Awal Mula Shin Tae-yong Minta Pemain Keturunan untuk Dinaturalisasi: Demi Bawa Timnas Indonesia Juara

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 11 Jan 2022, 13:30 WIB
Di pemusatan latihan nanti, Indonesia akan melakukan laga uji coba untuk persiapan jelang menghadapi Piala AFF 2020. Pasukan Shin Tae-yong akan bertanding melawan Afghanistan (16/11/2021) dan Myanmar (25/11/2021) di Turki. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bola.com, Jakarta - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Hasani Abdulgani, menceritakan awal mula pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong meminta empat pemain keturunan di Eropa untuk dinaturalisasi.

Shin Tae-yong menyodorkan Sandy Walsh, Jordi Amat, Mees Hilgers, dan Kevin Diks pada November 2021 kepada PSSI untuk dinaturalisasi demi membela Timnas Indonesia.

Advertisement

Belakangan, pelatih asal Korea Selatan itu membatalkan pengajuan Kevin Diks. Sebab, pemain berusia 25 tahun itu punya posisi yang sama dengan Sandy Walsh, yakni bek sayap kanan.

Slot Kevin Diks lalu digantikan oleh Ragnar Oratmangoen, pemain keturunan di Eropa lainnya yang berperan sebagai winger kanan.

Awalnya, Hasani mengungkapkan PSSI tidak punya rencana untuk menaturalisasi pemain, termasuk pesepak bola keturunan. Namun, keinginan dari Shin Tae-yong membuat pihaknya berubah pikiran.

Ketika mengikat Shin Tae-yong dengan kontrak empat tahun pada akhir Desember 2019, PSSI menargetkan sang pelatih membawa Timnas Indonesia menjuarai turnamen di level Asia Tenggara (ASEAN).

2 dari 6 halaman

Cerita Hasani Abdulgani

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. (PSSI).

Hasani mengisahkan, Shin Tae-yong merasa komposisi yang ada tidak cukup untuk membuat Timnas Indonesia berprestasi. Solusinya, arsitek berusia 51 tahun itu disebutkan butuh pemain keturunan demi memenuhi target dari PSSI.

"Jadi, PSSI tidak punya rencana untuk menaturalisasi, termasuk pemain keturunan. Di sisi lain, PSSI menuntut Shin Tae-yong untuk membawa Timnas Indonesia menjuarai turnamen di ASEAN," kata Hasani ketika dihubungi Bola.com.

"Di ASEAN ada dua, SEA Games dan Piala AFF. Bukan berarti Piala AFF tahun ini atau dua tahun lagi. Namun, semasa kontraknya, paling tidak dia bisa mengantar Timnas Indonesia menjadi juara pada satu di antara dua kejuaran itu."

"Shin Tae-yong sanggup dengan target itu. Namun, dia bilang 'boleh tidak ada syaratnya' kami tanya, syaratnya apa? Awalnya, dia yakin dengan materi pemain lokal."

"Tapi setelah dilihat, akhirnya dia bilang 'boleh tidak saya minta pemain tambahan?' Pemain tambahan yang bagaimana? Dia bilang 'pemain tambahan keturunan yang ada di luar negeri'," jelas Hasani.

3 dari 6 halaman

Pro dan Kontra di PSSI

Pemain keturunan Indonesia, Sandy Walsh berbaju KV Mechelen. (Instagram Sandy Walsh).

Hasani menjelaskan permintaan dari Shin Tae-yong itu sempat memicu pro dan kontra dari PSSI. Namun, pihaknya menyadari bahwa naturalisasi pemain berdarah Indonesia berbeda dengan pemain non-keturunan.

"Awalnya di PSSI juga terjadi perdebatan. Naturalisasi lagi saja ini. Namun, setelah kami pelajari semua, naturalisasi pemain yang tidak punya keturunan itu sangat berbeda dengan yang memiliki keturunan," ungkap Hasani.

"Ternyata jauh lebih mudah jika kami melihat aturan FIFA. Lalu diajukan empat nama oleh Shin Tae-yong. Semuanya pemain belakang. Soal teknis kenapa alasannya, itu dia yang lebih tahu," tutur Hasani.

Hasani lalu diutus oleh Ketua PSSI, Mochamad Iriawan untuk mendekati empat keturunan itu.

4 dari 6 halaman

Hubungi Koneksi di Eropa

Pemain keturunan Indonesia, Jordi Amat ketika masih membela Swansea City. (AFP/ADRIAN DENNIS).

Hasani memanfaatkan koneksinya di Eropa untuk menjembataninya dengan keempat pemain itu. Setelah berhasil, pria yang juga menjabat sebagai Presiden Komisaris Mahaka Sports and Entertainment itu mulai menjalin komunikasi lewat agen masing-masing pemain.

"Saya lihat prosesnya lambat. Lalu Ketua PSSI bilang ke saya 'Pak Hasani, tolong dong bantu urusin ini' saya bilang oke. Itu kira-kira pada November 2021. Begitu diberikan tanggung jawab, saya pikir harus segera diselesaikan," papar Hasani.

"Saya hubungi kontak saya di Eropa untuk bantu ini dan ternyata cepat. Cerita pengajuan naturalisasi keempat pemain itu seperti ini. Orang-orang berpikir ada proyek naturalisasi, itu tidak."

"Jadi, PSSI membantu Shin Tae-yong karena kami memberikan target ke dia. Kira-kira seperti itu ceritanya," ujar Direktur Pelaksana Piala Presiden 2015 dan Piala Jenderal Sudirman 2015/2016 tersebut.

5 dari 6 halaman

Dokumen 2 Pemain Sudah Lengkap

Mees Hilgers. Bek tengah FC Twente berusia 20 tahun ini memiliki darah Indonesia dari sang ibu yang lahir di Manado. Meski lahir di Belanda, belum sekalipun ia bermain di level timnas yunior. Bersama FC Twente musim ini ia telah bermain 11 kali dengan mencetak 1 gol dan 1 assist. (twitter@fctwente)

Sementara itu, Hasani mengungkapkan dokumen Sandy Walsh dan Jordi Amat sudah lengkap. Saat ini, pihaknya tengah menunggu dokumen dari Mees Hilgers dan hasil wawancara Shin Tae-yong dengan Ragnar Oratmangoen.

"Untuk Sandy Walsh dan Jordi Amat sudah on progress antara mereka dan PSSI. Sedang kontak-kontakan seperti itu. Kalau untuk dua pemain lagi, Mees Hilgers dan Ragnar Oratmangoen, kami masih menunggu dokumen dari mereka," jelas Hasani.

Alur selanjutnya dalam proses naturalisasi para pemain keturunan ini adalah PSSI mengajukannya kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

"Menurut kami, dokumennya sudah lengkap. Nanti waktu kami bawa ke Kemenpora kalau ada yang kurang, kami mesti minta lagi. Saya kurang tahu soal syarat dokumen ini sebab saya tidak punya pengalaman," ujarnya.

"Mudah-mudahan sudah lengkap. Sudah ada akte kelahiran dan paspor. Semua persyaratan secara umum sudah ada. Sebagian dokumen sudah dikirim ke PSSI. Tinggal PSSI nanti membuat surat atau menyambung ke Kemenpora. Itu saya kurang tahu karena masih di luar negeri. Mungkin pekan depan," terang Hasani.

6 dari 6 halaman

Mees Hilgers Mengira Syarat Setelah Dinaturalisasi Harus Bermain di Indonesia

Berita Terkait