Ducati dan Kisah Kegagalan Bintang-bintang MotoGP

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 21 Apr 2016, 20:15 WIB
Kisah Ducati di ajang MotoGP lebih banyak didominasi cerita kegagalan dibanding keberhasilan. (Bola.com/Samsul Hadi)

Bola.com, Jakarta - Keputusan pebalap Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo, menerima pinangan Ducati sebenarnya bukan hal mengejutkan. Rumor tentang kesepakatan kedua kubu sudah mencuat sejak beberapa pekan lalu.

Namun, tetap saja langkah Lorenzo meninggalkan Yamaha yang punya motor berkualitas mumpuni menimbulkan berbagai pertanyaan. Apa motif utama pebalap berjuluk X-Fuera itu mantap hijrah ke Ducati? Apalagi, rekam jejak Ducati di ajang MotoGP  kurang begitu mengesankan.

Advertisement

Lorenzo bakal menghadapi tantangan besar untuk menjadi juara dunia bersama tim barunya. Tercatat, hanya Casey Stoner yang sukses meraih gelar bergengsi tersebut di Ducati pada 2007. Banyak bintang MotoGP lainnya gagal total, termasuk Valentino Rossi. Sejak tim asal Bologna, Italia, tersebut terjun ke kancah MotoGP pada 2003, lebih banyak kegagalan yang menghiasi perjalanan mereka dibanding cerita kesuksesan.  

Dua pebalap yang pertama digaet untuk menggeber Desmosedici adalah Loris Capirossi dan Troy Bayliss. Debut mereka cukup mengesankan karena Capirex, julukan Capirossi, berhasil naik podium ketiga, di Sirkuit Suzuka, Jepang. Sisa musim tersebut berlanjut di jalur yang benar dan pebalap Italia itu mencicipi kemenangan perdana di Catalunya. Capirossi menyudahi musim itu di peringkat keempat, dengan total enam kali naik podium. Adapun Bayliss berada di urutan keenam.

Tahun berikutnya, Ducati masih mempertahankan duo Capirossi dan Bayliss. Namun, situasi tak bertambah baik. Prestasi Ducati malah menurun. Capirossi menutup musim tersebut di urutan kesembilan, sedangkan Bayliss terjun bebas ke posisi ke-14.

Musim 2006 jadi momen saat Capirossi paling dekat dengan kans menjadi juara dunia bersama Ducati. Namun, dia malah terlibat crash dengan rekan setimnya, Sete Gibernau, di Catalunya. Kesempatan juara dunia langsung melayang. Meski demikian, Capirossi masih mampu finis di peringkat ketiga pada akhir musim, dengan tujuh kali naik podium. Bagi Gibernau, musim tersebut benar-benar sebuah bencana karena hanya finis di posisi ke-13 dan tak berhasil naik podium sekali pun!

Gibernau hanya bertahan semusim bersama Ducati. Pada musim selanjutnya dia digantikan oleh Casey Stoner. Ini menjadi musim tersukses bagi tim asal Italia tesebut. Stoner sukses jadi juara dunia. Keberhasilan Stoner tak lepas dari bantuan ban Bridgestone yang performanya lebih baik dibanding Michelin yang saat itu dipakai oleh Honda dan Yamaha. Total, Stoner naik podium sebanyak 13 kali, 10 di antaranya jadi juara.

Apa rahasia Stoner menaklukkan Desmosedici? Dia mampu berakselerasi dan mengerem, sembari memindahkan berat motor dan mengontrol traksi motor. Hal tersebut gagal dilakukan pebalap-pebalap lainnya yang pernah menunggangi Desmosedici.

Pada tahun berikutnya, Stoner kehilangan titelnya yang direbut oleh Valentino Rossi. The Doctor juga sudah menggunakan Bridgestone, sama seperti Stoner. Kali ini Stoner harus puas berada di urutan kedua klasemen akhir. Namun, nasib Stoner benar-benar berbanding terbalik dengan rekan setimnya, Marco Melandri.

Kiprah Ducati 2003-2016: Didominasi Kegagalan (Bola.com/Samsul Hadi)

Pebalap Italia tersebut mengalami krisis akut sejak tes pramusim di Valencia. Masalah Melandri berlanjut sepanjang musim. Imbasnya, dia hanya mampu finis di peringkat ke-17 gara-gara gagal menaklukkan dan mengendalikan Desmosedici.

Kegagalan Melandri harus dibayar mahal. Musim berikutnya dia digantikan oleh Nicky Hayden. Namun selama lima musim di Ducati, pria Amerika Serikat itu lebih banyak merasakan kesedihan daripada keberhasilan. Secara berturut-turut dia hanya finis ke-13, 7, 8, 9, dan 9, selama lima musim di tim yang identik dengan warna merah tersebut.

Kegagalan Paling Menyedot Perhatian 

Kisah kegagalan di Ducati yang paling menyedot perhatian adalah momen dua musim Valentino Rossi pada 2011 dan 2012. The Doctor datang dengan mengusung misi menjadi juara dunia dengan tiga pabrikan berbeda. Sebelumnya, pebalap yang identik dengan nomor 46 tersebut telah menggenggam gelar juara dunia bersama Honda dan Yamaha. Tapi, misi itu gagal total.

Kehebatan Rossi seolah menguap ketika menunggangi Desmosedici. Pria Italia itu harus mendapati kenyataan finis ke-6 pada musim 2011 dan musim selanjutnya melorot ke urutan ke-7. Total, Rossi hanya tiga kali naik podium. Dia pun tanpa ragu menolak perpanjangan kontrak dari Ducati meskipun disodori cek kosong yang angkanya boleh diisi sesuka hati. Rossi dengan cepat menyadari tak akan pernah bisa sukses bersama Ducati.

Pengganti Rossi adalah Andrea Dovizioso, yang masih berlanjut hingga musim ini. Performa Dovi sepanjang musim ini cukup menjanjikan jika saja tak dirusak sejumlah insiden. Dia gagal merampungkan balapan di Moto Argentina karena motornya diseruduk oleh rekan setimnya, Andrea Iannone, sedangkan di MotoGP Austin dia jatuh setelah diterjang Dani Pedrosa.

Keterpurukan ala Valentino Rossi di Ducati juga menimpa Cal Crutchlow pada 2014. Pebalap Inggris tersebut datang bermodal beberapa kali podium bersama tim Tech 3 Yamaha. Namun, performanya langsung turun drastis bersama Desmosedici GP 14. Crutchlow terpuruk di urutan ke-13 dan musim berikutnya memilih hengkang ke tim satelit Honda Cacchinello.

Pada 2015, kisah di Ducati mulai berubah. Desmosedici baru yang dirancang oleh Gigi Dall’Igna mulai mirip dengan Honda, dilihat dari ukuran dan kemampuan melakukan manuver, tanpa kehilangan power. Dovizioso dan Andrea Iannone tampak nyaman menikmati petualangan bersama Desmosedici musim lalu dan pada awal musim ini. Belum ada kepastian, siapakah di antara dua pebalap tersebut yang bakal menjadi partner Jorge Lorenzo di Ducati.

Pertanyaan terbesar yang mencuat sekarang adalah: mampukah Lorenzo mempersembahkan gelar juara dunia ke-2 untuk Ducati? Jika tidak, dia bakal menambah panjang daftar bintang MotoGP yang gagal bersinar bersama tim yang bermarkas di Bologna tersebut.