Loris Arnaud, dari PSG ke Persela dan Menikmati Kehidupan di Indonesia

oleh Aditya Wany diperbarui 04 Mei 2018, 11:15 WIB
Wawancara Eksklusif Loris Arnaud (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Lamongan - Loris Arnaud mampu menunjukkan tajinya sebagai striker saat membawa Persela Lamongan menang 4-1 atas PSMS Medan. Dia menyumbang dua gol dalam laga pekan keenam Gojek Liga 1 bersama Bukalapak di Stadion Surajaya, Minggu (29/4/2018).

Dia seakan menjawab ekspektasi suporter Persela lantaran sempat kesulitan beradaptasi dengan tim. Penampilannya kerap angin-anginan. Wajar bila tuntutan terhadapnya cukup tinggi dengan statusnya sebagai mantan pemain Paris Saint-Germain (PSG), klub asal Perancis. 

Namun, dia sudah sempat mencetak sebiji gol saat timnya menang 3-2 atas PSM Makassar (6/4/2018). Koleksi tiga golnya dalam enam pekan sudah cukup membuatnya kini menjadi idola baru bagi LA Mania, suporter Persela. 

Advertisement

Musim ini merupakan musim perdananya tampil di liga Indonesia. Sebelumnya, striker berpaspor Prancis itu sudah kenyang pengalaman dengan menimba ilmu di akademi PSG sejak berusia lima tahun. 

Dia kemudian menjadi bagian integral klub berjulukan Les Parisien itu selama lima musim pada 2007-2012. Pada tahun 2012, itulah dia menjadi “korban” sebagai pemain asli Perancis dan binaan klub yang terpaksa dibuang. 

Setahun sebelumnya atau pada 2011 merupakan momen awal PSG menjelma sebagai raksasa Eropa dengan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, dan sejumlah nama beken di Benua Biru. 

Pelatih kondang asal Italia, Carlo Ancelotti pun ditunjuk sebagai nakhoda armada klub. Sokongan finansial besar dari Oryx Qatar Sports Investments selaku pemilik klub jawara Ligue 1 2017/2018 itu. 

Keputusan bergabung dengan Persela sempat menjadi perhatian banyak orang. Statusnya sebagai pemain PSG yang mau merumput di Liga 1tentu saja menjadi daya tarik. Dia pun berbagi cerita mengenai pengalamannya itu kepada Bola.com. Berikut petikan wawancara tersebut:

2 dari 3 halaman

Terkesan dengan Sepak Bola Asia

Fans Persela Lamongan saat memberikan dukungan kepada timnya saat melawan PS TNI pada Liga 1 2017 di Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu (27/5/2017). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bagaimana pandangan Anda tentang sepak bola Asia? 

Sangat berbeda dengan Eropa. Di sana perkembangan sepak bola sangat pesat dengan teknologi dan juga permainan yang sangat dinamis. Tanpa saya meremehkan Asia, di Eropa jelas punya kualitas yang lebih baik. 

Tapi saya pikir perkembangan di Asia sangat bagus, mengarah ke lebih profesional. Sepak bola Asia mungkin bagus dengan melihat perkembangan di Cina dan Jepang. Tapi, Asia Tenggara belum memiliki kualitas seperti di sana, mungkin dua tahun lagi bisa lebih baik. 

Apakah itu jadi alasan Anda memilih berkarier di Indonesia? 

Satu di antaranya memang iya. Tapi, semua itu berkat agen saya, Francis Yonga, yang memberi saya tawaran bermain di Indonesia. Pada akhir musim 2017, kontrak saya di Hanoi sudah habis setelah saya bergabung selama dua tahun.

Di Indonesia saya melihat ada banyak pemain asing bagus, pemain lokal juga begitu. Saya juga melihat atmosfer suporter yang sangat luar biasa. Stadion selalu penuh. Ada antusiasme dari masyarakat yang sangat membuat saya tertarik. 

Di vietnam tidak seperti ini. Masyarakat di sana memang suka sepak bola, tapi tidak banyak yang datang ke stadion mendukung timnya.

Bagaimana dengan Choirul Huda? Itu cukup menarik perhatian Anda? 

Saya pernah membaca dan menonton berita tentang pemain liga Indonesia yang meninggal. Awalnya saya memang sangat terpukul melihat ada pesepak bola Indonesia meninggal. Tapi, justru perhatian saya mengarah kepada Ramon Rodrigues yang menabrak Choirul Huda.

Sebelumnya bergabung Persela, Ramon pernah bermain di Vietnam dan saya cukup mengenal dia. Saat saya mulai mempelejari Persela, saya baru sadar pernah membaca mengenai klub ini dengan insiden Huda. 

Saya rasa, insiden yang dialami oleh Huda menjadi perhatian dunia. Pesepak bola seharusnya tidak meninggal akibat insiden di lapangan. Saya pun sangat sedih melihatnya. 

Rupanya, suporter Persela (LA Mania) punya cara untuk menghormati Huda dengan sangat luar biasa. Di pertandingan, namanya masih sering diteriakkan oleh mereka. Begitu juga dengan spanduk dan giant flag. Saya melihat ada cinta dari suporter untuk pemain di Persela.

3 dari 3 halaman

Muslim dan Kehidupan di Indonesia

Striker Persela Lamongan, Loris Arnaud mencetak dua gol fantastis ke gawang PSMS Medan di Stadion Surajaya, Lamongan, Minggu (29/4/2018). (Bola.com/Aditya Wany)

Anda punya reputasi cukup apik dengan menjuarai V.League 1 bersama Hanoi. Apakah Anda ingin juara bersama Persela juga? 

Setiap pemain pasti menginginkan timnya bisa meraih gelar juara. Tapi, jalan untuk menuju target itu tidak mudah. Saya pun akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Persela. 

Saya tidak bisa memberi janji akan membawa Persela juara. Tapi, dengan skuat yang ada di tim saat ini, bukan tidak mungkin itu bisa dipenuhi. Semua butuh proses dan saya harus ikut di dalamnya. 

Publik sempat penasaran dengan Anda karena rekening gol yang seret. Anda yakin bisa terus menyumbang gol untuk Persela?

Kalau Anda ingat, saya justru mencetak gol perdana di Persela di laga perdana pula. Saat itu, saya mencetak gol yang menyelamatkan Persela dari kekalahan bertemu dengan Perseru Serui (3/3/2018). 

Saya tidak pernah khawatri dengan performa yang saya miliki. Semua pasti akan berjalan dengan baik. Tapi, semua itu juga berkat kerja coach Aji Santoso yang sangat baik dan sabar kepada pemain. 

Anda langsung klop dengan coach Aji di pertandingan pertama?

Ya, menurut saya, dia pelatih yang sangat berkualitas. Dia sangat paham sepak bola dan tahu kemampuan pemain. Semua instruksi yang dimintanya sangat jelas dan saya tidak merasa kesulitan. 

Ditambah lagi, coach Aji punya bahasa Inggris yang bagus, sebuah hal yang jarang saya temui di Asia. Setelah saya baca reputasinya, ternyata dia memang sosok yang tidak bisa dianggap remeh oleh publik sepak bola Indonesia. 

Dia adalah salah satu mantan bek kiri dan kapten timnas Indonesia terbaik yang pernah ada. Begitu yang saya baca. Melihat apa yang dilakukannya untuk saya dan tim, bukan hal yang mengejutkan buat saya. 

Bagaimana dengan kehidupan di Indonesia? Anda mulai merasa nyaman? 

Tentu saja. Banyak sekali hal yang membuat saya nyaman. Sebagai muslim, saya sangat senang berada di negara dengan mayoritas penduduk muslim. Saya tidak kesulitan mencari makanan halal. 

Begitu juga dengan tempat ibadah, saya melihat banyak masjid di sini sehingga memudahkan saya untuk shalat. Semuanya terasa sangat baik di Indonesia. Ini negara yang sangat nyaman buat saya.

 

Berita Terkait