Fachri Husaini: Saatnya Berpisah dengan Sepak Bola Indonesia

oleh Gatot Susetyo diperbarui 27 Mei 2016, 09:00 WIB
Fachri Husaini mencurahkan isi hatinya kepada bola.com pasca menolak jabatan pelatih Timnas U-19 yang dibebankan PSSI kepadanya. (Bola.com/Rudi Riana)

Bola.com, Bontang - Ketika banyak pelatih bercita-cita ingin mengabdikan keahliannya menangani Timnas Indonesia, Fachri Husaini memutuskan menolak penunjukan PSSI kepada dirinya sebagai arsitek Timnas U-19 proyeksi tampil di kualifikasi Piala AFF 2016 di Vietnam.

Fachri Husaini, yang kini telah berusia 50 tahun dan tercatat sebagai karyawan di Pabrik Pupuk Bontang Kaltim, harus memilih jalannya hidupnya: mengabdi kepada bangsa dan negara lewat sepak bola atau fokus membina karier di BUMN serta membangun keluarga yang sakinah.

Advertisement

Berikut wawancara bola.com dengan mantan gelandang Timnas Indonesia era 1990-an ini terkait penolakan jabatan sebagai pelatih Timnas U-19 dan dinamika sepak bola Indonesia terkini.

Apa alasan Anda menolak penunjukan kembali sebagai pelatih Timnas U-19?
Saya ingin konsentrasi bekerja di PKT Bontang dan keluarga. Sekarang, saatnya saya harus memilih sepak bola yang telah membesarkan nama saya atau berkarya di perusahaan dan keluarga.

Sejak saya masuk di PKT Bontang pada 1998 atau sembilan tahun bekerja di sini, separuhnya habis untuk sepak bola. Baik saat masih jadi pemain atau pelatih. Termasuk beberapa kali ketika menjadi asisten pelatih timnas yang harus meninggalkan pekerjaan kantor.

Jika fokus di perusahaan dan keluarga, apakah Anda total meninggalkan sepak bola?
Tampaknya saya harus berpisah dan mulai memikirkan karier di kantor. Sekarang saya menjabat sebagai superintendent atau setingkat Kabag Sekretaris di PKT Bontang. Seharusnya dengan masa kerja selama 18 tahun, seharusnya jabatan saya sudah di atasnya (superintendent).

Saya tidak menyesali keputusan yang telah berlalu. Jalan hidup yang pernah saya jalani juga sebuah pilihan hidup karena saya cinta sepak bola. Sekarang, penolakan jadi pelatih timnas juga pilihan hidup. Anak-anak saya mulai dewasa dan butuh bimbingan secara fisik maupun akidah Islam.

Apakah ada alasan lainnya?
Kondisi sepak bola nasional yang belum kondusif juga jadi pertimbangan. Di usia saya sekarang yang masuk 50 tahun, sepertiganya sudah saya abdikan untuk bangsa dan negara. Mulai jadi pemain hingga pelatih di timnas.

Adakah kekecewaan yang Anda rasakan dengan sepak bola kita?
Saya tak bisa membohongi diri sendiri. Saya kecewa dengan situasi sepak bola saat ini. Saya dan pelaku sepak bola lainnya sebagai korban. Ketika saya ingin mengabdi kepada negara sebagai pelatih Timnas U-16 dan Timnas U-19 dan tim itu tinggal bertanding, tiba-tiba dibubarkan akibat kisruh itu. Kegagalan itu ada peran negara di dalamnya.

Saya kira cukup sudah pengabdian saya untuk negara ini lewat sepak bola. Berikutnya saya mengabdi kepada negara sebagai karyawan di PKT Bontang. Saatnya saya memikirkan diri sendiri dan keluarga, meski ini terdengar egois.

Jika kondisi sepak bola normal kembali, apakah Anda masih ingin terlibat?
Cukup sudah sampai di sini. Biarlah teman-teman lain dan pelatih muda yang melanjutkan prestasi sepak bola kita. Masih banyak pelatih yang lebih hebat dari saya. Indonesia sudah saatnya regenerasi, mulai pemain hingga pelatih. Saya tetap berharap dan berdoa sepak bola kita berjaya kembali seperti dulu lagi. 

 

Berita Terkait