Rapor Alfred Riedl di Timnas Lebih Mengkilap dibanding Luis Milla

oleh Ario Yosia diperbarui 21 Nov 2017, 07:01 WIB
Luis Milla_2 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Luis Milla didatangkan PSSI pada awal tahun 2017 untuk mengerek kualitas permainan Timnas Indonesia. Hal yang dinilai sulit dilakukan oleh pelatih sebelumnya, Alfred Riedl.

PSSI amat yakin Milla yang sempat membawa Timnas Spanyol U-21 juara Piala Eropa U-21 2011 silam lalu, di era kekinian lebih mumpuni dalam meramu area teknik dibanding Alfred, yang sudah dimakan usia.

Advertisement

Nyatanya, hingga pengujung tahun Milla terlihat masih terseok-seok menukangi Tim Merah-Putih. Ia gagal mencapai target yang dibebankan PSSI di dua ajang internasional, yakni: Kualifikasi Piala AFC U-23 2018 dan SEA Games 2017.

Demikian pula di level timnas senior. Skor-skor uji coba internasional Tim Garuda jeblok sepanjang tahun ini.

Pujian kepada Milla baru sebatas gaya bermain yang menghibur. Berbeda dengan era Alfred Riedl, di mana Timnas Indonesia cenderung bermain defensif mengandalkan serangan balik.

Milla yang besar di sepak bola Spanyol, mengandalkan gaya bermain dengan mengedepankan skill individu. Aroma permainan tiki-taka ala Barcelona tersaji di tim asuhannya. Sayangnya, pesona permainan ofensif tak berbanding lurus dengan prestasi.

Di sisi lain, style bermain Alfred Riedl dinilai ketinggalan zaman. Saat Piala AFF 2016, ia memainkan skema tradisional 4-4-2, yang sudah jarang dipakai di persaingan sepak bola internasional. Pakem ini populer di negaranya, Austria. Alfred amat katam benar.

Tapi bicara hasil, rapor mantan pelatih Timnas Vietnam tersebut lebih baik dibading penerusnya. Hanya menggeber persiapan kurang dari dua bulan, Timnas Indonesia yang absen di persaingan internasional gara-gara sanksi FIFA, menjelma menjadi kekuatan menakutkan di Piala AFF 2016.

Boaz Solossa dkk. jadi kuda hitam mengejutkan dengan lolos ke final. Timnas Indonesia gagal menjadi juara setelah kalah dari Thailand. Walau tetap ada kebanggaan saat bermain di kandang Tim Merah-Putih memecundangi sang raja sepak bola Asia Tenggara tersebut.

2 dari 4 halaman

Pilihan Pragmatis

Raut wajah bahagia Manahati Lestusen saat merayakan ulang tahun ke-23 dari rekannya sesama pemain Timnas Indonesia dan Offcial Tim di Hotel Grand Fourwings, Thailand. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bicara soal taktik permainan yang dikembangkannya, Alfred Riedl sempat berujar:

"Apa yang bisa saya lakukan dengan masa persiapan yang amat sebentar? Anda juga perlu tahu saya hanya bisa memilih dua pemain dari masing-masing klub karena mereka tak ingin terganggu di persaingan kompetisi. Ini yang bisa saya lakukan," ujar Alfred saat berbincang dengan Bola.com di sebuah hotel di Bogor jelang Piala AFF.

Alfred sejatinya juga tidak benar-benar kaku dengan taktik permainannya. Saat Timnas Indonesia terancam gagal lolos dari fase penyisihan Piala AFF 2016, ia mau lentur merubah pola main dari 4-4-2 menjadi 4-2-3-1.

Bicara soal ketidak leluasaan memilih pemain, Alfred bisa dibilang sukses menemukan komposisi tim yang solid. Ia bahkan bisa dibilang berani melakukan evolusi, dengan memasukkan nama-nama baru.

Bayu Pradana, Manahati Lestusen, Hansamu Yama, Evan Dimas, pemain muda yang dapat porsi besar di skuat Timnas Indonesia Piala AFF 2016. Tak ada lagi pemain uzur macam Cristian Gonzales, Firman Utina, atau Supardi, yang hampir 10 tahun terakhir jadi pelanggan timnas.

Bagaimana dengan Luis Milla?

Berbeda dengan Alfred, ia lebih punya keleluasaan memilih pemain. PSSI sampai membuat regulasi mewajibkan setiap klub memainkan tiga pemain U-23 agar sang nakhoda bisa leluasa membentuk fondasi Timnas Indonesia U-22.

"Sesi latihan yang dilakukan Luis Milla bermutu tinggi. Para pemain banyak disodori hal-hal baru. Hal ini belum ada sebelumnya," ujar Danurwindo, Direktur Teknik PSSI.

Walau Milla juga dihadapkan situasi kurang mengenakkan dengan kegagalan PSSI menyajikan uji coba berkelas jelang SEA Games. Timnas Indonesia U-22 bahkan gagal menggeber pelatnas di Spanyol gara-gara pendanaan.

Hasilnya, Timnas Indonesia U-22 harus puas menduduki posisi tiga besar, setelah kalah dari Thailand di fase semifinal. Usai SEA Games masih dielu-elukan publik sepak bola Tanah Air.

3 dari 4 halaman

Sebatas Sepak Bola Indah

Gelandang Timnas Indonesia, Evan Dimas, menggiring bola saat melawan Malaysia pada semifinal SEA Games di Stadion Shah Alam, Selangor, Sabtu (26/8/2017). Indonesia kalah 0-1 dari Malaysia. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Sang mentor dinilai sukses menyajikan atraksi sepak bola indah. Fakta bahwa Evan Dimas cs. gagal juara diabaikan.

Namun, belakangan suara-suara miring bermunculan. Hal ini tak lepas dari performa Timnas Indonesia level senior yang tak stabil saat menjalani uji coba internasional.

Sepanjang 2016 tercatat Timnas Indonesia melakoni enam pertandingan uji coba internasional. Hanya dua kali saja Tim Garuda mengantungi kemenangan. Itu pun melawan Kamboja, yang selama ini dikenal sebagai negara papan bawah kawasan Asia Tenggara.

Terakhir, bahkan Timnas Indonesia kalah 0-1 dari Suriah U-23 dalam laga uji coba di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (18/11/2017).

Milla secara blak-blakan mengaku tim asuhannya tampil tidak solid.

"Kita semua melihat dalam beberapa hari terakhir ada tiga tim berbeda yang bermain. Suriah bermain dengan harmonisasi yang sangat baik dan itu wajar karena mereka bersama sudah selama beberapa bulan terakhir. Timnas Indonesia dengan pemain U-23 juga bermain cukup harmonis meski gagal mencetak gol ketiga. Sementara tim yang ini, memang kurang harmonis," papar Luis Milla seusai laga.

"Namun, itu adalah hal yang wajar. Tim ini baru berkumpul, berbeda dengan pemain U-23 yang sudah delapan bulan berkumpul. Jadi, itu semua normal. Saya berharap ke depannya akan ada kesempatan tim ini untuk terus bersama dan menjadi lebih baik," lanjut pelatih asal Spanyol itu.

Pernyataannya, sampai kapan PSSI akan bersabar. Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri, posisinya kini rawan geser setelah gagal memenuhi target jadi runner-up di Kualifikasi Piala Asia U-19 2018. Padahal, jika bicara rapor keseluruhan Indra relatif lebih baik dibanding Milla.

Pastinya, Senor Milla layak ketar-ketir mengingat jika dibandingkan dengan Alfred Riedl rapor prestasinya juga kalah kinclong.

4 dari 4 halaman

Rapor Milla Vs Alfred

Boaz Solossa menerima hadiah Runer Up usai laga leg kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Laga Timnas Indonesia di Alfred Riedl

6 September 2016: Indonesia Vs Malaysia 3-0

9 Oktober 2016: Indonesia Vs Vietnam 2-2

4 November 2016: Myanmar Vs Indonesia 0-0

19 November 2016: Thailand Vs Indonesia 4-2

22 November 2016: Indonesia Vs Filipina 2-2

25 November 2016: Singapura Vs Indonesia 1-2

3 Desember 2016: Indonesia Vs Vietnam 2-1

7 Desember 2016: Vietnam Vs Indonesia 2-2

14 Desember 2016: Indonesia Vs Thailand 2-1

17 Desember 2016: Thailand Vs Indonesia 2-0

 

Laga Timnas Indonesia di Era Luis Milla

21 Maret 2013: Indonesia Vs Myanmar 1-3

8 Juni 2017: Kamboja Vs Indonesia 0-2

13 Juni 2017: Indonesia Vs Puerto Rico 0-0

2 September 2017: Indonesia Vs Fiji 0-0

4 Oktober 2017: Indonesia Vs Kamboja 3-1

18 November 2017: Indonesia Vs Suriah U-23 0-2

 

 

Berita Terkait