Raphael Maitimo dan 4 Pemain Naturalisasi Berkualitas untuk Timnas Indonesia

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 04 Agu 2020, 08:15 WIB
Alberto Goncalves, Cristian Gonzales dan Stefano Lilipaly. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Dari sekian banyaknya pemain yang dinaturalisasi demi kepentingan Timnas Indonesia, Raphael Maitimo menjadi satu di antara nama yang mampu bersinar. Lahir dan besar di Rotterdam, Belanda, gelandang berusia 36 tahun ini memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 2010.

Namun, proses naturalisasi Maitimo baru rampung pada 2012. Pasalnya, pemain Persita Tangerang ini menghadapi rumitnya birokrasi untuk mengubah kewarganegaraannya.

Advertisement

Setelah menjadi WNI, Maitimo langsung memperkuat Timnas Indonesia. Pelatih Nilmaizar memanggilnya untuk Piala AFF 2012 bersama pemain naturalisasi lainnya, Jhonny van Beukering.

Sebagai pemain multiposisi, kualitas Maitimo kala itu cukup vital bagi Timnas Indonesia. Mantan pemain Persib Bandung itu bisa dipasang sebagai gelandang bertahan maupun bek sayap kanan.

Selain di Piala AFF 2020, Maitimo juga membela Tmnas Indonesia di Piala AFF 2014 dan Kualifikasi Piala Asia 2015 pada 2013-2014. Total, eks pemain SC Feyenoord ini mengumpulkan 17 penampilan untuk tim Merah-Putih. Maitimo telah berhenti menjadi langganan Timnas Indonesia sejak 2014.

Selain Maitimo, siapa lagi pemain naturalisasi yang bermanfaat untuk Timnas Indonesia? Berikut empat di antaranya:

Video

2 dari 5 halaman

Cristian Gonzales

Raphael Maitimo dan Cristian Gonzales, dua pemain naturalisasi yang tak dipanggil Timnas Indonesia. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Pada 3 November 2010 atau tepatnya sebelum penyelenggaraan Piala AFF 2010, Gonzales mendapatkan paspor Indonesia dan dipanggil oleh Timnas Indonesia untuk turnamen tersebut.

Pada 21 November 2010 Gonzales melakukan debut saat Timnas Indonesia menghadapi Timor Leste dalam pertandingan persahabatan jelang Piala AFF 2010. Dalam pertandingan tersebut, mantan pemain Persik Kediri ini mencetak dua dari enam gol kemenangan tanpa balas.

Saat pergelaran Piala AFF 2010, Gonzales menjadi momok yang menakutkan bagi pertahanan lawan.

Terbukti, Gonzales mampu menciptakan dua gol penting yang masing-masing disarangkan ketika menghadapi Filipina pada leg pertama dan kedua semi final Piala AFF 2010. Gonzales mengantarkan Indonesia melaju ke babak final Piala AFF 2010 untuk menghadapi Malaysia. Namun, tim berjulukan Skuat Garuda ini gagal menjadi juara.

Soccerway mencatat Gonzales membukukan 25 penampilan dan mencetak sembilan gol untuk Timnas Indonesia. Penampilan terakhirnya terjadi pada 2015 ketika beruji coba melawan Myanmar.

3 dari 5 halaman

Stefano Lilipaly

Gelandang Timnas Indonesia, Stefano Lilipaly, menyapa suporter usai mengalahkan Timor Leste pada laga Piala AFF 2018 di SUGBK, Jakarta, Selasa (13/11). Indonesia menang 3-1 atas Timor Leste. (Bola.com/Yoppy Renato)

Stefano Lilipaly resmi mengucap sumpah sebagai Warga Negara Indonesia pada 2011. Lilipaly kemudian memulai debutnya bersama Timnas Indonesia pada 2013.

Pertandingan resmi pertama yang menandai debut Stefano Lilipaly bersama Timnas Indonesia terjadi pada 8 Oktober 2016. Dalam laga persahabatan melawan Vietnam, Lilipaly tampil penuh.

Lilipaly kemudian dipercaya masuk dalam skuad Piala AFF 2016. Lilipaly berhasil menjadi andalan Timnas Indonesia di bawah asuhan Alfred Riedl dan mencetak gol pertamanya melawan Singapura pada November 2016.

Pada Piala AFF 2016, Lilipaly tampil sebanyak tujuh kali dan mengantarkan Timnas Indonesia ke final. Sayang, Timnas Indonesia takluk dengan agregat 2-3 dari Thailand.

Namun, Lilipaly tidak dipanggil Timnas Indonesia untuk pemusatan latihan kali ini. Keputusan Shin Tae-yong menepikan Lilipaly terbilang mengejutkan.

Performa gelandang naturalisasi asal Belanda itu tidak jelek-jelek amat selama berseragam Timnas Indonesia. Pemain naturalisasi asal Belanda itu tampil dalam 27 pertandingan sejak 2016 dengan mengukir tujuh gol.

Namun, mengacu dari karakter gelandang yang dipanggil ke TC Timnas Indonesia, Shin Tae-yong terlihat tidak membutuhkan tenaga Lilipaly, yang kerap berperan sebagai gelandang serang, winger maupun penyerang lubang. Sebab, di posisi itu, telah diisi oleh pemain yang lebih segar semodel Adam Alis dan Egy Maulana Vikri.

4 dari 5 halaman

Alberto Goncalves

Striker Timnas Indonesia, Alberto Goncalves, merayakan gol yang dicetaknya dalam laga uji coba internasional kontra Vanuatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (15/6/2019). Beto Goncalves sukses mencetak empat gol dalam laga ini. (Bola.com/Yoppy Renato)

Timnas Indonesia baru merasakan kontribusi Alberto Goncalves saat usianya memasuki senjakala karier. Ketika telah menginjak usia 36 tahun, penyerang berdarah Brasil ini baru dinaturalisasi.

Sejak dinaturalisasi pada 2017, pemain yang karib dipanggil Beto itu mengemas 12 gol dari 12 penampilan bersama Timnas Indonesia dan juga kelompok usia U-23 ketika menjadi satu dari tiga pemain over-aged di Asian Games 2019.

Juni tahun lalu, striker kelahiran Belem, State of Para, Brasil, tersebut membukukan quattrick alias empat gol sekaligus ketika membantu Timnas Indonesia membantai Vanuatu 6-0 dalam uji coba bertajuk FIFA A Match di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

Beto hadir kala Timnas Indonesia paceklik pencetak gol yang produktif. Kualitasnya begitu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Bahkan di level klub, Beto selalu mencetak dua digit gol pada setiap musimnya. Total, sang bomber telah mengemas 149 gol di Liga Indonesia.

Sejak Shin Tae-yong mengambil alih Timnas Indonesia pada Desember 2019, Beto, tidak pernah lagi masuk ke skuat. Padahal, penyerang Madura United ini berstatus pemain tersubur Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 dengan dua gol.

Dalam usianya yang akan menginjak kepala empat pada tahun ini, Beto masih bisa menggigit. Dalam 30 penampilan untuk Madura United selama dua musim belakangan, pemain naturalisasi asal Brasil itu mampu mengukir 21 gol.

Sementara di Shopee Liga 1 musim ini, Beto masih tercatat sebagai penyerang tajam. Mantan pemain Sriwijaya FC ini membukukan tiga gol, hanya tertinggal satu gol dari top scorer sementara, Wander Luiz.

5 dari 5 halaman

Ilija Spasojevic

Striker Indonesia, Ilija Spasojevic, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Guyana pada laga persahabatan di Stadion Patriot, Bekasi, Sabtu (25/11/2017). Indonesia menang 2-1 atas Guyana. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Ilija Spasojevic mungkin tidak pernah berpikir akan lama menetap di Indonesia. Setelah melanglang buana di Montenegro, Serbia, Georgia, dan Yunani, bomber berusia 32 tahun tersebut datang ke pulau nan indah, Bali, pada 2011.

Saat di Georgia, Spaso, panggilannya, berhasil mencicipi nuansa Liga Champions 2008-2009 bersama Dinamo Tbilisi. Namun, dia hanya dua kali tampil di babak kualifikasi. Spaso juga pernah berseragam Timnas Montenegro U-21 di Piala Eropa U-21 2009 di Swedia.

Spaso malah memilih hijrah ke Indonesia dan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 2017. Keputusan yang membingungkan, namun takdir yang menjawabnya.

Debut pertama Spaso bersama Timnas Indonesia ialah ketika membela Timnas Indonesia U-23 melawan Suriah pada laga persahabatan di Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada November 2017. Skuat kelompok umur U-23 ketika itu dipersiapkan untuk bertanding di Asian Games 2018, dengan Spaso menjadi nominasi untuk mengisi tiga slot pemain senior.

Gol pertamanya tercipta pada November 2017 ketika beraksi untuk Timnas Indonesia U-23 melawan Guyana. Dia bahkan mencetak brace untuk mengantar timnya meraih kemenangan 2-1.

Sayang, Spaso tidak terpilih masuk ke skuat Asian Games 2018 dan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia. Dia kalah bersaing dari Alberto Goncalves.

Spaso kembali ke Timnas Indonesia setelah dilatih oleh Shin Tae-yong. Menurut catatan Soccerway, striker Bali United ini baru mengoleksi empat caps bersama Timnas Indonesia dan membukukan tiga gol.

Berita Terkait