Makna Kemenangan dan Kekalahan Dalam Permainan Sepak Bola

oleh Bola diperbarui 28 Jul 2015, 17:10 WIB
Kolom

Bola.com, Jakarta - Sepak bola selalu menghadirkan tontonan yang menarik, karena olahraga ini memang suatu permainan yg memang dibuat dengan suatu perencanaan baik. Saat akan memulai memainkannya maupun saat kita sedang bermain bahkan setelah selesai dimainkan selalu ada sesuatu yang dipersiapkan.

Sebelum dimainkan kita membutuhkan lapangan dengan dua gawang, bola, teman-teman untuk bersama memainkan olahraga ini. Kesemuanya itu harus dipersiapkan supaya permainan berjalan baik.

Advertisement

Saat kita bermain juga dibutuhkan persiapan lagi, bagaimana kita mulai membagi tugas kepada setiap pemain dalam posisi yang memang dibutuhkan dalam permainan sepak bola itu sendiri. Ada pemain yang ditugaskan menjadi penjaga gawang, bek, gelandang, dan juga penyerang.

Semua punya tugas masing-masing dengan jangkauan pergerakan permainan yg berbeda. Tapi esensinya mereka harus bersama-sama bertugas untuk menghalau lawan agar tidak kemasukan gol, serta bersama-sama berusaha mencetak gol untuk meraih sebuah kemenangan.

Persiapan setelah pertandingan juga dibutuhkan, terutama pada hal yang bersifat non teknis. Kenapa? Karena di sinilah pentingnya kita betul-betul bisa memaknai sebuah permainan sepak bola itu sendiri. Kita bisa menang, tapi kita juga bisa kalah.

Lalu apa yg harus kita siapkan? Jawabannya adalah, kita bersiap untuk menang dan juga saat kalah. Siap merayakan kemenangan dengan hal yang wajar, serta siap menerima kekalahan dengan wajar pula. Caranya? Kita harus mau menerima sebuah kekalahan dengan memberi selamat kepada pemenang, terlepas akan selalu ada drama yang terjadi dalam proses menuju kemenangan tersebut.

Dan cerita tentang sebuah pertandingan bisa berhari-hari, berbulan-bulan bahkan tahunan jadi pembahasan. Contoh saat Maradona menang melawan Inggris di Piala Dunia 1986, dengan gol tangan Tuhannya. Sampai saat ini drama kontroversial tersebut jadi bahan obrolan penggila bola lintas zaman. Banyak lagi drama yang terjadi di pertandingan sepak bola berbagai ajang internasional, yang selalu jadi bumbu penyedap olahraga paling populer di seantero dunia ini.

Buat saya pribadi, yang terpenting memaknai sebuah kekalahan dalam sebuah pertandingan bal-balan. Kita dituntut terus belajar dan belajar membenahi hal-hal yang menjadi kekurangan. Perbaiki mutlak dilakukan agar bisa tampil lebih baik di pertandingan-pertandingan selanjutnya. 

Bahkan tidak boleh ada kata "menyerah" atau "putus asa" dalam kamus permainan ini. Banyak tim nasional, klub profesional, klub amatir yang sekalipun belum pernah menjadi juara semenjak tim lahir. Mereka tetap terus memainkan pertandingan sepak bola dan tak pernah bosan bermimpi mengejar prestasi.

Sepak bola tidak melulu bicara gelar juara. Belanda yang permainan sepak bola Total Football digandrungi banyak orang belum pernah juara Piala Dunia, Tiongkok yang banyak mencetak atlet-atlet berprestasi di berbagai cabang olahraga belum pernah juara Piala Asia, Laos negara level bawah berjaya di persaingan level Asia Tenggara.

Akan tetapi apakah mereka lantas memilih gantung sepatu dan berhenti memainkan sepak bola? Tidak sama sekali. Hingga saat ini mereka masih terus berjuang mengejar prestasi yang belum pernah mereka rasakan.

***

Bradford City klub tua di Inggris yg berdiri 1903, sekalipun belum pernah juara EPL. Prestasi tertingginya promosi ke kompetisi kasta elite pada tahun 2012-2013. Keberhasilan masuk kompetisi level tertinggi disambut suka cita para fansnya.

Butuh lebih satu abad untuk bisa masuk jajaran elite. Jangankah bicara membidik juara atau menembus persaingan Big Four, Bradford amat bahagia menjalani pertandingan-pertandingan EPL, walaupun di benak para pemain klub tersebut selalu was-was terhadap bayang-bayang degradasi.

Begitu lamanya klub ini eksis tanpa gelar juara kasta tertinggi, selama itu pula Bradford tetap berlatih dan mempersiapkan tim untuk bisa tampil lebih baik di tiap musimnya.

Di Indonesia ada beberapa contoh klub yg belum pernah juara di kasta tertinggi. Sebut saja Persiba Balikpapan yg berdiri tahun 1950. Prestasi terbaik Tim Beruang Madu, urutan tiga besar Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 di bawah Arema Indonesia dan Persipura Jayapura.

Apa lantas Persiba membubarkan diri, hanya karena mereka selalu gagal jadi juara ISL? Tidak. Di ISL 2009-2010, mereka amat bahagia menikmati posisi tiga dengan bumbu manis berungkali mengalahkan klub-klub bertabur gelar. Keinginan untuk memperbaiki diri membumbung tinggi di setiap musim yang Persiba jalani. Buat para fans para pemain Persiba adalah "juara" tanpa perlu meraih gelar juara.  Mentalitas pantang menyerah jadi contoh yang baik.

Dengan kata lain pemaknaan juara, tidak harus selalu bicara soal trofi. Juara adalah sebuah obsesi, juara adalah pemompa semangat untuk semua pemain bermain dengan maksimal, klub bersiap dengan tampil total dan penonton akan selalu datang mendukung dan menghargai sebuah pertandingan yg disuguhkan timm yg dibelanya dengan sepenuh hati.

Hasil akhir bisa membuat mereka kecewa tapi juga bisa membuat mereka bangga. Yang pasti suporter dan kita semua akan tetap datang untuk menikmati tontonan sepak bola, dan siap dengan drama yang akan mengiringi hasil dari pertandingan yang ditonton.

Timnas Belanda, China, Laos, atau Bradford City, Persiba, tetap akan ada. Mereka tetap akan mempersiapkan timmnya untuk menjadi juara. Mereka tidak berhenti berjuang atau usaha menjadi yang terbaik diberhentikan atau dibubarkan. Karena mereka tahu bahwa kemenangan yang hakiki adalah saat mereka juga bisa mengucapkan selamat kepada pemenang.

Bisa membangun kerja sama yg baik dalam tim itu juga bermakna sebagai kemenangan. Bisa menyuguhkan permainan penuh semangat juga merupakan sebuah kemenangan. Juara itu hanya satu, tapi bisa menempati peringkat dua atau tiga juga akan melalui proses kemenangan dan kekalahan.

Janganlah kita jadi pecundang yang selalu punya seribu alasan untuk suatu kekalahan dengan mengatakan: wasit tidak fair-play, lawan main kasar, mungkin ada yg kena suap, mungkin ada mafia sepak bola. Terpenting jadikan setiap kekalahan adalah jalan untuk kita mencapai kemenangan. Mari kita raih kemenangan, kita rebut sepak bola untuk kembali dipertandingkan, kita rebut sepak bola dari kesewenang wenangan. Karena sepak bola itu sejatinya milik rakyat!

*) Penulis merupakan pelatih Persija Jakarta dan mantan pelatih Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2011 dan 2013.