Flashback Bandung Raya Juara Liga Indonesia 1995-1996: Momen Keemasan yang Berakhir Getir

oleh Ario YosiaGregah Nurikhsani diperbarui 03 Apr 2020, 08:45 WIB
Bandung Raya juara Liga Indonesia 1995-1996, Dejan Gluscevic. (Dok. Bola.com)

Bola.com, Jakarta - Selain Persib, Bandung pernah punya klub yang membawa nama harum Kota Kembang. Tim itu bernama Bandung Raya, eks klub Galatama yang meraih juara pada Liga Indonesia edisi kedua pada 1995-1996.

Bandung Raya dibentuk pada 17 Juni 1987 oleh Yayasan Bandung Raya yang merupakan basis klub UNI Bandung. Mereka lalu terdaftar pada kompetisi Galatama, sebuah liga semiprofesional.

Advertisement

Pada musim perdananya, Bandung Raya tercabik-cabik dan duduk di dasar klasemen Galatama 1987-1988. Tak ingin mengulang kegagalan, mereka berbenah dan sanggup finis di tangga ketujuh pada musim keduanya.

Bandung Raya terbilang gagal selama era Galatama. Musim 1990-1991, mereka terpuruk di posisi 17, dan dua musim berikutnya hanya sanggup berkutat di papan bawah. Pada musim pamungkas, yakni 1993-1994, Bandung Raya berhasil mengunci posisi delapan wilayah barat.

PSSI lalu membuat gebrakan dengan menggambungkan Galatama (semiprofesional) dan Perserikatan (amatir). Liga tersebut dinamai Liga Indonesia. Masa keemasan pun dimulai.

Adalah Brigjen TNI IGK Manila, sosok yang cukup berjasa mengantar Bandung Raya ke era keemasan. Saat itu, IGK Manila tengah memimpin STPDN di Jatinangor. Aroma kesuksesan mulai tercium di Bandung mengingat ia merupakan mantan manajer Timnas Indonesia yang mengecap manis di SEA Games Manila 1991 silam.

Ada pun IGK Manila ditunjuk oleh Letjen TNI (Purn.) Suryatna Subrata, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat sekaligus Ketua KONI Jawa Barat, yang mengutusnya langsung mengawal Bandung Raya di Liga Indonesia. Tak disangka, Menteri Dalam Negeri saat itu, Yogie S. Memet, memberinya izin.

"Lapor, Pak. Saya mungkin melanggar perintah Bapak," kata Manila seperti tertuang dalam buku biografinya, IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara.

Untuk diketahui, Yogie pernah melarang IGK Manila berkecimpung di dunia olahraga, apalagi jabatannya sangat strategis meski dalam susunan kepengurusan resmi klub, ia hanya menjabat sekelas chief de mission. Namun, IGK Manila dikenal memilik jejaring yang cukup luas, sehingga urusan lobi melobi demi kepentingan Bandung Raya tidaklah sulit buatnya.

Yogie memberikan izin karena menilai pergeseran jabatan tidak disebabkan karena adanya masalah di STPDN (sekarang menjadi IPDN setelah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggabungkannya dengan Institut Ilmu Pemerintahan).

"Kamu itu orang Bali. Urang (orang) Sunda tidak akan sembarangan minta bantuan. Kalau urang Sunda sudah minta bantuan sama kamu yang orang Bali ini, berarti mereka sudah percaya sama kamu. Pegang itu Bandung Raya, kerja yang benar," jawab Yogie.

Pada musim pertama berlaga di Liga Indonesia, Bandung Raya berhasil lolos ke babak 8 besar. Langkahnya terhenti setelah pada putaran berikutnya di Grup A, Bandung Raya hanya menempati urutan ke-3.

Urutan pertama, Bontang PKT, dan ke-2, Barito Putra lolos ke semifinal Liga Indonesia 1994-1995. Striker Bandung Raya, Peri Sandria menjadi pencetak gol terbanyak, 34 gol dari 37 pertandingan.

Torehan golnya, akan menjadi rekor yang bertahan sangat lama. Kurang lebih selama 12 tahun, Peri Sandria menyandang status sebagai pemain paling tajam di persaingan elite Tanah Air.

Rekor ini baru dipecahkan Sylvano Comvalius pada Liga 1 2017 dengan lesakan 37 gol.

 

 

 

 

Video

2 dari 4 halaman

Juara Ligina

Ajat Sudrajat (kiri) melakukan selebrasi usai mencetak gol buat Persib. Walau akhirnya pindah ke Bandung Raya, sosok pengguna nomor punggung 10 itu tetap jadi idola bobotoh. (Bola.com/Dokumentasi Pikiran Rakyat)

Pada musim 1995-1996, Bandung Raya berubah nama menjadi Mastrans Bandung Raya. Berbekal suntikan dana dari Masyarakat Transportasi Indonesia (Mastrans), tidak sulit buat mereka mendapatkan pemain-pemain berkualitas.

Pelatih diimpor langsung dari Belanda, yakni Henk Wullems. Bomber asal Yugoslavia (Montenegro), Dejan Gluscevic, juga didatangkan. Ada juga Olinga Atangana, gelandang tangguh dari Kamerun yang membawa Bandung Raya berjaya selama musim 1995-1996.

Di barisan pemain lokal, ada nama-nama beken kala itu seperti Nur'alim, Surya Lesmana, dan Ajat Sudrajat. Namun, bintang lokal utama mereka adalah Peri Sandria, legenda sepak bola Indonesia dari Bandung.

Bandung Raya berada di Wilayah Barat pada Ligina II bersama tim-tim kuat lain macam Pelita Jaya, Persib Bandung, dan Mataram Indocement. Bandung Raya keluar sebagai juara grup berbekal 18 kemenangan, tujuh imbang, dan tiga kekalahan dari 28 pertandingan.

Mereka juga menjadi tim paling produktif dengan 57 gol dan cuma kebobolan 17 kali. Hanya Persib Bandung yang catatan kebobolannya lebih baik, yakni 15 gol. Pada babak 12 besar, Bandung Raya melahap seluruh laga dengan kemenangan. Sembilan gol mereka cetak, dan hanya satu kali kebobolan.

Sebelum melaju ke final, Bandung Raya berhadapan dengan Mitra Surabaya. Laga berjalan sengit hingga harus diakhiri dengan babak adu penalti. Alexander Saununu dkk. lantas memenangi laga dengan skor 4-2.

Pada partai pamuncak, Bandung Raya sukses mengalahkan PSM Makassar yang kala itu diperkuat Luciano Leandro, Yusuf Ekodono, dan Jacksen F. Tiago dengan skor 2-0. Bandung pun berpesta untuk kedua kalinya karena Persib meraih juara pada tahun sebelumnya.

Kota Kembang terbawa euforia. Bobotoh Persib juga ikut bersuka cita, menyambut Peri Sandria dan kolega merayakan gelar juara.

Striker PBR, Dejan Gluscevic menjadi pencetak gol terbanyak pentas kompetisi dengan 30 gol dari 33 pertandingan. Kesuksesan ini serasa pembuktian bagi sang bomber, yang dibuang Pelita Jaya karena dianggap tak produktif.

"PBR akan selalu di hati bagi saya. Di sana saya menjawab keraguan banyak pihak," kata Dejan dalam sebuah perbincangan dengan Bola.com beberapa tahun silam.

3 dari 4 halaman

Berakhir Pahit

Dejan Gluscevic (Bola.com/Dok. Pribadi)

Sukses pada 'dua edisi sebelumnya' membuat Bobotoh punya dua jawara, yakni Persib dan Bandung Raya. Namun, memasuki Ligina III tahun 1996-1997, Bandung Raya terguncang.

Henk Wullems naik kasta menjadi pelatih Timnas Indonesia. Lalu, Bandung Raya merger dengan Pelita Jaya sehingga homebase pun berpindah ke Jakarta.

Bernama baru Pelita Mastrans, Peri Sandria dkk. tetap bermain cantik dan lolos sebagai runner-up Wilayah Barat di bawah Persebaya Juara. Diwarnai insiden gas air mata kala bersua Mitra Surabaya, Mastrans sukses menang 1-0 dan melaju ke babak final. Lawannya: Persebaya Surabaya.

Bajul Ijo kala itu sedang on-fire dengan deretan pemain kunci seperti Carlos de Mello, Aji Santoso, Anang Ma’ruf, Sugiantoro, Khairil Anwar, Uston Nawawi, hingga Jacksen F. Tiago. Bandung Raya pun tak berkutik dan kalah 1-3.

Indonesia kemudian dilanda krisis moneter. Bandung Raya yang tak terbantukan oleh dana APBD tak kuat menahan bencana finansial yang melanda sehingga akhirnya bubar.

4 dari 4 halaman

Merger demi Merger

Logo - Bandung Raya (Bola.com/Adreanus Titus)

Pada 2011, PT Retower Asia membeli 65 persen saham Bandung Raya. Tak lama, PT Retower Asia mengakuisisi Pelita Jaya Karawang milik PT Nirwana Pelita Jaya. Bandung Raya pun berubah nama menjadi Pelita Bandung Raya dan tampil pada Liga Indonesia 2012 lompat jauh dari Divisi III.

Pelita Bandung Raya kembali tampil di percaturan elite di pentas Indonesia Super League (ISL) 2013. Namun, di musim pertama kebangkitan mereka dari mati suri panjang, mereka terseok-seok dan hanya finis posisi 15.

Playoff kontra Persikabo Bogor dari Divisi IV pun harus dilakoni. Mereka menang lewat gol Mijo Dadic dan Gaston Castano. PBR keluar dari lubang jarum tetap bertahan di kasta elite.

Nasib lebih baik didapat pada ISL 2014. Mereka lolos hingga semifinal meski pada akhirnya tumbang 0-2 dari Persipura Jayapura. Boaz Solossa menjadi bintang lewat dua golnya ke gawang Pelita Bandung Raya (PBR).

"Kalaupun akhirnya kami gagal menjadi juara, momen ke babak 8 besar tak akan terlupakan. Tidak ada yang mengira PBR bisa melakukannya. Kami hanya tim kecil dan tak memiliki suporter berlimpah. Apa yang dilakukan para pemain luar biasa," kata Dejan Antonic, pelatih PBR.

Petaka kemudian terjadi di persepak bolaan Indonesia. FIFA memberikan sanksi kepada Indonesia dan Pelita Bandung Raya langsung menghadapi kesulitan keuangan. Tak ingin bangkrut begitu saja, PBR memutuskan merger dengan Persipasi Bekasi dan kembali mengubah namanya menjadi Persipasi Bandung Raya selama setahun.

Setelah itu, berdasarkan klaim Manila, sekitar medio 2016, Persipasi Bandung Raya dibeli oleh orang kaya dari Madura bernama Achsanul Qosasi. Timnya kini berlaga di kasta tertinggi Liga 1, Madura United FC.

 

Berita Terkait