Gagal di Piala Sudirman, PBSI Dapat Masukan Positif dari Menpora

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 06 Jun 2017, 13:51 WIB
Sekretaris Jenderal PBSI, Achmad Budiharto, menilai wajar jika Menpora memanggil PBSI terkait kegagalan di Piala Sudirman. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal PBSI, Achmad Budiharto, mengaku tak masalah dengan pemanggilan yang dilakukan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, terkait kegagalan tim bulutangkis Indonesia di Piala Sudirman 2017. Menurut Budiharto, PBSI justru telah mendapatkan masukan yang positif dari perwakilan pemerintah tersebut.

Advertisement

Seperti diberitakan sebelumnya, Menpora memanggil PBSI dan menggelar rapat untuk membahas kegagalan tim bulutangkis Indonesia di Piala Sudirman 2017, Senin (5/6/2017) siang, di Kantor Kemenpora. Di ajang itu, Mohammad Ahsan dkk mendapatkan hasil terburuk sepanjang keikutsertaan mereka.

Pasukan Cipayung tersingkir di babak penyisihan karena kalah head to head poin karena mengalami kekalahan 1-4 dari India dan hanya meraih kemenangan 3-2 atas Denmark. 

"Secara prinsip tidak ada masalah karena sudah sewajarnya Menpora sebagai perwakilan pemerintah ingin mendapatkan penjelasan soal kegagalan di Piala Sudirman 2017," kata Achmad Budiharto kepada Bola.com di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (6/6/2017).

"Kami sudah menjelaskan secara rinci beberapa hal yang menjadi kendala dan evaluasi apa yang sudah dipersiapkan. Kami mendapatkan beberapa masukan yang sifatkan konstruktif berupa perbaikan bulutangkis ke depannya," tambahnya.

Rapat tersebut kemudian menghasilkan 9 poin penting. Di antaranya menyangkut evaluasi menuju turnamen selanjutnya serta percepatan regenerasi atlet. Seperti diketahui, Indonesia akan menjadi tuan rumah di Indonesia Open 2017 yang akan digelar pada 12-18 Juni 2017 di Jakarta Convention Center (JCC).

"Saya kira Menpora sangat paham kondisi pemain-pemain Indonesia di bawah naungan PBSI. Kami sudah menjelaskan secara rinci posisi Indonesia ada di mana dan apa yang harus dilakukan," ujar Budiharto.

Berita Terkait