Juara AS Terbuka, Pennetta Langsung Umumkan Pensiun

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 13 Sep 2015, 06:35 WIB
JUARA - Flavia Penneta menjuarai AS Terbuka 2015 setelah menundukkan rekan senegaranya, Roberta Vinci, Minggu (13/9/2015). (Reuters/Eduardo Munoz)

Bola.com, New York - Petenis Italia, Flavia Pennetta, sukses meraih titel Grand Slam untuk kali pertama setelah menundukkan kompatriotnya, Roberta Vinci, di final AS Terbuka 2015 dengan skor 7-6 (4), 6-2, Minggu (13/9/2015). Tak lama berselang, Penneta mengejutkan publik dengan mengumumkan keputusannya pensiun dari ajang tenis dunia.

Saat menjinakkan Vinci, Pennetta sudah berusia 33 tahun. Dia menjadi petenis tertua keempat yang memenangi Grand Slam di era Open dan bergabung dengan juara Prancis Terbuka 2010, Francesca Schiavone, sebagai perempuan Italia yang mampu memenangi satu gelar utama.

Advertisement

Tetapi selebrasi kemenangannya langsung berubah drastis saat Pennetta mengumumkan gantung raket. Keputusan itu disampaikan setelah dia memeluk lawannya sekaligus rekannya semasa kecil, Roberta Vinci.

“Ini cara menyenangkan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tenis. Saya sangat gembira. Ini adalah sesuatu yang diinginkan semua petenis, pensiun dengan memenangi trofi ini,” kata Pennetta di hadapan penonton yang memadati Arthur Ashe Stadium, termasuk Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi, seperti dilansir Reuters.

“Jadi ini adalah pertandingan terakhir saya di AS Terbuka dan saya tidak bisa memikirkan akhir yang lebih baik.”

Pennetta menyatakan keputusan gantung raket itu sudah diambil sebulan lalu. Menurut dia, hal itu membuatnya tampil lebih bersemangat di AS Terbuka. Di luar dugaan, dia bisa keluar sebagai kampiun.

“Mungkin inilah mengapa saya bisa berada di sini hari ini. Saya berusaha menjalani setiap pertandingan seolah-olah itu pertandingan terakhir saya. Berusaha memainkan yang terbaik,” kata dia sembari memeluk trofi.

“Bagi saya, sangat mudah berlatih dan bertahan di kehidupan (dunia tenis) ini. Tapi kadangkala berat untuk bersaing. Ini akan menjadi hidup baru karena saya bermain tenis sejak masih muda,” imbuh dia.

Pertemuan Pennetta versus Vinci di laga final merupakan skenario yang tak diprediksi penggemar tenis dunia. Final sesama Italia itu terjadi setelah Vinci menciptakan kehebohan dengan menyingkirkan petenis nomor satu dunia, Serena Williams, di semifinal. Gara-gara itu, impian Serena untuk menjadi petenis putri pertama yang membukukan Calendar Slam sejak 1988 pupus sudah.

Baca Juga: 

Kekalahan Serena Jadi yang Terburuk di Sejarah Tenis Putri

Jumpa Djokovic di Final, Federer Merasa Tertantang

Tersingkir, Serena Williams Gagal Bukukan Calendar Slam