Jejak Iwan Budianto: Melesat di PSSI, Aktor Antagonis dan Protagonis di Mata Aremania

oleh Gatot Susetyo diperbarui 25 Jan 2019, 08:15 WIB
CEO Arema, Iwan Budianto, semringah seusai Arema mengalahkan Persipura (27/4/2018). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Jakarta - Nama Iwan Budianto belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola nasional. Ia dilaporkan oleh Perseba Super Bangkalan karena meminta uang setoran Rp 140 juta agar timnya bisa jadi tuan rumah 8 besar Piala Soeratin 2009.

Pada waktu itu IB menjabat sebagai Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI). Saat ini, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan. Iwan pun mundur sebagai CEO Arema dan fokus di PSSI sebagai Wakil Ketua Umum.

Perjalanan hidup Iwan Budianto di sepak bola Indonesia sangat lengkap. Awalnya, dia bukan siapa-siapa. Statusnya sebagai menantu Walikota Kediri HA Maschut saat itu membuat sepak terjangnya mulai mendapat perhatian banyak orang.

Jejaknya dimulai sebagai Aremania yang selalu rajin menyaksikan laga Singo Edan ketika main di kandang maupun luar kandang. Darah Aremania ini yang mengantar pria dua anak ini akhirnya menapak karir di sepak bola nasional.

Advertisement

Setelah jadi Aremania sejati, Iwan Budianto yang memang ramah dan suka bergaul dengan siapa saja ini mulai kenal dan akrab dengan Lucky Acub Zaenal (pendiri dan pemilik PS Arema).

Kecintaan terhadap klub dan keakraban dengan Lucky Acub Zaenal ini membuka pintu Iwan Budianto duduk sebagai Manajer Tim PS Arema pada Ligina V 1998-1999. Saat itu usianya masih 21 tahun.

Pada tahun yang sama, Iwan pun dirayu sang mertua, HA Maschut, untuk jadi manajer Persik Kediri di Divisi II. Hoki Iwan Budianto mengalir dari Persik daripada PS Arema.

Hanya dalam empat tahun suami Ni Putu Evy Shintadewi sukses memberikan dua gelar kepada Macan Putih. Paling spekatuker, penggemar motor besar Harley Davidson ini dua musim beruntun mengantar Persik juara Divisi I 2002 dan Divisi Utama 2003.

Peran antagonis mulai dilekatkan Aremania, ketika Iwan Budianto memboyong beberapa pilar utama PS Arema seperti Wawan Widiantoro, Lukman Harsoyo, Suswanto, Johan Prasetyo, Didit Thomas, dan Kristiawan ke Persik.

 

 

2 dari 3 halaman

Cap Pengkhianat

Iwan Budianto, Ruddy Widodo berdiskusi dengan kepolisian dan Ketua Panpel Arema, Abdul Haris, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (6/10/2018). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Cap pengkhianat pun dilekatkan kepada Iwan dan ini menjadi bibit perseteruan dua kelompok suporter Persikmania dan Aremania. Tercatat dua kali Aremania melampiaskan kebencian terhadap Iwan Budianto dan Persik saat terjadi perusakan di Stadion Brawijaya Kota Kediri. Meskipun Iwan Budianto pula yang merukunkan dua kelompok ini pada ISL 2014.

"Niat baik tidak selalu diterima orang dengan baik. Niat saya memboyong pemain Arema saat itu, karena Arema kesulitan dana untuk menggaji pemain setelah kami lolos di delapan besar 2002. Karena saya kasihan jika pemain telantar, makanya mereka saya bawa ke Persik. Padahal banyak klub yang meminta para pemain itu," ungkap Iwan Budanto.

Iwan Budianto pula sebagai pemeran utama Persik meraih trofi Liga Bank Mandiri 2006 setelah pada final menyingkirkan PSIS Semarang di Stadion Manahan Solo.

Dua kali Iwan Budianto mencoba terjun ke dunia politik ikut kontestasi Pilkada Kabupaten Kediri sebagai Calon Wabup (2004) dan Pilwali Kota Kediri sebagai Calon Walikota (2009). Tapi dua kali pula Iwan Budianto mengalami kegagalan. Padahal dengan prestasinya di Persik, setidaknya dia memiliki basis massa Persikmania yang melimpah.

"Apa jodoh saya di sepakbola ya? Saya dua kali ikut pilkada kalah," ujar Iwan Budianto usai kalah di Pilwali saat itu.

Kembali pada soal label pengkhianat. Iwan Budianto tak sakit hati disebut Aremania sebagai pengkhianat.

"Saya manusia biasa. Saya nelangsa dan menangis disebut pengkhianat. Mereka (Aremania) tak tahu posisi dilematis yang saya alami. Saya lahir di Malang, tinggal di Malang. Jiwa saya Aremania, tapi saya harus hormat dan patuh pada orangtua (HA Maschut) yang meminta saya di Persik. Suatu saat nanti, saya akan buktikan kepada Aremania bahwa saya bukan tipe pengkhianat," ucap Iwan ketika berbincang dengan Bola.com.

3 dari 3 halaman

Karier Melesat di PSSI

Kesempatan pembuktian bukan pengkhianat pun terbuka bagi Iwan Budianto pada 2012, ketika terjadi dualisme kompetisi di Indonesia. Saat itu Arema ikut IPL.

Karena kompetisi ini dianggap menyalahi statuta PSSI dengan munculnya klub-klub baru yang notabene bukan anggota, Iwan pun membawa Arema Cronus berafiliasi ke ISL. Selanjutnya, dengan kegigihannya, kini Arema FC bangkit. 

Terakhir kali, dia pun harus melepas posisi elite CEO Arema FC karena ingin fokus di PSSI. Jabatan Wakil Ketua Umum PSSI saat ini bukan diraih dengan tiba-tiba. Pria kelahiran Malang, 24 Januari 1974 ini benar-benar dimulai dari titik nol.

Tapak langkahnya di PSSI seiring kesuksesannya selama di Persik. Diawali sebagai anggota Board of Management Badan Liga Sepakbola Indonesia (2004-2007).

Berikutnya menjadi anggota Exco PSSI Periode (2007-2011) merangkap jabatan Ketua Bidang Status dan Alih Status Pemain PSSI (2007). Ketua Badan Liga Amatir PSSI (Agustus 2009-sekarang).

Iwan sempat menjadi asisten manajer Andi Darusalam Tabusala di Timnas Indonesia Piala AFF 2010 (2010). Pada 2016, ia pun menjadi manajer Timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

Ia mengaku sejak muda terkenal gigih berusaha. Dia pernah terjun di bisnis percetakan meneruskan usaha orangtuanya. Termasuk jadi kontraktor kecil-kecilan yang omzetnya tak seberapa.

"Saya bisnis mulai dari nol. Motivasinya, karena saya harus bekerja menghidupi keluarga tanpa tergantung orangtua atau mertua. Saya bersama istri pernah buka toko suvenir khas Bali di Malang. Kami berdua kulakan barang sendiri ke Bali. Itu mungkin banyak orang tak tahu sejarah saya. Mereka hanya tahu, sekarang saya jadi orang sukses. Padahal semua saya raih dengan susah payah," tuturnya.

Berita Terkait