"Kelangsungan ISL 2015-2016 Terancam Krisis Ekonomi"

oleh Riskha Prasetya diperbarui 17 Sep 2015, 07:03 WIB
Klub-klub ISL amat berharap mendapat injeksi dana dari sponsor. Sayangnya banyak perusahaan kakap tengah terpuruk. (Bola.com/Riskha Prasetya)

Bola.com, Palembang - Manajer Sriwijaya FC, Robert Heri, angkat bicara mengenai perkembangan terkini sepak bola nasional. Menurutnya, bukan hanya faktor perseteruan antara Menpora dengan PSSI semata yang membuat ISL 2015-2016 nantinya akan sulit kembali bergulir. Perekonomian Tanah Air yang sedang memburuk diakuinya akan sangat berpengaruh terhadap eksistensi seluruh klub peserta kompetisi kasta elite.

Diakuinya, krisis ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah juga berimbas bagi pelaku sepak bola nasional, tidak terkecuali Sriwijaya FC.              

Advertisement

“Contohnya saat meneken kontrak dengan salah satu pemain asing, Goran Ljubojevic, asumsinya dulu kurs dolar AS masih sekitar Rp 10 ribu, nah dengan kenaikan yang cukup besar saat ini tentu pasti ada pengaruhnya,” ungkap Robert yang juga Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel itu.

Dalam pandangannya, nilai rupiah yang ideal untuk saat ini adalah di kisaran 11 ribu-12 ribu rupiah.

Lebih lanjut dikatakannya, meski secara resmi PSSI dan PT Liga Indonesia mengatakan bahwa ISL tidak akan digelar hingga akhir tahun 2015 dan kemungkinan dilaksanakan awal tahun depan, bukan berarti semua masalah akan selesai.

“Klub juga rasanya masih akan kesulitan mencari sponsor karena hampir seluruh perusahaan terkena dampak krisis. Tentu jika mereka saja belum surplus atau untung, bagaimana bisa mensponsori klub olahraga?” jelasnya.

Dirinya memberikan contoh bagaimana Barito Putera atau Semen Padang, dua klub di ISL yang sangat mengandalkan pemasukan dari sponsor utama, namun kini cukup terkena pengaruh krisis ekonomi di Indonesia.

“Jika setiap perusahaan harus memangkas 50 persen dari produksinya, tentu akan berpengaruh sekali dan rasanya mereka akan berpikir ulang untuk mengucurkan dana ke kegiatan olahraga,” tambahnya.

Namun, SFC diakuinya masih cukup beruntung karena beberapa sponsor di wilayah Sumatra Selatan masih terus berkomitmen mendukung di tengah krisis ekonomi saat ini. Peran pemerintah diakuinya akan sangat penting dan menentukan terhadap kelangsungan dunia sepak bola nasional.

“Bukan hanya dukungan seperti perizinan atau penyediaan infrastruktur, namun juga mendorong perusahaan-perusahaan baik swasta maupun BUMN untuk membantu dan berperan aktif mendukung dengan cara mensponsori klub-klub di nasional,” harapnya.

Saat SFC melawat ke stadion Kanjuruhan Malang guna melakoni laga di putaran grup B Piala Presiden, manajemen PT SOM juga melihat bagaimana Arema Cronus mendapat dukungan tidak hanya dari perusahaan besar, tapi juga industri UKM.

“Untuk di Palembang rasanya sulit karena mereka pun pasti terkena imbas dari krisis, tapi sebenarnya Arema punya modal lain yakni fanatisme besar dari suporternya yang selalu memenuhi stadion saat laga digelar. Hal yang sama kami juga harapkan bisa diikuti oleh pecinta SFC saat berlaga di stadion Gelora Sriwijaya,” tutur Robert Heri.

Baca Juga:

Statistik Sriwijaya FC di Fase Grup Piala Presiden

2 Pilar Absen, Sriwijaya FC Darurat Gelandang Bertahan

Mampukah Trio BMW Sriwijaya FC Meledak di Perempat Final?