Budi Sudarsono Kenang Masa Kejayaan: Rajin Mencetak Gol Sampai Dapat Julukan Si Ular Piton

Budi Sudarsono dikenang karena gaya permainannya yang berbeda dari penyerang-penyerang lain di masanya. Ia cepat, liar, dan licin. Gocekannya yahud bak seorang penari berdarah dingin.

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 12 Maret 2026, 05:45 WIB
Legenda Timnas Indonesia, Budi Sudarsono saat Trophy Tour Piala AFF 2022 yang berlangsung di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, Sabtu (26/11/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia pernah punya striker tokcer pada eranya. Seorang pemburu gol yang tak hanya punya daya hancur yang dahsyat, tapi juga sosok predator di jantung pertahan lawan.

Dia adalah Budi Sudarsono. Dari sekian banyak penyerang lokal bertalenta yang pernah menghiasi Timnas Indonesia, Budi Sudarsono termasuk yang paling dikenang.

Advertisement

Budi Sudarsono dikenang karena gaya permainannya yang berbeda dari penyerang-penyerang lain di masanya. Ia cepat, liar, dan licin. Gocekannya yahud bak seorang penari berdarah dingin.

Tak heran kalau ia dijuluki Si Ular Piton. Ada yang lain menjulukinya Budigol. Gol demi gol kerap tersaji, di mana pun Budi Sudarsono beraksi, baik di klub, pun di Timnas Indonesia.

Legenda yang kini berusia 46 tahun punya karier yang panjang. Ia pernah membela sejumlah klub papan atas tanah air, di antaranya Persebaya Surabaya, Persik Kediri, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.

Bersama Persija, kelahiran 19 September 1979 ikut mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia 2001. Hal serupa juga ia toreh bersama Persik, kala Macan Putih menjadi yang terbaik di Liga Indonesia 2006.

Bareng Timnas Indonesia, Budi Sudarsono membawa Skuad Garuda ke final Piala AFF 2002. Sayang, Indonesia harus puas finis sebagai runner-up.

 
 

Julukan Ular Piton

Aksi Budi Sudarsono ketika melawan Myanmar (ADEK BERRY / AFP)

Ngomong-ngomong soal julukan Si Ular Piton, Budi Sudarsono membeberkannya via kanal YouTube Vindes belum lama ini.

Menurut Budi Sudarsono, selama di lapangan rekannya setim tak pernah memanggilnya dengan julukannya itu. Julukan tersebut hanya terlontar dari mulut suporter yang kepincut dengan aksinya.

"Enggak pernah, yang memanggil piton itu hanya suporter saja. Saya juga enggak tahu awal mulanya julukan itu," kata Budi Sudarsono.

"Tiba-tiba suporter ngasih julukan itu. Itu zaman saya masih di Persija Jakarta. Namun, dulu memang begini, saya punya moto dalam sepak bola, saya kalau enggak ngelewatin orang itu seperti makan nasi enggak pakai lauk," imbuh Budi.


Striker Brasil Jadi Inspirasi

Ronaldo Nazario de Lima. Eks striker yang kini berusia 46 tahun dan telah pensiun pada Februari 2011 ini tercatat sebagai pengoleksi caps terbanyak kedua bersama Timnas Brasil dalam ajang Piala Dunia. Ia total bermain 19 laga dalam 4 edisi Piala Dunia mulai 1994 hingga 2006 dengan torehan 15 gol dan 5 assist. Ia sempat menjadi pencetak gol terbanyak di ajang Piala Dunia dengan 15 golnya, dan baru dipatahkan oleh Miroslav Klose dengan 16 gol sejak edisi 2014. Total 2 trofi juara berhasil diraihnya pada edisi 1994 dan 2002. Namun pada 1994 ia hanya duduk di bangku cadangan tanpa sekalipun dimainkan. (AFP/Antonio Scorza)

Budi Sudarsono mengaku terinspirasi gaya permainan legenda Brasil, Ronaldo Nazario.

"Waktu itu zaman-zaman Ronaldo Nazario. Kalau enggak ngelewatin orang memang kayak gimana gitu. Makanya saya untuk bisa cetak gol itu, enggak ada atau jarang yang hanya satu sentuhan," ujar Budi Sudarsono.

"Ngelewatin orang dulu baru masukin gitu. Ya, mungkin dari situ julukan piton itu," ujarnya lagi.


Gemar Menggiring Bola

Budi Sudarsono melewati kiper Timnas Bahrain, Abdulrahman sebelum mencetak gol indah dalam laga Grup D Piala Asia 2007, 10 Juli 2007 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Timnas Indonesia menang 2-1 saat itu. (AFP/Jewel Samad)

Budi Sudarsono menambahkan, ia tipe tukang gedor yang suka melakukan dribbling. Sembari menggiring bola, ia menyerbu lini belakang lawan dengan gocekan mautnya.

"Nah, ketika counter-attack, otomatis saya yang harus mengejar. Dari situ saya bisa ngelewati beberapa orang sampai kemudian mencetak gol. Itu enggak satu-dua kali, tapi sering," tukas Budi Sudarsono.

"Mungkin ya, mungkin dari situ ada sebutan piton itu. Saya tuh tipe penyerang yang suka atau nyaman melalukan dribbling atau terobosan seperti itulah," kata Budi Sudarsono sembari menambahkan bahwa di eranya seorang penyerang dituntut punya banyak skil untuk menjebol gawang musuh.

"Kalau terobosan, semua pemain harus bisa, karena dulu kita dituntut oleh pelatih harus bisa menerima bola di belakang pemain lawan. Itu sangat susah. Kalau timing-nya enggak tepat bisa offside. Kalau kurang kecepatan juga enggak bisa sampai."

"Nah, itu kita diajarkan bukan hanya cuma sebulan atau dua bulan. Kita TC itu biasanya kalau timnas itu biasa tahunan," tutup Budi Sudarsono.

Berita Terkait