3 Sejarah Baru yang Mungkin Diukir Tim Bulutangkis di Olimpiade

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 16 Jul 2016, 11:50 WIB
Tim bulutangkis Indonesia berpeluang mengukir 3 sejarah baru di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Jakarta - Tim bulutangkis mengusung misi ganda pada perhelatan Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Selain berjuang mengembalikan tradisi medali emas Indonesia yang terhenti pada Olimpiade London 2012, para pebulutangkis juga punya kesempatan mengukir sejarah baru. 

Advertisement

Seperti diketahui, pada Olimpiade kali ini Indonesia mengirimkan 10 pebulutangkis terbaik yang bakal berjuang memberikan hasil maksimal di Brasil. Wakil Indonesia terdiri atas dua ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto, ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, tunggal putra Tommy Sugiarto, serta tunggal putri Linda Wenifanetri. 

Mereka berangkat dengan memikul tanggung jawab besar. Sejak dipertandingkan pada Olimpiade Barcelona 1992, bulutangkis selalu menjadi tumpuan Indonesia di ajang Olimpiade. Medali emas selalu dipersembahkan cabang ini, namun akhirnya terhenti di Olimpiade London. Tak heran, ambisi untuk kembali meraih emas terpancar kuat.  

Menariknya, Indonesia juga berpeluang mencetak tiga sejarah baru sekaligus pada ajang Olimpiade Rio 2016! Apakah itu? 

Berikut ini 3 sejarah baru yang bisa dibukukan tim bulutangkis di Olimpiade Rio, seperti dilansir situs PBSI, Jumat (15/7/2016): 

1. Hendra Setiawan dan 2 Medali Emas 

Hendra Setiawan berpeluang menjadi pemain ganda putra Indonesia yang bisa meraih dua medali emas olimpiade. Pada Olimpiade Beijing 2008, Hendra mempersembahkan satu-satunya medali emas untuk Indonesia bersama Markis Kido.

Hendra kemudian tak berpartisipasi di Olimpiade London 2012. Kini, bersama Mohammad Ahsan, Hendra menjadi salah satu pasangan ganda putra yang paling ditakuti di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Menduduki peringkat kedua dunia, Hendra dan Ahsan punya kans untuk memboyong emas. 

Salah satu saingan terberat Hendra/Ahsan pada Olimpiade Rio adalah ganda putra nomor satu dunia asal Korea Selatan, Lee Yong-dae/Yoo Yeong-seong. Apalagi penampilan pasangan Korea itu juga lebih konsisten dibanding Hendra/Ahsan. Pasangan Hendra/Ahsan harus benar-benar cermat dan waspada serta menyiapkan strategi brilian untuk menyingkirkan Lee Yong-dae/Yoo Yeong-seong serta rival-rival yang lain.

2. Medali Emas Pertama Ganda Campuran  

Meskipun punya catatan cemerlang di pentas bulutangkis internasional, sektor ganda campuran Indonesia yang dipimpin Richard Mainaky, belum pernah menyumbangkan medali emas olimpiade. Tri Kusharjanto/Minarti Timur hanya mendapat medali perak setelah terhenti di final Olimpiade Sydney 2000. Delapan tahun kemudian, Nova Widianto/Liliyana Natsir juga belum berhasil menggondol emas setelah ditaklukkan di final Olimpiade Beijing 2008 oleh wakil Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung.

Kali ini, kans ganda campuran Indonesia menyudahi penantian panjang meraih medali emas Olimpiade terbuka lebar. Indonesia berhasil meloloskan dua ganda sekaligus, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto. Keduanya punya kualitas mumpuni untuk bersaing meraih emas Olimpiade. 

Meskipun belakangan performa Tontowi/Liliyani kurang stabil, mereka punya modal pengalaman matang untuk meraih medali emas. Apalagi Butet, panggilan Liliyana, pernah mencicipi ketatnya persaingan di Olimpiade bersama Nova Widianto. Sementara itu, Praveen/Debby berpotensi menciptakan kejutan, seperti yang mereka lakukan saat menjuarai All England 2016. Kedua pasangan bisa bahu-membahu memberikan yang terbaik untuk Indonesia, khususnya mempersembahkan emas pertama dari nomor ganda campuran. 

2 dari 2 halaman

1

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto berpeluang memberikan medali emas pertama Olimpiade dari ganda campuran. (PBSI)

3. Medali Pertama Ganda Putri 

Rekor ketiga diharapkan dapat terpecahkan oleh pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Selama bulutangkis dimainkan di olimpiade sejak 1992 di Barcelona, sektor ganda putri belum berhasil meraih medali sama sekali.

“Ganda putri memang belum pernah meraih medali olimpiade, ini jadi motivasi tersendiri buat kami. Tekad kami ingin meraih medali pertama ganda putri di olimpiade, kami tidak mau membicarakan warna medalinya, karena kalau kami tekankan emas emas emas, akan memberi pressure kepada atlet. Namun kami tetap membidik hasil terbaik,” jelas Eng Hian, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI.

“Karantina ini menjadi penyegaran buat atlet, pekan ini latihan fisik untuk daya tahan memang ditingkatkan, peak-nya paling tinggi di minggu ini. Mulai pekan depan, kami fokus di teknik, strategi serta taktik,” tambah Eng, peraih medali perunggu ganda putra di Olimpiade Athena 2004 bersama Flandy Limpele ini.

“Greysia/Nitya bukan unggulan pertama atau kedua, namun kemampuan mereka tak kalah dari pasangan yang peringkatnya di atas mereka. Seharusnya beban ada pada pasangan yang lebih diunggulkan, Greysia/Nitya bisa tampil lebih lepas,” kata Christian Hadinata, legenda bulutangkis Indonesia.

Kemenangan di Singapura Terbuka Super Series 2016, Korea Terbuka Super Series 2015, dan medali emas Asian Games Incheon 2014 menunjukkan kekuatan Greysia/Nitya seimbang dengan lawan-lawan mereka yang lebih dijagokan.