Nostalgia: Ellyas Pical, Juara Dunia Tinju dari Saparua

oleh Erwin Fitriansyah diperbarui 04 Feb 2016, 13:35 WIB
Ellyas Pical, juara dunia tinju pertama yang dimiliki Indonesia.

Bola.com, Jakarta - Petinju Indonesia, Daud Yordan, akan mempertahankan gelar juara tinju kelas ringan (62,1 kg) WBO Asia Pasifik dan Afrika menghadapi lawan asal Jepang, Yoshitaka Kato, di Balai Sarbini, Jakarta, Jumat (5/2/2016). Jauh sebelum Daud naik ring, Indonesia pernah memiliki juara dunia tinju pertama, yaitu Ellyas Pical, petinju asal Saparua, Maluku.

Baca Juga

Advertisement

Ellyas Pical menjadi juara dunia setelah merebut gelar juara dunia kelas bantam junior IBF dari petinju Korsel, Ju Do-chun. Elly, sapaan akrabnya, menang KO atas lawannya dalam pertarungan yang digelar pada 3 Mei 1985 di Istora Senayan, Jakarta. Ketika menjadi juara dunia, Elly berusia 25 tahun.

Sebelum Elly, ada petinju Indonesia yang berusaha merebut gelar juara dunia, tapi gagal. Pada 1981, Thomas Americo kalah angka dari petinju AS, Saoul Mamby, dalam dalam upayanya merebut gelar juara dunia super ringan WBC.

Tak heran saat Elly sukses mengkanvaskan Chun dan dinyatakan menang KO, seluruh Indonesia bergembira. Untuk kali pertama Indonesia memiliki juara dunia tinju.

Sebagian masa kecil Elly dihabiskan dengan menjadi penyelam pencari mutiara di laut. Akibat kegiatan tersebut, pendengaran Elly terganggu.

Pada umur 13 tahun, ia mulai berlatih tinju secara sembunyi-sembunyi karena dilarang orangtuanya. Meski pada awal kariernya sempat dilarang, orangtua Elly akhirnya memberikan dukungan. Sang ibu, yang dikenal dengan nama mama Anna, setia menyaksikan Elly kala bertarung pada beberapa pertandingan penting.

Elly adalah petinju kidal. Pukulan mematikannya adalah pukulan hook dan upper cut kiri. Ampuhnya pukulan tangan kiri itu membuat Elly dijuluki The Exocet, merujuk pada nama rudal andalan Inggris yang jadi senjata di perang Malvinas 1982 melawan Argentina.

Pria kelahiran 24 Maret 1960 itu memulai karier tinju profesionalnya di kelas bantam junior pada 1983. Gelar juara OPBF diraih Elly setelah menang angka atas petinju Korsel, Chung Hi-yung, dalam partai yang digelar di Seoul pada 19 Mei 1984.

2 dari 2 halaman

2

Ellyas Pical, kembali naik ring dalam partai ekshibisi sebelum pertandingan Daud Yordan vs Yoshitaka Kato. (Bola.com/Vitalis Yogi)

Setelah itu, Elly mencapai puncak karier pada 1985 ketika menang atas Ju Do-chun dan menjadi juara dunia kelas bantam junior IBF di Jakarta. Laga itu disiarkan langsung oleh TVRI ke seluruh negeri dan dikemas dengan cukup menarik oleh promotor flamboyan, Boy Bolang. Efeknya, ketika Elly berhasil menjadi juara dunia, euforia menyebar ke seluruh Indonesia.

Elly sempat mempertahankan gelar melawan petinju Australia, Wayne Mulholland, pada Agustus 1985. Namun, ia kehilangan gelar tersebut ketika dinyatakan kalah angka dari petinju Republik Dominika, Cesar Polanco.

Dalam pertarungan ulang melawan Polanco pada 5 Juli 1986 di Jakarta, Elly merampas gelar tersebut lewat kemenangan KO yang meyakinkan. Berikutnya, ia mempertahankan gelar lawan petinju Korsel, Lee Dong-chun.

Salah satu pertarungan paling heroik dilakoni Elly kala menantang Khaosai Galaxy asal Thailand yang belum pernah kalah. Duel ini adalah laga unifikasi gelar karena Khaosai adalah juara dunia kelas terbang WBA.

Duel Elly vs Khaosai ini berlangsung di Jakarta pada 1987. Dalam pertarungan yang direncanakan selama 15 ronde ini Elly tampil habis-habisan. Berkali-kali ia menggempur Khaosai, namun sang lawan tetap bertahan.

Pil pahit harus ditelan Elly karena pada ronde ke-14, wasit menghentikan pertarungan dan memberikan kemenangan TKO untuk Khaosai. Kekalahan ini membuat Elly kehilangan gelar.

Elly sempat mengalami depresi sebelum akhirnya bangkit dan merebut gelar juara dunia kelas bantam junior IBF dari Tai Ill-chang (Korsel). Sabuk juara itu sempat bertahan selama dua tahun hingga akhirnya direbut petinju Kolombia, Juan Polo Perez, dalam laga yang digelar di AS pada 1989.

Setelah kekalahan itu, ayah dua anak itu sempat beberapa kali naik ring dalam partai non gelar sebelum akhirnya benar-benar pensiun pada 1993. Saat memutuskan gantung sarung tinju, rekor bertanding Elly adalah 26 kali pertarungan. Ia menang 20 kali, 11 diantaranya dengan KO, lima kali kalah, dan satu kali imbang.

Menjelang perebutan gelar juara yang dilakoni Daud Yordan, di usianya yang mencapai 55 tahun, Elly kembali naik ring. Kali ini dalam partai lawan ekshibisi sebanyak dua ronde melawan Feras Taborat.

“Saya ingin memotivasi petinju-petinju muda, termasuk Daud, supaya lebih bersemangat lagi,” ucap Ellyas Pical, sang juara dunia tinju pertama yang pernah dimiliki Indonesia.