Profil Brad Binder: Pembalap MotoGP yang Nekat dan Bernyali Besar

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 16 Agu 2021, 08:00 WIB
MotoGP - Brad Binder (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Nekat dan bernyali besar, dua attitude yang tampaknya pas disematkan kepada Brad Binder. Pembalap MotoGP dari Red Bull KTM ini bikin geger usai memenangi balapan GP Austria 2021.

Brad Binder dengan cara luar biasa berhasil memenangi MotoGP Austria 2021. Ia nekat tidak ganti motor meski hujan turun di akhir balapan, namun perjudian itu berakhir membuatnya finis di depan Francesco Bagnaia dan Jorge Martin.

Advertisement

Semua bermula ketika hujan mulai membasahi Sirkuit Red Bull Ring, Spielberg, Austria, memasuki lap-lap terakhir. Brad Binder memutuskan untuk tidak mengganti ban meski pembalap lain berduyun-duyun mengganti motor yang telah disesuaikan dengan kondisi trek basah.

"Itu benar-benar menakutkan! Ketika saya melihat hujan datang, saya mencoba menghitung berapa detik putaran yang bisa saya lepas jika saya tetap pada ban slick dan ketika saya melihat semua pembalap mengganti motor, saya memutuskan untuk bertaruh," kata Binder.

Tak cuma itu saja, Binder bahkan mengklaim remnya tidak berfungsi dengan normal karena mendingin akibat guyuran hujan.

"Saya masih bisa memacu motor saya secara maksimal untuk beberapa saat, tapi begitu ban belakang mendingin rasanya seperti naik motor di atas es! Kemudian rem karbon saya menjadi dingin. Praktis saya tidak punya rem. Saya pikir ada seseorang yang menahan saya di sana," ujar Brad Binder lagi.

Petinggi Red Bull KTM Factory Team, Stefan Pierer, girang bukan main melihat Brad Binder juara GP Austria 2021. Ia memang berharap pembalap itu naik podium, tapi tak menyangka bisa finis terdepan dengan cara yang luar biasa unik.

"Saya berharap Brad Binder bisa naik podium, tapi sungguh tak ada yang menyangka dia bisa memenanginya dengan rasa percaya diri tinggi di situasi yang sangat sulit," kata Pierer dinukil dari Speed Week.

"Untuk bisa bermanuver dan tidak terjatuh di trek basah dengan ban slick dibutuhkan nyali tinggi, bahkan untuk kelas pembalap MotoGP," katanya lagi.

Ya, Brad Binder memang nekat! Ia sudah membalap sejak usia 8 tahun dengan mengawali ketertarikannya pada olahraga kart racing atau karting. Dari roda empat, dua tahun berselang, rider berusia 26 tahun itu kemudian menguji nyalinya dengan 'hijrah' ke roda dua, yang jelas adalah keputusan tepat.

Seperti apa sih kisah perjalanan karier Brad Binder menuju MotoGP

Video

2 dari 5 halaman

Masa-Masa di Rookies Cup

Disaat pembalap lain memasuki pit stop untuk mengganti motor, Brad Binder mengambil resiko untuk tetap menggunakan motor dengan ban kering di situasi hujan. Keputusan yang sangat gambling itu terbayarkan dengan lunas. (Foto: AP/Steve Wobser)

Binder lahir di Potchefstroom, Afrika Selatan, pada 11 Agustus 1995. Ia mengaku sebagai rider asal Afrika Selatan turun di MotoGP adalah impian besar sejak anak-anak. Ia nekat jauh-jauh berkompetisi Eropa dengan turun di ajang Red Bull Rookies Cup pada 2009.

Rookies Cup adalah kejuaraan balap junior yang seluruh motornya disuplai oleh KTM dan diikuti para rider muda dari berbagai negara. Binder turun di ajang itu selama tiga musim, sampai akhirnya ke Moto3 secara penuh pada 2012.

Menurut Binder, Rookies Cup merupakan ajang yang sangat membantu pembalap untuk naik ke ajang Grand Prix. Beberapa lulusannya yang paling mencolok adalah Johann Zarco, Lorenzo Baldassarri, dan Jorge Martin.

Meski Afrika Selatan punya berbagai sirkuit mengagumkan, uniknya hanya sedikit pebalap motornya yang turun di ajang dunia. Atas alasan ini, Binder mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan tempat di Rookies Cup.

3 dari 5 halaman

Debut di GP125 dan Juara Dunia Moto3

Persaingan sengit terjadi sejak awal balapan. Pecco Bagnaia berhasil menyalip Jorge Martin di lap pertama tikungan 4 dan membuat jarak antarpembalap tak berbeda jauh. (Foto: AP/Steve Wobser)

Binder menjalani debut Grand Prix di kelas GP125 2011, turun dalam lima balapan bersama Andalucia Banca Aprilia. Binder akhirnya berkompetisi secara penuh di Moto3 pada 2012 di atas Kalex KTM bersama RW Racing GP, serta Ambrogio Racing pada 2013 dan 2014 bersama Mahindra.

Setelah meraih dua podium sepanjang 2014, Binder digaet tim prestisius di Moto3, Red Bull KTM Ajo, pada 2015. Bersama tim itu, Binder sukses meraih empat podium dan duduk di peringkat 6 pada klasemen akhir musim.

Pada 2016, ia mengambil alih peran sang tandem, Miguel Oliveira, yang pindah ke Moto2 setelah jadi runner up Moto3. Binder tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan langsung meraih 14 podium yang tujuh di antaranya merupakan kemenangan. Alhasil, ia sukses jadi juara dunia.

4 dari 5 halaman

Naik ke Moto2 pada 2017

Di posisi kedua, Francesco Bagnaia membalap dengan heroik pada tiga lap terakhir untuk menyusul beberapa rider di depannya setelah berganti motor. Podium MotoGP Austria dilengkapi oleh pembalap Pramac Racing, Jorge Martin. (Foto: AFP/Joe Klamar)

Sebagai juara dunia Moto3 2016, kehadiran Brad Binder di kelas-kelas yang lebih tinggi selalu dinanti. Pada 2017, ia naik ke kelas Moto2, masih membela Red Bull KTM Ajo. Ia 'reuni' dengan Oliveira dan bertandem dengan rider Portugal itu selama dua musim.

Meski selalu di bawah bayang-bayang Oliveira, penampilan Binder sejatinya sama bersinarnya. Pada 2018, ia sukses meraih tiga podium yang ketiganya merupakan kemenangan, tanda bahwa ia sekali lagi siap mengambil alih peran Oliveira yang naik ke MotoGP bersama Red Bull KTM Tech 3 pada 2019.

Masih bernaung di tim yang sama, Binder telat panas pada 2019. Namun, pada pertengahan musim ia tampil garang dan total meraih sembilan podium yang lima di antaranya merupakan kemenangan. Ia duduk sebagai runner up, hanya tertinggal 3 poin dari Alex Marquez.

5 dari 5 halaman

Debut di MotoGP dan Kemenangan untuk KTM

Brad Binder saat mengaspal pada seri ketiga MotoGP 2020 di Sirkuit Brno, Republik Ceska. (Joe Klamar / AFP)

Sebelum meraih kemenangan di Moto2 Austria pada Agustus 2019, Binder tanda tangan kontrak dengan Red Bull KTM Tech 3 untuk MotoGP 2020. Meski begitu, menyusul permintaan Johann Zarco kepada KTM untuk melepasnya pada akhir musim, Binder dialihkan ke Red Bull KTM Factory Racing.

Dengan pembawaannya yang tenang namun dengan gaya balap yang sangat agresif, seperti tandemnya saat ini, Pol Espargaro, Binder diprediksi cocok dengan motor RC16 dan jadi ujung tombak pengembangan KTM di MotoGP pada masa mendatang.

Binder sukses mewujudkan prediksi itu lewat kemenangannya di Brno. Selain sukses meraih kemenangan MotoGP perdana bagi dirinya sendiri dan KTM, Binder juga pembalap Afrika Selatan pertama yang mampu meraih kemenangan di era MotoGP.

Tak hanya itu, kakak kandung rider Moto3 Darryn Binder ini juga berhasil menjadi debutan MotoGP pertama yang mampu meraih kemenangan sejak Marc Marquez memenangi MotoGP Austin, Texas, pada 2013.

Berita Terkait