SEA Games 2021: Timnas Indonesia U-23 Banjir Peluang di Semifinal, Terus Apa yang Masih Kurang?

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 19 Mei 2022, 20:33 WIB
SEA Games - Benjamin Davis Vs Marc Klok - Thailand Vs Timnas Indonesia U-23 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia U-23 menelan kekalahan dari Thailand pada semifinal SEA Games 2021 cabang olahraga sepak bola, Kamis (19/5/2022). Meski memiliki banyak peluang, anak asuh Shin Tae-yong gagal memaksimalkannya menjadi gol.

Petaka Timnas Indonesia U-23 terjadi pada masa babak tambahan. Umpan terukur Benjamin Davis diselesaikan dengan baik oleh Weerathep Pomphan, tepatnya menit 96'.

Advertisement

Berdasarkan catatan lapangbola.com, Thailand hanya melepaskan tiga tendangan mengarah ke gawang. Jika dibandingkan dengan statistik Timnas Indonesia U-23 yang memperoleh delapan shots on target, tentu ada yang salah dengan ini.

Emosi yang sulit dikontrol juga masih jadi momok buat Timnas Indonesia U-23. Tiga kartu merah dikeluarkan wasit kepada Firza Andhika, Ricky Kambuaya, dan Rachmat Irianto.

Terkhusus bagi Rikcy dan Rachmat, kartu merah yang diterimanya adalah akibat dari kurangnya kontrol emosi sehingga wasit mengganjarnya dengan kartu kuning kedua.

Ya, Timnas Indonesia U-23 memiliki sejumlah keunggulan dari segi statistik, yakni perihal peluang on target. Lantas, apa yang salah dari penampilan Egy Maulana Vikri dkk. saat menghadapi Thailand pada semifinal SEA Games 2022?

2 dari 5 halaman

Kelamaan Goreng Bola

SEA Games - Duel Antarlini - Thailand Vs Timnas Indonesia U-23 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com mencatat, selain sapuan bola dan dari set piece, Timnas Indonesia U-23 hanya melepaskan 11 direct ball saja. Ini sangat kontras dengan apa yang dipertontonkan Marc Klok dkk. pada duel kontra Myanmar.

Instruksi bola-bola direct ke jantung pertahanan sangat minimal pada laga melawan Thailand. Bisa jadi ini memang instruksi Shin Tae-yong yang tak ingin anak asuhnya cepat kehilangan bola.

Namun pada praktiknya di lapangan, penggawa Merah Putih justru cenderung terlalu lama menggoreng bola. Egy Maulana Vikri juga beberapa kali enggan mengoper dan memaksa melewati pemain lawan.

Alhasil, Timnas Indonesia U-23 malah lebih sering kehilangan bola karena kesalahan-kesalahan individu. Pola serangan tim jadi tidak terlihat karena minimnya kerjasama dari kaki ke kaki.

Barulah pada babak kedua, Timnas Indonesia U-23 lebih sering melepaskan umpan jauh ke depan, terutama ketika Saddil Ramdani dan Syahrian Abimanyu masuk ke lapangan.

Peluang Egy Maulana Vikri menit 86' setelah menerima umpan semi-diagonal hampir berbuah gol. Sayang, tendangan kaki kanannya masih terlalu lemah sehingga mudah digagalkan kiper Thailand.

 

3 dari 5 halaman

Garis Pertahanan Terlalu Rendah

Satu hal lain yang membedakan permainan Timnas Indonesia U-23 dengan Thailand adalah mengenai devensive line atau garis pertahanan. Ricky Kambuaya cs masih menerapkan deep devensive line.

Pakem ini sebetulnya wajar mengingat Thailand lebih mendominasi penguasaan bola. Dari catatan lapangbola.com, Timnas Indonesia U-23 hanya memperoleh 35 persen ball possession saja.

Dari kubu Thailand, Benjamin Davis dkk. berani menumpuk hingga enam pemainnya di daerah pertahanan Timnas Indonesia U-23. Ini membuat build-up serangan sering putus dari daerah sendiri.

 

4 dari 5 halaman

Skema Set-piece Semestinya Jadi Pemecah Kebuntuan

Saat pertandingan memasuki menit 80', Timnas Indonesia U-23 bertubi-tubi mendapatkan sepak pojok. Sayang, tak ada satupun yang berbuah gol.

Ini jadi PR buat Timnas Indonesia U-23 untuk memaksimalkan setiap peluang yang ada, terutama dari skema set-piece. Selama SEA Games 2021, hanya satu gol saja yang lahir dari bola mati, tepatnya ketika berjumpa Timor Leste.

Timnas Indonesia U-23 memiliki sejumlah eksekutor set-piece yang berkualitas. Marc Klok, Egy Maulana Vikri, hingga Marselino Ferdinan semestinya bisa lebih memaksimalkan skema bola mati.

5 dari 5 halaman

Berita Terkait