Benarkah Ada Konspirasi Mengacaukan Liga 1?

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 10 Nov 2017, 07:30 WIB
Aksi pemain Mitra Kukar, Mohamed Sissoko (kanan) menghalau bola dari kejaran pemain Bhayangkara FC, Ilham Udin Armain pada lanjutan Liga 1 2017 di Stadion Patriot, Bekasi, Jumat (21/7/2017). Bhayangkara FC menang 4-1. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Surabaya - Drama kontroversial tersaji di pengujung kompetisi Liga 1 2017. Banyak kejadian anomali yang mewarnai akhir pergelaran kompetisi kasta tertinggi. Mulai dari runtuhnya keperkasaan PSM Makassar menyusul kekalahan 0-1 dari Bali United di pekan ke-33, serta kekalahan 1-3 Madura United dari Bhayangkara FC.

Beberapa kejadian di kedua laga ini menyisakan kisah suram di kompetisi tersebut. Namun pengamat sepak bola asal Jatim, Ferryl Raymond Hattu, melihat semua persoalan yang terjadi menjelang akhir kompetisi ini ia curigai sebagai konspirasi besar yang sengaja dibuat untuk mengacaukan situasi sepak bola nasional.

Advertisement

"Saya tidak tahu pastinya, tapi ada indikasi yang mengarah pada kesengajaan. Karena sejak pertengahan kompetisi saya mendengar rumor terkait upaya beberapa klub untuk mengacaukan kompetisi supaya kompetisi di tahun dianggap tidak sah. Lantas promosi dan degradasi ditiadakan," ujar Ferryl yang notabene pilar Timnas Indonesia saat memenangi gelar SEA Games 1991 itu.

Ia tak mau menuduh atau menyebutkan siapa yang membuat skenario seperti ini. Namun, ia menilai beberapa kejadian yang mewarnai kompetisi ini banyak kejanggalan. Salah satunya pada kasus Mitra Kukar kontra Bhayangkara FC.

Ferryl menyatakan, ada yang tidak beres dalam kasus Mitra Kukar yang dinyatakan kalah 0-3 karena dianggap memakai pemain tidak sah pada laga kontra Bhayangkara FC. Bukan hanya satu kasus itu saja, tapi juga beberapa kasus lain yang bisa memperburuk citra sepak bola Nasional.

"Kalau menyalahkan PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) juga tidak benar, tapi Mitra Kukar juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang patut disorot, kenapa harus ada kejadian semacam ini? Padahal sangat fatal, dan itu terbukti akhirnya jadi masalah," ujar Ferryl yang juga aktif di klub internal Persebaya Surabaya tersebut.

Sejak awal, peristiwa semacam ini seharusnya tidak terjadi jika semua pihak mau memperbaiki sepak bola Indonesia.

Apalagi operator kompetisi diisi orang-orang baru, dan semua tahu soal itu. Mustinya, kalau mau menyadari dan ada niatan memperbaiki diri, semua pihak tidak saling menyalahkan.

"Kalau mau mengkritik dan kasih masukan yang positif dan konstruktif, kalau ada yang kurang baik di kompetisi bukan malah berkonspirasi untuk menjatuhkan operator maupun PSSI.

Mestinya tidak perlu terjadi lantaran di PSSI ada Joko Driyono sebagai sosok pengalaman mengatur kompetisi seharusnya bisa memberikan arahan agar tidak ada masalah di kemudian hari," tuturnya.

Kalau memang ada upaya-upaya buruk seperti itu, menurutnya caranya sangat jahat. Apalagi Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, juga orang baru yang punya tekad besar untuk bersih-bersih. Ferryl Hattu merasa kasihan kepada Edy yang ia nilai sebagai orang yang tidak punya kepentingan tertentu masuk ke PSSI, namun harus menghadapi kenyataan pahit organisasi yang dipimpinnya berkasus.

Berita Terkait