Ricky Nelson, Tim Muda Borneo FC dan Final Piala Presiden 2017

oleh Benediktus Gerendo Pradigdo diperbarui 10 Mar 2017, 09:45 WIB
Pelatih Pusamania Borneo FC, Ricky Nelson. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun/Adreanus Titus)

Bola.com, Bogor - Keberhasilan Pusamania Borneo FC menembus final Piala Presiden 2017 turut mengangkat nama sang pelatih, Ricky Nelson, menjadi salah satu pelatih yang disorot saat ini. Pelatih kelahiran Kupang, 25 Juli 1980 itu, bicara banyak hal kepada Bola.com mengenai banyak hal bersama tim berjulukan Pesut Etam itu.

Siapa yang menyangka Pusamania Borneo FC akhirnya menjadi salah satu dari dua tim terbaik yang tampil di final Piala Presiden 2017? Lolos dari Grup 4 Piala Presiden dengan status sebagai juara grup bermodalkan satu kemenangan dan dua hasil imbang, tak banyak yang menyangka klub asal Samarinda itu kini akan berlaga di partai puncak Piala Presiden 2017 yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, Minggu (12/3/2017).

Advertisement

Borneo FC menjadi kejutan di Piala Presiden 2017 karena pada awalnya tak banyak yang yakin dengan komposisi tim yang hanya menurunkan pemain lapis kedua. Namun, di bawah asuhan pelatih muda bernama Ricky Nelson, Borneo FC justru membuat Madura United dan Persib Bandung yang digadang-gadang bisa menjadi juara harus mengakhiri kiperah mereka di perempat final dan semifinal Piala Presiden 2017.

Lalu siapa sebenarnya sosok Ricky Nelson yang berhasil membawa tim muda Pusamania Borneo FC ini membuat kejutan hingga akan tampil di pertandingan puncak Piala Presiden 2017? Bola.com berkesempatan untuk melakukan wawancara langsung dengan pelatih yang selalu tampil rapi dan modis di pinggir lapangan itu.

Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana cerita awal Anda bisa menjadi pelatih Pusamania Borneo FC di Piala Presiden 2017?

Jadi sebenarnya PBFC ini bukan klub yang saya tuju. Sebelumnya saya melamar ke beberapa klub lain. Tapi ada keinginan dari Presiden PBFC Nabil Husein untuk membuat sebuah akademi yang tertata dan rapi. Ia kemudian menghubungi saya dan bicara soal visi dan misinya. Bagaimana PBFC ini ingin membangun anak muda karena memang hasil yang didapatkan dari U-21 tahun lalu, yaitu lolos ke semifinal. Banyak anak muda yang perlu dikaryakan dan ditingkatkan. Ia menghubungi saya dan bertemu di Jakarta. Kami mencapai kesepakatan dan saya diberi kesempatan.

Kebetulan di Piala Presiden tujuan awalnya memberikan kesempatan kepada pemain U-21 supaya lebih banyak berkarya. Tapi sejauh ini karena seluruh tim berjalan dengan baik sesuai rencana, anak-anak bisa mengerti, ya kami cukup yakin dengan perjalanan kami sejauh ini dan mereka membuat prestasi cukup luar biasa.

Apakah Anda menyangka Borneo FC bisa sampai di final Piala Presiden 2017?

Sebenarnya kami sudah siap. Kami sudah merencanakan untuk tujuh kali bermain, dan tujuh kali bermain hitungan kami itu termasuk pertandingan final. Jadi memang sudah kami persiapkan.

Jadi kalau ada orang yang bilang kebetulan Borneo FC bisa sampai final Piala Presiden 2017, percaya tidak percaya memang bisa terjadi dengan semua orang. Yang terpenting adalah bagaimana kami mempersiapkannya dengan baik. Semua berjalan sesuai rencana kami. Pemain sangat mampu memahami apa yang saya harapkan dan itu adalah kolaborasi yang sangat luar biasa dari tim pelatih dan pemain.

2 dari 2 halaman

Dari Agen Pemain Menjadi Pelatih

Pelatih Pusamania Borneo FC, Ricky Nelson. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Anda sempat menjadi agen pemain sebelum menjadi pelatih. Apa alasannya kemudian berhenti menjadi agen pemain dan memilih untuk melatih klub sepak bola?

Pertama, soal agen pemain itu bicara soal integritas. Saya tidak terlalu nyaman dengan integritas itu. Agen pemain itu ada sisi gelapnya. Misalnya ada perjanjian yang seharusnya sudah oke, komitmen pun seharusnya sudah oke, tapi tiba-tiba berubah. Ada klub yang sudah oke, kemudian juga bisa berubah. Lalu ada agen-agen pemain yang bermain belakang dengan pengurus klub. Hal itu yang membuat saya merasa tidak cocok dengan faktor integritas. Saya memegang komitmen, kalau sudah sepakat ya harus konsisten.

Itu semua yang membuat saya berhenti. Saya berpikir untuk berhenti dan akhirnya memang memutuskan seperti itu dan harus memilih. Akhirnya saya memilih untuk menjadi pelatih.

Siapa pelatih yang menjadi acuan bagi Anda?

Kalau pelatih asing dari dulu saya sangat suka pelatih asal Italia. Dulu saya suka Fabio Capello, kalau sekarang saya tertarik dengan Antonio Conte. Hal yang membuat mereka spesial adalah suka mengubah formasi dan taktik di tengah pertandingan. Itu yang membuat saya sangat tertarik karena saya merasa sepak bola itu memang membutuhkan taktik.

Kalau pelatih lokal sebenarnya saya belajar banyak dari Coach Iwan Setiawan. Ia yang menjadi mentor saya sejak masih di Villa 2000. Banyak sekali saya mendapatkan hal positif dari beliau dan bisa dipraktikkan. Apa yang saya dapatkan dari luar bisa saya kombinasikan dan sejauh ini berjalan dengan lancar.

Siapa pemain di tim Anda yang benar-benar menarik perhatian?

Kunihiro Yamashita. Dia yang bisa menerjemahkan apa yang saya mau di lini belakang dan juga bisa mengatur pertahanan.

Lalu ada Asri Akbar. Banyak yang melihat Asri Akbar pemain yang keras dan bermain dengan taktis. Sampai sejauh ini saya bisa mengubah cara bermainnya dan ia bisa mengikutinya. Saya sangat respek dengan hal itu karena ia pemain senior dan mau ikut apa yang dikatakan seorang pelatih muda.

Saya respek dengan semua pemain, tapi dua pemain ini yang membuat tim ini benar-benar bisa berjalan. Peran kiper Wawan Hendrawan juga penting. Wawan adalah kiper yang hilang selama dua tahun dan akhirnya ketika bersama kami, saya tanamkan motivasi, saya kasih pemahaman, dia mau berlatih keras sehingga semua orang bisa melihat ia adalah salah satu pemain kunci kami.

Anda selalu tampil modis di pinggir lapangan, ada cerita menarik sehingga Anda berpenampilan seperti itu?

Saya harus cerita sedikit tentang bagaimana saya dihina. Pertama saya dibilang sales, kedua saya dibilang manajer hotel. Sebenarnya bagus-bagus ya. Yang pertama alasan saya adalah respek. Ketika kita respek dengan profesi kita sebagai pelatih, orang lain akan respek terhadap kita.

Ada ritual khusus secara pribadi sebelum tim bertanding?

Ritual khusus tidak ada, saya hanya berdoa saja. Keluar dari kamar saya hanya berdoa dan meyakinkan diri saja.