Saat Dua Bocah Gorontalo Bermimpi Menembus Pelatnas

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 04 Sep 2015, 09:10 WIB
Pebulutangkis asal Gorontalo, Nelsya Nur Sa’ban Manopo dan Adityo Iskandar Daud, saat mengikuti Audisi Final Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015, di GOR Djarum, Kudus, Jumat (4/8/2015).

Bola.com, Kudus - Bisa menembus pusat pelatihan nasional (pelatnas) dan mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan bergengsi menjadi impian hampir seluruh atlet bulutangkis yang sedang membangun kariernya. Tak terkecuali bagi dua bocah asal Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini, Nelsya Nur Sa’ban Manopo dan Adityo Iskandar Daud.

Sama-sama masih berusia 13 tahun dan duduk di kelas VII SMP, keduanya mengusung impian tinggi, ingin menjadi pebulutangkis pertama asal Gorontalo yang dipanggil berlatih di Pelatnas Cipayung. Sebelumnya Gorontalo memang tak pernah melahirkan pebulutangkis papan atas Indonesia.

Advertisement

Demi mewujudkan cita-cita tersebut, mereka mengikuti Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis di Manado. Kota tersebut harus ditempuh dalam satu jam perjalanan udara dari Bone Bolango. Keduanya sama-sama lolos untuk mengikuti audisi final di GOR Djarum, Kudus, mulai hari ini (4/9/2015).

Nelsya dan Adityo tampak malu-malu saat diajak berbincang Bola.com di GOR Djarum, Kamis (3/8/2015). Jawaban mereka pendek-pendek. Nelsya bahkan lebih banyak tersenyum dan menarik-narik kaus Adityo supaya menjawab petanyaan. Namun, saat ditanya apakah yakin bisa lolos dari audisi final dan mendapat beasiswa bulutangkis dari PB Djarum, keduanya kompak menjawab dengan mantap. “Yakin sekali,” ujar Adityo dan Nelsya kompak.

Keduanya mengaku baru sekali mengikuti audisi PB Djarum itu. Faktor tempat tinggal menjadi alasan utama karena pada tahun-tahun sebelumnya audisi hanya digelar di Kota Kudus. Namun, tahun ini mereka merasa menemukan jalan untuk mewujudkan impian mereka setelah mengetahui ada seleksi umum beasiswa bulutangkis dari PB Djarum di Manado, 28-30 Mei 2015.

Didukung orang tua masing-masing, mereka menjajal peruntungan dan dinyatakan lolos ke audisi final di Kudus. Mereka kini harus bersaing dengan 141 pebulutangkis dari berbagai daerah untuk memperebutkan kesempatan dibina oleh PB Djarum.

“Pengin jadi atlet pelatnas. Selama ini kan belum pernah ada atlet pelatnas dari Gorontalo,” kata Nelsya sambil tersenyum malu-malu, yang juga diamini Adityo.

Perjuangan Nelsya mengikuti audisi umum di Manado awalnya hampir terjegal. Waktu audisi bertepatan dengan jadwal ujian sekolah, sehingga dia harus mengikuti ujian susulan jika nekat berangkat. Namun, tiba-tiba jalan pengidola Bellaetrix Manuputty dipermudah.

“Tiba-tiba ada pengumuman, jadwal ujian sekolah langsung disambung dengan ujian nasional. Padahal awalnya pisah. Akhirnya Nelsya bisa ikut ujian sampai rampung kemudian baru ikut audisi. Saat itu, saya langsung yakin Nelsya bakal lulus audisi umum,” kata ibunda Nelsya, Oin Lahai.

Sang ibunda yakin karena merasa ada tanda-tanda semuanya dipermudah, salah satunya jadwal ujian yang berubah. Firasat sang ibu benar-benar menjadi kenyataan. Nelsya lolos ke audisi final di Kudus dan tinggal selangkah lagi mendapat beasiswa dari PB Djarum. Meskipun nantinya Nelsya bakal tinggal di Kudus dan jauh dari keluarga, Oin Lahai tak merasa waswas. Dia rela melepas sang anak yang ingin menjemput impiannya.

“Dari kelas IV SD, Nelsya suka sekali bermain bukutangkis, padahal keluarga kami tidak ada yang suka olahraga itu. Dia kemudian ikut klub bulutangkis di dekat rumah, rajin sekali berlatih. Kadang kalau pulang sekolah kan capek, tapi kalau kalau disuruh enggak usah latihan dulu, pasti tak mau. Inginnya latihan terus. Makanya pas ada audisi umum itu, dia pengin ikut dan kami sangat mendukung,” beber Oin Lahai.

Ada satu momen yang membuat Oin akhirnya mendukung penuh impian Nelsya untuk berkarier di bulutangkis. Suatu hari dia tanpa sengaja membaca buku harian sang putri. Di salah satu halaman, Nelsya menuliskan cita-citanya untuk menjadi pebulutangkis kebanggaan Indonesia. Ceritanya itu ditutupnya dengan tulisan, ‘aku pasti bisa!’. Sang ibu mengaku sangat terharu saat membaca curahan perasaan Nelsya tersebut.

“Makanya pas perebutan tiket audisi final, saya gunakan kata-kata itu untuk memotivasi dia. Saat dia tertinggal empat poin dari lawannya, saya berulang-ulang bilang ke dia ‘aku pasti bisa!’. Dan akhirnya Nelsya bisa mengejar poin dan menang,” ujar dia.

Baca Juga: 

29 Peserta Lolos ke Audisi Final Djarum Beasiswa Bulutangkis

Reuni Spesial Para Legenda Bulutangkis Indonesia di Kudus