Pejabat Federasi Sepak Bola Jerman: Saatnya Bahas Boikot Piala Dunia 2026!

Federasi Sepak Bola Jerman (DFB0 mulai serius mempertimbangkan boikot Piala Dunia 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 25 Januari 2026, 10:30 WIB
Pemain Jerman merayakan keunggulan sementara 2-1 dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa grup A melawan Irlandia Utara di RheinEnergieStadion, Jerman, pada 7 September 2025 waktu setempat atau Senin (8/9/2025) dini hari WIB. (INA FASSBENDER/AFP)

Bola.com, Jakarta - Seorang pejabat senior Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menyatakan sudah waktunya membahas secara serius kemungkinan boikot Piala Dunia 2026, menyusul langkah dan pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

AS dijadwalkan menjadi tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko pada turnamen akbar sepak bola dunia tersebut.

Advertisement

Namun, ketegangan politik kembali mencuat setelah Trump memicu kemarahan para pemimpin Eropa awal bulan ini dengan ancamannya untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark.

Presiden AS berusia 79 tahun itu bahkan sempat mengancam akan memberlakukan tarif terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, yang menentang rencananya.

Meski, Trump kemudian melunakkan sikapnya, ketegangan antara pemerintah AS dan sejumlah negara Eropa masih terasa.

"Saya benar-benar bertanya-tanya kapan waktunya untuk mulai memikirkan dan membicarakan ini (boikot) secara konkret," ujar Oke Gottlich, Wakil Presiden DFB, kepada surat kabar Hamburger Morgenpost.

"Bagi saya, waktunya sudah jelas telah tiba," ucapnya.


Argumen Gottlich

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbincang sambil memegang replika tiket Piala Dunia berukuran besar bersama Presiden AS, Donald Trump, di Ruang Oval, sementara Wakil Presiden, JD Vance (ketiga dari kiri), mengamati pada 22 Agustus 2025 di Washington, DC. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, sebanyak 78 laga akan digelar di Amerika Serikat.

Pemerintah Prancis menyatakan untuk saat ini belum mendukung wacana boikot, sementara Federasi Sepak Bola Denmark mengaku "menyadari situasi sensitif yang sedang terjadi". Denmark masih harus berjuang melalui jalur play-off untuk lolos ke putaran final.

Dalam menguatkan argumennya, Gottlich menyinggung boikot Olimpiade 1980 yang dipimpin Amerika Serikat sebagai respons atas invasi Uni Soviet ke Afganistan.

"Apa pembenaran atas boikot Olimpiade pada 1980-an?" kata Gottlich, yang juga menjabat sebagai presiden klub Bundesliga, St Pauli.

"Menurut perhitungan saya, potensi ancamannya sekarang justru lebih besar daripada saat itu. Kita perlu membahas ini," imbuhnya.


Pengalaman Panas

Para pemain timnas Jerman menutupi mulut mereka saat berpose untuk foto grup jelang pertandingan Grup E Piala Dunia 2022 Qatar melawan Jepang di Stadion Internasional Khalifa di Doha, Rabu (23/11/2022). Aksi itu adalah bentuk protes Tim Panser kepada FIFA terkait ban kapten pelangi "One Love" yang melambangkan dukungan kepada kelompok LGBTQ+. (AP Photo/Ebrahim Noroozi)

Jerman memiliki pengalaman panas dengan FIFA pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, FIFA mengancam akan memberikan kartu kuning kepada pemain yang mengenakan ban lengan OneLove, simbol kampanye keberagaman dan inklusi.

Kapten dari tujuh negara Eropa awalnya berencana mengenakan ban lengan tersebut.

Sebagai gantinya, FIFA mempercepat kampanye bertajuk "No Discrimination", yang semula dijadwalkan dimulai pada fase perempat final, dan mengizinkan kapten tim mengenakan ban lengan bertuliskan pesan tersebut sepanjang turnamen.

Sebagai bentuk protes, para pemain Jerman menutup mulut mereka dalam foto tim sebelum laga pembuka melawan Jepang. Tindakan itu, menurut pelatih Jerman saat itu, Hansi Flick, dilakukan untuk menyampaikan pesan bahwa FIFA membungkam" tim-tim peserta.

"Melarang kami mengenakan ban lengan sama saja dengan melarang kami bersuara. Kami tetap pada posisi kami," tegas DFB kala itu.


Batasan dan Nilai

Selebrasi Timnas Jerman usai menjebol gawang Timnas Slovakia di Grup A Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Selasa (18/11/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Matthias Schrader)

Gottlich menambahkan, pengalaman di Qatar justru memperkuat kegelisahannya.

"Qatar dianggap terlalu politis oleh semua orang, dan sekarang kita tiba-tiba sepenuhnya apolitis? Itu benar-benar, benar-benar mengganggu saya," ujarnya.

Ia menilai organisasi dan masyarakat perlahan melupakan cara menetapkan batas dan mempertahankan nilai.

"Tabu adalah bagian penting dari sikap kita. Apakah tabu dilanggar ketika seseorang mengancam? Ketika seseorang menyerang? Ketika orang-orang meninggal?" katanya.

"Saya ingin tahu dari Donald Trump, di mana batas tabu versinya, dan saya juga ingin tahu dari (Presiden DFB) Bernd Neuendorf serta (Presiden FIFA) Gianni Infantino," cetusnya.

 

Sumber: BBC