Arsenal di Ambang Juara Liga Inggris, Mikel Arteta: Salurkan Energi Ini ke Arah yang Tepat!

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, mendesak skuadnya untuk menyalurkan energi dengan cara yang benar saat gelar juara Liga Inggris di depan mata.

Bola.com, Jakarta - Arsenal mulai bisa melihat garis akhir. Setelah tiga musim beruntun hanya menjadi runner-up, tim asuhan Mikel Arteta itu kini tinggal selangkah lagi mengakhiri penantian panjang gelar Liga Inggris yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.

Di lorong yang menghubungkan pintu masuk pemain menuju area media Stadion Emirates, terpajang deretan foto tim Arsenal dari musim ke musim. Setiap foto menampilkan trofi yang berhasil dimenangkan pada musim sebelumnya.

Rangkaian itu membawa kembali ingatan ke era kejayaan Arsène Wenger, termasuk musim 2001/2002 saat Arsenal merebut gelar ganda Liga Inggris dan Piala FA usai menyalip Manchester United dalam perebutan titel.

Tak jauh dari sana, foto skuad Invincibles juga masih berdiri mencolok.

Itulah kali terakhir Arsenal menjadi juara liga, tepatnya 22 tahun lalu. Penantian selama itu menjadi paceklik terpanjang Arsenal sejak meraih gelar liga pertama mereka pada 1931 di bawah Herbert Chapman.

Setelahnya memang ada beberapa trofi Piala FA, termasuk pada musim pertama Arteta setelah menggantikan Unai Emery pada Desember 2019. Namun, lemari prestasi itu lama berhenti terisi.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Situasi Berubah

Kini situasinya berubah. Arsenal memasuki pekan-pekan terakhir musim dengan peluang besar merebut trofi yang paling mereka dambakan.

Bahkan jika Manchester City mengalahkan Brentford dan memangkas jarak menjadi dua poin, Arsenal tetap berada di posisi sangat menentukan.

Kemenangan atas West Ham di Stadion London, Minggu (10-5-2026), akan membawa mereka makin dekat ke tangga juara.

Laga kandang melawan Burnley yang sudah terdegradasi pekan depan juga dipandang sebagai kesempatan menambah selisih gol sebelum Arsenal bertandang ke markas Crystal Palace pada pekan terakhir.

Meski begitu, Arteta menolak memikirkan berbagai skenario yang berkembang.

"Saya tidak tahu dari mana teori itu muncul," kata Arteta jelang lawatan ke markas West Ham.

"Kami harus berada di sana, kami harus lebih baik daripada lawan dan memenangkan pertandingan. Kalau kami melakukannya, tentu kami akan semakin dekat," ujarnya.

Momen Bagus

Perubahan suasana hati Arteta juga terasa jelas. Seusai membawa Arsenal lolos ke final Liga Champions untuk pertama kalinya sejak era Wenger pada 2006, pelatih asal Spanyol itu sempat berjoget di lapangan bersama pemain dan suporter mengikuti lagu Arsenal yang menyebut nama skuad utama serta slogan khasnya seperti "make it happen".

Namun, Arteta buru-buru mengesampingkan euforia tersebut. Ia tidak ingin Arsenal kehilangan fokus karena terlalu memikirkan duel besar melawan Paris Saint-Germain racikan Luis Enrique di final Liga Champions.

"Saya pikir kami sedang berada dalam momen yang sangat bagus," ujar Arteta.

"Anda bisa merasakan energinya pada malam setelah pertandingan. Saya melihatnya setiap hari di sini. Saya tahu betapa besar keinginan kami untuk meraihnya dan itu sangat positif."

"Kami harus menyalurkan energi itu dengan cara yang tepat karena kekuatannya sangat besar. Para pemain percaya diri. Mereka yakin dan sangat menantikan pertandingan hari Minggu. Itu mungkin bagian terbaiknya," tutur Arteta.

Sempat Goyah

Musim Arsenal sebenarnya sempat goyah. Harapan meraih empat gelar sirna setelah kalah di final Carabao Cup, Maret lalu. Mereka juga sempat tersingkir dari Piala FA dan kalah dari Bournemouth di kandang sendiri dalam periode buruk pada April.

Kekalahan dari Man City di Etihad bulan lalu bahkan membuat Arsenal tergeser dari puncak klasemen untuk pertama kalinya dalam 200 hari.

Namun, Arteta justru berhasil membangun kembali solidaritas di ruang ganti. Tekanan dan kegugupan perlahan berubah menjadi tekad kuat yang menyebar ke seluruh skuad.

Arteta menyebut satu momen penting datang dari Declan Rice seusai kekalahan di Etihad. Gelandang Timnas Inggris itu melontarkan seruan: “Ini belum selesai."

"Saya pikir itu awal dari kalimatnya," kata Arteta.

"Ini belum selesai, dan kami semakin yakin akan bisa melakukannya.' Itulah perasaannya, bahkan tanpa perlu mereka ungkapkan di ruang ganti. Saya langsung merasakannya," imbuh pelatih berusia 44 tahun itu.

Kebangkitan Gyokeres dan Saka

Kebangkitan performa Viktor Gyokeres juga ikut memberi dorongan besar. Gyokerest kini mengoleksi sembilan gol dalam 11 penampilan terakhir bersama klub dan timnas setelah sempat dicadangkan saat melawan City.

Selain itu, keputusan Arteta memainkan Myles Lewis-Skelly di lini tengah ketika menghadapi Fulham dan Atletico Madrid, serta kembalinya performa terbaik Bukayo Saka, ikut mengubah narasi Arsenal.

Dari tim yang kerap dituding gagal di momen penting, mereka kini dipandang sebagai calon juara.

Arteta menegaskan timnya tinggal menyelesaikan langkah terakhir.

"Saya sudah mengatakan tiga atau empat bulan lalu soal bagaimana menghadapi situasi ini, dan semuanya berjalan persis seperti itu," ujar Arteta.

"Para pemain merespons dengan sangat baik. Kami datang ke sana melawan West Ham dengan memahami betapa pentingnya pertandingan ini."

"Yang benar-benar mendorong tim adalah hasrat luar biasa untuk menang. Dalam tiga atau empat musim terakhir, kami sudah menunjukkan kemampuan kami lewat performa dan konsistensi. Sekarang tinggal membuktikannya ketika momen paling menentukan tiba," tegas Arteta.

 

Sumber: The Guardian

Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer