Slemania, Fans Tertua PSS yang Mampu Mempertahankan Eksistensi

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 08 Jun 2020, 12:45 WIB
Suporter PSS Sleman, Slemania. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Sleman - PSS Sleman dikenal memiliki basis suporter yang cukup besar dan loyal.

Adalah Slemania, organisasi suporter resmi pertama yang dimiliki PSS sejak awal milenium atau tahun 2000. Slemania memiliki banyak anggota dan identik dengan warna hijau khas PSS.

Advertisement

Slemania pernah mencapai masa kejayaan dengan memiliki pengikut yang luar biasa besar, terutama ketika PSS masing berkandang di Stadion Tridadi. Seisi stadion seperti menjadi lautan hijau khas tim Elang Jawa.

Lama kelamaan, Slemania tergerus zaman. Perlahan, jumlah anggota mereka berkurang dan hijrah ke kelompok suporter PSS lainnya yakni Brigata Curva Sud (BCS). Meski demikian, Slemania masih berdiri tegak hingga sekarang.

Mantan ketua Slemania, Asep Hendi Kurniawan berbagi kisah menarik tentang sejarah terbentuknya Slemania, hingga mampu menjaga eksistensinya di tengah hantaman budaya suporter baru yang masuk ke Indonesia.

Berikut ulasan menarik tentang kiprah Slemania sebagai suporter fanatik PSS yang pernah berjaya.

Video

2 dari 5 halaman

Lahir Berkat Sayembara

Slemania, pendukung PSS Sleman. (Bola.com/Robby Firly)

Terbentuknya Slemania tak lepas dengan momentum PSS setelah promosi ke Divisi Utama pada tahun 2000. Slemania lahir pada 22 Desember 2000.

Slemania dengan ciri khas warna hijau, semakin membesar seiring mulai banyaknya kelompok suporter dari berbagai daerah.

Suporter yang dikenal fanatik, loyal, dan cinta damai ini selalu menemani perjuangan PSS setiap bertanding, terutama di Stadion Tridadi.

Stadion Tridadi yang berkapasitas tak kurang dari 20 ribu penonton, selalu penuh. Bahkan, penonton harus meluber jika lawannya juga datang dengan membawa suporter.

"Awalnya banyak pendukung PSS yang belum punya wadah atau paguyuban. Kemudian digelar sayembara untuk nama yang sesuai, dan akhinya dcetuskan dengan nama Slemania," tutur Asep kepada Bola.com, Minggu (7/6/2020).

"Jadi pendukung yang begitu banyaknya belum tertata, kemudian terwadahi termasuk berkat peran almarhum Babe (Trimurti Wahyu Wibowo), sebagai ketua Slemania pertama," ujarnya.

3 dari 5 halaman

Berguru pada Pasoepati

Tak hanya Aremania, stadion juga diramaikan oleh kehadiran pendukung PSS Sleman, Slemania, pada laga Bali Island Cup 2016 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (21/2/2016). (Dok Bola.com)

Embrio Slemania tak lepas dari mulai bermunculan kelompok suporter di berbagai klub yang lebih dulu ada. Jakmania, Bobotoh, Bonekmania, Aremania, atau Pasoepati, cukup memengaruhi dunia suporter di Sleman.

Asep Hendi bercerita, Pasoepati yang menjadi guru Slemania untuk semakin bisa membesar dan berkreasi. Pasoepati lebih dulu lahir sebelum Slemania, dan mereka berguru kepada Aremania saat datang ke Solo.

Cerita itu diperkuat pula saat Bola.com sempat bertemu dengan Maryadi "Gondrong" Suryadharma, pentolan Pasoepati yang merupakan dirijen pertama mereka. Ia mengaku pernah diundang untuk memimpin aksi Slemania ketika PSS bertanding di Stadion Tridadi.

"Kalau guru kami adalah Pasoepati. Kami diajari caranya menyanyi, kemudian gerakan, sampai memainkan alat musiknya," beber Asep.

 

4 dari 5 halaman

Utamakan Persaudaraan

Pemandangan koreografi yang disuguhkan Slemania dalam laga PSS melawan Persipura di Stadion Maguwoharjo, Kamis (19/9/2019). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Slemania dikenal sebagai suporter kreatif, atraktif, dan cinta damai. Mereka tidak mempunyai rival suporter dari daerah lain.

Meskipun pernah terjadi gesekan dengan suporter lain di stadion, dengan cepat mereda. Kemudian hubungan antar suporter mencair dan harmonis.

"Kami punya slogan sportif, atraktif, anti anarkistis. Itu yang selalu kami pegang dengan tujuan tanpa permusuhan. Rivalitas hanya 90 menit di lapangan, setelah itu kita bersaudara lagi. Pernah sih dengan suporter lain gesekan, namun bisa mencair kembali," turunnya.

"Banyak suka duka yang saya alami selama di Slemania. Sukanya tentu banyak teman, banyak saudara, seperti rumah kedua selain selain keluarga sendiri. Dukanya banyak merepotkan orang, karena kalau ada kerusuhan pasti ditelepon polisi," lanjut Asep Handi.

 

5 dari 5 halaman

Eksis Sampai Sekarang

Aksi anggota Slemania saat mendukung PSS melawan Tira Persikabo di Stadion Maguwoharjo, Minggu (8/3/2020). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Slemania yang begitu besar kini mulai tergerus. Anggota mereka yang dulu pernah mencapai angka puluhan ribu orang ketika mendukung PSS di stadion, kini hanya tinggal dua ribuan saja.

Banyak Slemania yang memilih menyeberang menjadi anggota Brigata Curva Sud (BCS) yang beraliran ultras. Jika dulu kandang PSS begitu identik dengan warna hijau, kini terlihat hitam khas BCS.

Meski jumlahnya tidak sebanyak dulu, aksi-aksi yang ditunjukkan Slemania cukup atraktif, ermasuk koreografi yang disuguhkan dengan menarik.

Asep memaklumi situasi tersebut, karena adanya pengaruh budaya suporter yang berbeda. Sehingga membuat masing-masing suporter akan menjatuhkan pada pilihannya.

"Suporter itu beragam, ada yang mengikuti perkembangan zaman. Mohon maaf seperti ada budaya suporter dari luar terutama Eropa yang masuk ke Indonesia. Sementara Slemania tetap berpegang teguh dengan gaya asli Indonesia," ungkapnya.

"Kami mempertahankan apa yang selama ini diwariskan di Slemania. Wajar sih, mayoritas Indonesia kelompok ultras sudah mulai banyak. Kami percaya tidak ada gap, karena tujuannya sama yakni mendukung klub kebanggaan," jelas Asep menutup obrolan dengan Bola.com.

Berita Terkait