Eks Persib Ini Hampir Jadi Kiper Timor Leste di Piala AFF 2016

oleh Gatot Susetyo diperbarui 23 Agu 2017, 10:15 WIB
Mantan kiper Persib, Dedi Haryanto, yang memperkuat klub As Pontaleste di liga Timor Leste pada musim 2016-2017. (Bola.com/Robby Firly)

Bola.com, Tuban - Dedi Haryanto, mantan kiper Persib Bandung pada 2009, punya kisah menarik selama berkiprah di Liga Amadora, kompetisi kasta tertinggi di Timor Leste. Pada 2016-2017, Dedi Haryanto bergabung dengan klub As Pontaleste, peserta Liga Amadora.

Pada tahun pertama menginjakkan kaki di Timor Leste, kiper yang kini menjaga gawang klub Liga 2 Persatu Tuban ini sempat ditawari federasi sepak bola Timor Leste untuk menjadi pemain timnas senior yang akan berkiprah di kualifikasi Piala AFF 2016.

"Tapi, saya menolak karena saya memikirkan masa depan keluarga. Saya sudah punya istri dan dua anak. Saya pikir sangat rumit bila saya terima tawaran federasi sepak bola Timor Leste tersebut. Saya harus mengurus alih kewarganegaraan dari Indonesia ke Timor Leste. Belum lagi memboyong keluarga dan adaptasi dengan lingkungan baru di sana," ungkap Dedi Haryanto.

Advertisement

Padahal, iming-iming yang ditawarkan federasi sepak bola Timor Leste kepada Dedi Haryanto cukup menggoda. Meski, Dedi tak mau secara transparan mengungkap fasilitas yang akan diterimanya kala itu.

"Ya, namanya orang dilamar. Pasti yang melamar menjanjikan sesuatu yang bagus untuk saya. Tapi, saya tak usah sebut apa saja iming-iming itu. Yang jelas saya dapat fasilitas bagus, sesuatu yang mungkin tak saya dapat di Indonesia," tutur Dedi.

Mantan kiper Persiba Balikpapan di putaran pertama Liga 1 2017bini juga mengakui gaji dan kontraknya selama membela klub As Pontaleste di atas rata-rata klub-klub di Indonesia.

"Apalagi pembayaran gaji uangnya pakai dolar amerika. Jika dikonversi ke rupiah akan tetap lebih tinggi. Dua musim main di Liga Amadora, saya dapat pengalaman berharga," ucapnya.

Sebenarnya Dedi Haryanto betah bermain di Liga Amadora jika finansial yang jadi tujuan. Namun, akhirnya dia memilih pulang ke Indonesia.

"Awal tiba di Timor Leste, faktor bahasa jadi kendala. Tapi, akhirnya saya bisa bahasa Tetun dan Portugal. Soal cuaca juga mirip Indonesia. Yang sulit adaptasi makanannya," jelasnya.