Selain Makan Konate, 6 Pemain Ini Pernah Berseragam Arema dan Persebaya

oleh Aditya Wany diperbarui 18 Jan 2020, 08:15 WIB
Selain Makan Konate, siapa lagi pemain yang pernah menyeberang ke klub yang memiliki rivalitas tinggi; Persebaya dan Arema? (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Surabaya - Kepindahan Makan Konate dari Arema ke Persebaya secara resmi, Kamis (16/1/2020), sontak menjadi sorotan. Gelandang berpaspor Mali itu membuat keputusan berani karena memutuskan menyebrang ke klub rival.

Seperti diketahui, Arema dan Persebaya adalah dua klub yang terlibat rivalitas sejak lama untuk menunjukkan yang terbaik di Jawa Timur. Duel dua klub asal dua kota terbesar di Jawa Timur itu bertajuk Derbi Jatim.

Advertisement

Makan Konate sebenarnya tidak sendiri. Rekannya di Arema, Nasir, memutuskan membela Persebaya pada musim 2020. Kebersamaan Nasir dengan Arema bakal lebih lama ketimbang Konate, yaitu selama tiga musim (2017-2019).

Perpindahan pemain dari sebuah klub ke klub rival ini sebenarnya bukan hal langka. Jika merujuk rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta, sudah banyak yang melakukan hal itu.

Mereka yang pernah menyeberang ke klub rival, seperti Atep, Firman Utina, Tony Sucipto, Shahar Ginanjar, Aliyudin, Maman Abdurrahman, Charis Yulianto, dll. Mereka lantas dianggap membelot lantaran hijrah ke klub yang dianggap sebagai musuh bebuyutan.

Namun, perpindahan pemain antarklub Derbi Jatim ini terkesan masih belum lazim terjadi. Fenomena ini mulai terjadi pada era 1990-an dan jumlah pemain yang pernah berseragam Arema sekaligus Persebaya bisa dihitung jari.

Bola.com telah merangkum deretan pemain yang pernah membela dua klub dengan rivalitas tinggi di Jawa Timur itu, Arema dan Persebaya, selain Makan Konate serta Nasir. Simak ulasannya:

2 dari 7 halaman

Aji Santoso

Aji Santoso, pelatih Persebaya. (Bola.com/Aditya Wany)

Pria satu ini telah pensiun sebagai pemain dan kini berkarier sebagai pelatih. Kini Aji Santoso bahkan menjabat sebagai pelatih kepala Persebaya. Dia pula yang memutuskan merekrut Makan Konate dan Nasir dari Singo Edan.

Jauh sebelum menjadi pelatih, Aji Santoso telah membuat keputusan mengejutkan pada 1995. Dia memutuskan hijrah dari Arema menuju Persebaya. Kepindahannya sempat menjadi perbincangan karena jadi pemain pertama yang berani mengambil keputusan kontroversial itu.

Aji mendapat status istimewa di kalangan masyarakat Surabaya. Dia satu-satunya sosok asal Malang yang dihormati oleh Bonek, suporter Persebaya. Penyebabnya, dia menjadi kapten saat Bajul Ijo menjuarai Liga Indonesia 1996-1997.

Karier pelatih Aji juga diwarnai dua tim ini. Dia menangani Arema pada 2017 dan menjadi kampiun Piala Presiden 2017. Sebagai pelatih Persebaya, dia datang pada tiga periode yaitu 2009, 2011, dan terbaru kembali ke Surabaya pada 2019 hingga sekarang.

3 dari 7 halaman

Putu Gede Dwi Santoso

Pelatih Perseru Serui, Putu Gede Dwi Santoso, mengomentari perbedaan yang terlihat dalam tim Persebaya Surabaya. (Bola.com / Aditya Wany)

Putu Gede juga pernah merasakan bertanding mengenakan seragam Arema dan Persebaya semasa bermain. Bedanya dengan Aji, pria yang pernah menangani Perseru Serui itu lebih dulu membela Persebaya, lalu ke Arema.

Putu Gede terlebih dulu memperkuat Persebaya pada Liga Indonesia 1994-1995 dan 1995-1996. Setelah itu, memutuskan pindah ke Persija Jakarta. Baru pada 1999 dia akhirnya menerima pinangan dari Arema.

Kariernya sebagai pemain lebih moncer bersama klub asal Kota Apel tersebut. Sempat membela Deltras Sidoarjo pada 2002, dia kembali lagi ke Arema pada 2004. Putu Gede turut mempersembahkan gelar Divisi I 2004 dan Copa Indonesia 2005.

4 dari 7 halaman

Hamka Hamzah

Hamka Hamzah saat memperkuat Arema FC melawan Madura United di Stadion Kanjuruhan, Kab. Malang, Jumat (8/11/2019). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Perjalanan Hamka Hamzah berseragam Persebaya dan Arema hampir mirip  Putu Gede. Pemain asli Makassar ini membela Persebaya pada 2003 dan turut mempersembahkan gelar Divisi I 2003. Saat itu, Hamka masih berusia 19 tahun.

Kemudian, dia membela beberapa klub lain seperti Persik Kediri, Persija Jakarta, Persipura Jayapura, Mitra Kukar, dan Borneo FC. Baru pada 2016 atau setelah 13 tahun sejak menjadi pemain Persebaya, dia membela Arema di TSC.

Hamka sempat pindah ke PSM Makassar dan Sriwijaya FC, namun memutuskan kembali membela Arema dan didapuk sebagai kapten mulai pertengahan musim 2018. Kini, dia telah meninggalkan Arema dan bergabung dengan Persita Tangerang.

5 dari 7 halaman

Arif Ariyanto

Arif Ariyanto memilih menolak panggilan kembali ke Persela karena ingin fokus mempersiapkan bisnis. (Bola.com/Zaidan Nazarul)

Pemain satu ini berbeda dengan Makan Konate, yang pindah dari Arema ke Pesebaya. Arif Ariyanto merupakan putra asli Sidoarjo, yang menjalani karier juniornya bersama Persebaya. Dia juga berseragam Bajul Ijo pada 2005 hingga 2011. Lebih dari 50 laga dibukukannya di Surabaya.

Setelah itu, dia membuat keputusan dengan menyebrang ke klub rival, Arema, di kompetisi ISL 2011-2012. Arif juga mampu menembus skuat utama dengan menorehkan 24 penampilan dengan bersama Singo Edan.

6 dari 7 halaman

Rachmat Afandi

Rachmat Afandi bersama eks pemain Persija lainnya, Rendi Irwan, mengikuti seleksi di Persebaya. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Pemain asli Jakarta ini membela Persebaya saat masih berusia muda, pada 2003-2004. Dia juga hanya membukukan delapan penampilan dengan satu gol saja. Sama seperti Hamka, dia membela beberapa klub lain sebelum hijrah ke Arema.

Persikabo Bogor dan PSMS Medan menjadi klub tempat Rachmat Afandi singgah, sebelum membela Arema pada 2009-2010. Bersama Singo Edan, dia ikut menjuarai ISL 2009-2010 di bawah arahan pelatih Robert Alberts.

Pada 2017, Rachmat Afandi kembali membela Persebaya yang baru disahkan oleh PSSI dan akan berkompetisi di Liga 2. Namun, namanya dicoret akibat mengalami cedera.

7 dari 7 halaman

Ricky Kayame

Pemain Arema FC, Ricky Kayame. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Penyerang asal Papua ini sempat menjadi kontroversi sebelum kabar kepindahan Makan Konate menjadi perbincangan. Ricky Kayame tercatat menjadi pemain Persebaya pada 2017-2018 dan ikut menjuarai Liga 2 2017.

Memasuki musim 2019, kontraknya tidak diperpanjang oleh Persebaya dan dia memutuskan membelot ke Arema. Menariknya, Ricky mencetak satu gol saat Arema menang 2-0 atas Persebaya dalam partai puncak Piala Presiden 2019.