Webinar Half Time KLY Sport Jelang Shopee Liga 1 Berjalan Seru, Narasumber Buka-bukaan

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 28 Sep 2020, 22:43 WIB
Half Time Show jelang Shopee Liga 1 2020

Bola.com, Jakarta - Webinar Half Time Show yang bertajuk "Jelang Restart Shopee Liga 1 2020: Seberapa Siap Kita Semua?" persembahan dari Bola.com dan Bola.net berjalan seru. Narasumber berani buka-bukaan pada acara yang berdurasi selama 60 menit ini.

Half time Show yang berlangsung pada Senin (28/9/2020) malam WIB, dipandu oleh dua jurnalis senior Bola.com, Erwin Fitriansyah dan Ario Yosia. Keduanya mampu memancing narasumber untuk menjawab pertanyaan yang selama ini bikin khalayak penasaran.

Advertisement

Half time Show menghadirkan tiga narasumber kredibel yang menjadi kunci dalam kelanjutan Shopee Liga 1 musim ini. Ketiganya adalah Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita, dan General Manager Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI), Ponaryo Astaman.

"Atas beberapa pertimbangan, Shopee Liga 1 harus dilanjutkan. Satu di antara faktornya karena Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Arahan presiden, sepak bola mesti jalan terus untuk menghidupi roda perekonomian di sekitarnya. Karena aspek kemanusiaan ini, PSSI berpikir penting sekali untuk melanjutkan kompetisi," kata Yunus Nusi membuka pembicaraan.

Yunus Nusi sepakat dengan pernyataan dari Erwin Fitriansyah bahwa tujuan kompetisi itu adalah untuk membentuk timnas yang kuat. Namun, perlu diingat, Timnas Indonesia seluruh kelompok usia sama sekali tidak akan bertanding dalam turnamen di sisa tahun ini. Lantas, Timnas Indonesia level mana yang paling diuntungkan dengan dilanjutkannya Shopee Liga 1?

"Harapan kami, kompetisi berpengaruh secara aktif dan maksimal untuk Timnas Indonesia senior dan U-19. Sebelumnya, Piala AFF untuk senior masih sesuai jadwal pada Desember 2020 sebelum ditunda menjadi tahun depan," imbuh Yunus Nusi.

"Lalu juga Piala AFC U-19 2020 rencananya berlangsung pada Oktober 2020. Namun juga ditunda. Kami berharap pemain bisa mengikuti kompetisi untuk terus mengasah kemampuan mereka. Sebab, pada tahun depan, mereka sudah ditunggu banyak agenda," ujar pria yang juga menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI tersebut.

Video

2 dari 3 halaman

Janji PT LIB Terkait Protokol Kesehatan

Direktur PT Liga Indonesia Baru, Akhmad Hadian Lukita. (Bola.net/Fitri Apriani)

Sementara itu, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita menyebut pekerjaan paling penting dalam melanjutkan Shopee Liga 1. Menurutnya persiapan paling krusial adalah menyiapkan protokol kesehatan. Dalam merumuskannya, PT LIB banyak bertanya dengan stakeholder lainnya. Termasuk belajar dari kompetisi di Eropa.

"Protokol kesehatan adalah hal yang paling utama. Kami mendapatkan pesan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menangani COVID-19 di kompetisi. Kami juga membentuk satgas. Kami menjadwalkan tes swab untuk pemain. Kami juga menyiapkan protokol kesehatan apabila ada pemain yang positif COVID-19," imbuh Lukita.

"Ada lagi misalnya di perjalanan menggunakan bus. Supir dan kenek bus harus tes swab lebih dulu. Posisi duduk juga diatur. Ada jaga jarak. Kami memakai standar di kompetisi Eropa untuk Shopee Liga 1."

"Lalu di hotel, kami menyiapkan dua kamar untuk isolasi pemain yang kondisinya kurang sehat. Bukan hanya yang positif COVID-19, pemain mengalami flu pun kami akan isolasi. Meriang sedikit, harus diperiksa oleh dokter dulu," terangnya.

3 dari 3 halaman

APPI Bernafas Lega

General Manager APPI, Ponaryo Astaman, saat memperlihatkan kartu anggota APPI yang didukung Fisik Football. (Bola.com/Benediktus Gerendo Pradigdo)

Perbincangan semakin seru ketika Ponaryo menceritakan gejolak di internal APPI. Ada pemain yang setuju Shopee Liga 1 dilanjutkan, ada pula yang tidak. Karena dijanjikan protokol kesehatan yang ketat, para pemain pun bersedia untuk kembali menari di lapangan hijau.

"Di pemain, porsinya terbelah. Ada yang masih khawatir, tapi lebih banyak pemain yang ingin kompetisi dilanjutkan. Dengan catatan, protokol kesehatan bisa lebih komprehensif. Euforia mereka sudah tidak tertahankan. Mereka sudah rindu. Kegembiraan itu ada. Dengan situasi kompetisi berjalan, imun bisa meningkat. Tinggal bagaimana protokol kesehatan itu dijalankan," ucap Ponaryo.

Ponaryo juga menyanjung keputusan klub yang tetap memberikan gaji para pemainnya di atas ambang ketentuan dari PSSI. Lewat Surat Keputusan bernomor SKEP/53/VI/2020, klub dipersilakan memangkas upah para pemain hingga 50 persen.

"PSSI dua kali mengeluarkan surat keputusan. Yang pertama menimbulkan polemik karena tidak melibatkan pemain dan pelatih. Padahal, yang berkepentingan itu pemain dan pelatih bersama klubnya," kata Ponaryo. 

"Diperbaiki di surat keputusan kedua. Ada simpang siur jumlahnya. Seiring berjalannya waktu, negosiasi itu kembali ke hakikatnya. Hasil akhirnya macam-macam. Ada yang sesuai. Ada yang di atas dan juga di bawah. Ini catatan bahwa memang yang paling berkepentingan itu adalah klub dan pemain," lanjutnya. 

Berita Terkait