Arema Peragakan Strategi Aneh di Banyuwangi

oleh Iwan Setiawan diperbarui 01 Agu 2015, 09:06 WIB
ROTASI POSISI - Bek sayap Arema Cronus, Ahmad Alfarizi, dirotasi posisi bermainnya menjadi gelandang bertahan saat timnya meladeni kekuatan Indonesia All-Star. (Bola.com/Kevin Setiawan)
 
Bola.com, Banyuwangi - Sebuah strategi aneh diterapkan Arema Cronus saat membekuk Indonesia All-Star dengan skor telak 3-1 dalam ajang Sunrise of Java Cup (SoJC) 2015 Jumat (31/7/2015) lalu.
 
Ketika skor masih imbang 1-1 di babak pertama, lini tengah dirombak. Hendro Siswanto dimasukkan menit 20 menggantikan Dendi Santoso. Tapi di babak kedua, Hendro diganti oleh Feri Aman Saragih. Yang mengejutkan di menit 61, Feri digantikan Ahmad Nufiandani.
 
Sekilas terlihat ada kebingungan di kubu Arema. Tapi ternyata pergantian itu sudah direncanakan untuk membuat kubu Indonesia All-Star kesulitan mengantisipasi pola permainan Arema.
 
Hasilnya, Gonzales membuat dua gol dan mengakhiri laga dengan skor cukup telak 3-1.
 
"Memang aneh satu posisi kami gunakan pergantian sampai tiga pemain. Tapi itu bagian strategi yang dipikirkan dengan masak-masak," kata asisten pelatih Arema, Joko Susilo.
 

Arema Cronus, menerapkan sejumlah strategi di luar kelaziman saat menjajal Indonesia All-Star. (Bola.com/Kevin Setiawan)

Selain itu, ada banyak reposisi yang dilakukan. Dua bek sayap Hasim Kipuw dan Ahmad Al Farizi diturunkan sebagai gelandang bertahan.
 
Dua pemain ini punya kecepatan dan digunakan untuk menghentikan langkah kapten Indonesia All-Star, Adam Alis dan gelandang lincah, Rendi Irawan.
 
"Kipuw dan Farizi sudah pernah main gelandang di Persija dan Arema Junior. Posisi yan sebenarnya tidak asing lagi buat yang bersangkutan," tutur Joko.
 
Berbagai perubahan itu memang membuat performa Arema lebih bertenaga. Karena ada banyak pemain gesit di lini tengah. Sehingga mereka bisa meredam agresivitas pemain muda Indonesia All-Star.
 
Tak cukup sampai di situ perubahan yang dilakukan. Saat permainan sedang berjalan, strategi yang diterapkan beberapa kali berubah dari 4-4-2 ke 3-5-2. Dua strategi ini sering digunakan saat kompetisi ISL musim lalu.
 
"Ini juga strategi untuk membuat lawan kesulitan mengantisipasi mobilitas permainan kami," kata Joko yang berlisensi B AFC itu.