Rudy Hartono: Aturan Baru Servis Bulutangkis Awalnya Susah, tetapi...

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 23 Mar 2018, 21:35 WIB
Legenda Bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono saat berada di GOR Rudy Hartono, Pd. Sawah Indah, Sawah Lama (23/3/2018). Rudy Hartono kini aktif mengembangkan talenta muda di PB Jaya RAYA. (Bola.com/Nick Hanoatubun)

Bola.com, Jakarta - Legenda bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono, menyatakan aturan servis yang baru diterapkan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) awalnya cukup menyulitkan pemain. Apalagi, aturan tersebut penerapannya sangat tergantung pada faktor manusia, yaitu wasit yang mengawasi servis. 

Advertisement

"Kalau mendapat servis judge yang sulit, maka pemain bakal repot. Lagipula di aturan ini ada fotonya tidak untuk kesalahan tidak? Faktor servis judge sangat berpengaruh untuk aturan baru ini," kata Rudy Hartono, saat berbincang dengan Bola.com di GOR Jaya Raya, Bintaro, Tangerang, Jumat (23/3/2018). 

Aturan batasan tinggi servis ini mengharuskan pertemuan shuttlecock dan kepala raket, tak boleh lebih tinggi dari 115 cm. Sebelumnya, tinggi servis disesuaikan dengan antropometri tubuh masing-masing pemain, yaitu di rusuk terbawah.

Aturan ini resmi berlaku pada 1 Maret 2018. BWF mulai menjajal aturan servis tersebut di turnamen Jerman Terbuka dan All England 2018. 

Meski aturan baru servis dianggap menyulitkan, Indonesia mampu membawa pulang satu gelar dari All England 2018, melalui ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. 

"Pertamanya mungkin susah menggunakan aturan baru tersebut. Pemain juga merasa tidak enak. Tapi, buktinya Kevin/Marcus bisa juara," kata Rudy sembari tertawa.

Menurut Rudy, aturan servis tersebut lebih menyulitkan bagi pemain berpostur tinggi, terutama di sektor ganda. 

"Kalau untuk yang tinggi susah, karena servisnya harus diturunkan. Tapi untuk pemain yang tingginya rata-rata, servis itu lebih enak," tegas Rudy Hartono.