrid dengan Benfica asuhan Jose Mourinho, yang sebelumnya sudah mengalahkan mereka dengan skor 2-4.

Dengan Vinícius Jr diskors dan Jude Bellingham kemungkinan absen saat melawan Valencia, Arbeloa justru mungkin mendapat berkah terselubung: lebih sedikit bintang untuk disusun, dan peluang membangun tim yang lebih seimbang.

Jika Arbeloa memang memiliki ide besar tentang bagaimana Real Madrid seharusnya bermain, satu hal menjadi jelas, ia harus menyampaikannya, dan melakukannya dengan cepat.

Sumber: The Athletic

Persaingan di La Liga Spanyol

Video Populer

Foto Populer