Bola.com, Jakarta - Marco Bezzecchi menutup MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Buriram, Minggu (1-3-2026), dengan cara yang sempurna.
Setelah melalui Sabtu yang penuh kesalahan dan ketegangan, pembalap Aprilia itu bangkit untuk mendominasi balapan utama sekaligus mencatatkan sejarah sebagai rider pertama Aprilia yang memenangi tiga grand prix kelas utama secara beruntun.
Sehari sebelumnya, Bezzecchi menjalani sesi yang jauh dari mulus. Ia memang sempat merebut pole position, tetapi itu terjadi di antara tiga kecelakaan pada hari yang sama. Kesalahan termahal terjadi saat Sprint Race, ketika ia terjatuh dalam posisi memimpin.
Namun, pembalap Italia tersebut menebus semuanya pada balapan Minggu. Sejak start hingga garis finis, ia tampil dominan tanpa memberi celah berarti bagi para pesaing.
"Setelah kemarin, penting bagi saya untuk melakukan reset dan bangkit di balapan," kata Bezzecchi kepada Matt Birt dari MotoGP.
Memaksakan Keadaan
Ia mengakui pada Sabtu, dirinya mungkin terlalu memaksakan keadaan.
"Kemarin, mungkin saya meminta terlalu banyak, karena pada pagi hari saya cepat dan melakukan kesalahan di Tikungan 3 karena saya tetap ingin memaksa motor untuk berbelok," ungkapnya.
"Mungkin saya tidak cukup berpikir, dan kesalahan kecil seperti itu sedikit mengurangi kepercayaan diri."
"Saya pikir kecelakaan di kualifikasi adalah yang paling saya pahami, karena saat itu saya memang sedang mendorong sangat keras," tuturnya.
"Lalu di Sprint, mungkin saya sedikit terlalu gugup. Saya mencoba memotong tikungan terlalu banyak. Melihat rekamannya, saya kira saya menyentuh garis putih, tetapi sekarang saya rasa tidak.
"Saya hanya mencoba membawa kecepatan tikungan terlalu tinggi dan itu membuat saya terjatuh," ujar Bezzecchi.
Tantangan Terbesar
Kesalahan serupa tidak terulang pada Minggu. Kali ini, tantangan terbesar Bezzecchi justru menjaga keausan ban tetap terkendali dalam balapan yang juga diwarnai drama mundurnya juara dunia bertahan Marc Marquez akibat masalah pelek.
"Saya tahu kecepatan saya bagus, jadi jika saya bisa start dengan baik dan tetap lebih tenang, saya bisa membangun jarak kecil di awal. Setelah itu saya mampu sedikit mengelola jarak tersebut," ucap pembalap berusia 27 tahun itu.
"Tidak mudah karena keausan ban sangat kritis. Tapi, kami mengerjakannya dengan baik, seluruh tim melakukan pekerjaan luar biasa dan saya tidak bisa cukup berterima kasih kepada mereka," imbuhnya.
Dominasi Aprilia di Thailand begitu terasa. Bezzecchi memimpin rombongan empat pembalap Aprilia yang finis di lima besar. Hanya Pedro Acosta dari KTM yang menggagalkan sapu bersih RS-GP. Ducati terbaik adalah Fabio Di Giannantonio dari tim VR46 yang finis keenam.
Enggan Larut dalam Euforia
Meski begitu, Bezzecchi menolak larut dalam euforia.
"Para teknisi pasti melakukan pekerjaan luar biasa sepanjang musim dingin, tetapi pada akhirnya ini baru balapan pertama, jadi kami harus tetap tenang, fokus, menundukkan kepala dan selalu berusaha bekerja sebaik mungkin," ujarnya.
"Kami tahu pada satu titik nanti kami akan kesulitan. Itu normal. Semua orang mengalaminya. Jadi, mari hadapi balapan demi balapan, mencoba mempertahankan suasana yang sangat positif ini."
Seri berikutnya akan digelar di Brasil, dan Bezzecchi sudah menantikannya.
"Saya tidak sabar pergi ke Brasil dengan vibe Brasil! Sejak musim panas lalu saya bertanya kepada Franky tentang suasananya, musiknya dan semuanya, jadi saya sangat senang bisa pergi ke sana," tegasnya.
Kemenangan di Buriram membuat Bezzecchi kini menempati posisi kedua klasemen sementara MotoGP, tertinggal tujuh poin dari Pedro Acosta yang memenangi Sprint Race dan finis runner-up pada grand prix utama.
Sumber: Crash