10 Pemain yang Makin Bersinar setelah Tinggalkan Liga Inggris: Ternyata Mayoritas Jebolan MU

Berikut adalah 10 pemain yang mencapai level baru setelah meninggalkan Liga Inggris

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 13 Maret 2026, 20:45 WIB
Gerard Pique bergabung ke Manchester United saat berusia 17 tahun dari akademi Barcelona. Performanya sebagai bek tengah sebenarnya baik, namun kalah bersaing dengan Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Sempat dipinjamkan, Pique akhirnya memutuskan untuk kembali ke Barcelona. (AFP/Andrew Yates)

Bola.com, Jakarta - Liga Inggris menjadi magnet besar bagi para bintang sepak bola dari berbagai penjuru dunia. Premier League makin mengukuhkan statusnya sebagai liga terbaik di dunia. 

Namun, meski banyak pemain hebat datang dan bersinar di Liga Inggris, ada juga banyak contoh pemain yang justru berkembang pesat setelah meninggalkan kompetisi di Inggris.

Advertisement

Michael Olise menjadi pemain terbaru yang tampil gemilang setelah hengkang dari Premier League. Selama bertahun-tahun, beberapa bintang top juga mampu meningkatkan level permainan mereka setelah pindah ke liga lain.

Berikut adalah 10 pemain yang mencapai level baru setelah meninggalkan Liga Inggris   


1. Scott McTominay

Gelandang Napoli asal Skotlandia #08, Scott McTominay, merayakan kemenangannya setelah memenangkan pertandingan sepak bola Serie A Italia Torino vs Napoli di "Stadio Grande Torino" di Turin pada tanggal 1 Desember 2024. (MARCO BERTORELLO/AFP)

Jika mengukur pemain dari dampak budaya yang mereka berikan kepada klub barunya, maka Scott McTominay bisa jadi merupakan ekspor terbesar Inggris sepanjang masa.

Kepindahannya ke Napoli berhasil menghidupkan kembali karier gelandang asal Skotlandia tersebut. Sebelumnya, ia sempat terlihat seperti akan menjadi salah satu pemain yang terlupakan setelah bertahun-tahun bermain di Premier League. Namun di Naples, ia justru berkembang pesat.

McTominay menjadi bintang dalam keberhasilan Napoli meraih gelar liga musim lalu. Bahkan, mural bergambar dirinya dilukis di jalanan kota, tepat di samping mural legenda klub Diego Maradona. Sebuah kehormatan yang luar biasa.   


2. Gerard Pique

Gerard Pique berhasil mengoleksi empat gelar Liga Champions. Gelar pertamanya ia sabet ketika bermain di Manchester United pada tahun 2008. Tiga gelar lainnya diraih bersama Barcelona di tahun 2009, 2011, dan 2015. (AFP/Lluis Gene)

Lahir di Barcelona, Gerard Pique memang sejak awal diprediksi kembali ke Barcelona. Ketika hal itu benar-benar terjadi pada 2008, ia berkembang menjadi salah satu bek tengah dengan kemampuan memainkan bola terbaik dalam sejarah sepak bola.

Pique menjadi sosok penting tim Barcelona yang memenangkan sembilan gelar liga dan tiga trofi Liga Champions.

Meski kepindahannya ke Manchester United sempat meningkatkan kualitas permainannya, tidak diragukan lagi bahwa levelnya benar-benar naik ke tingkat yang lebih tinggi setelah kembali ke Catalonia.   


3. Michael Olise

Selebrasi Michael Olise dalam laga Bayern Munchen vs Chelsea di Liga Champions 2025/2026, Kamis (18/9/2025). (AP Photo/Martin Meissner)

Selama membela Crystal Palace, Michael Olise bersama Eberechi Eze sudah terlihat sebagai talenta yang ditakdirkan mencapai level tertinggi. Namun kemampuan Olise semakin terbukti setelah ia pindah ke Bayern Munchen.

Jumlah assist yang ia catatkan dalam dua tahun terakhir bahkan lebih banyak dibandingkan pemain mana pun di lima liga top Eropa. Ia juga berpeluang memecahkan rekor assist terbanyak dalam satu musim Bundesliga yang saat ini dipegang oleh Thomas Müller.   


4. Gareth Bale

Gareth Bale. Sayap kanan asal wales berusia 32 tahun ini didatangkan Real Madrid dari Tottenham Hotspur pada awal musim 2013/2014 dengan nilai transfer sebesar 101 juta euro. Kini, hingga musim ke-8 bersama Los Blancos ia telah tampil dalam 258 laga di semua ajang dengan torehan 106 gol dan 67 assist. Akhir musim ini ia diperkirakan akan meninggalkan Santiago Bernabeu untuk kembali ke Inggris. Gelar bergengsi yang berhasil diraihnya adalah 3 kali juara La Liga dan 4 kali juara Liga Champions. (AFP/Josep Lago)

Dua penghargaan PFA Player of the Year dalam tiga tahun membuat Gareth Bale menjadi incaran banyak klub besar. Pada 2013, Real Madrid akhirnya merekrutnya dari Tottenham Hotspur dengan nilai transfer sekitar £85,1 juta.

Saat masih di Tottenham, Bale merupakan bintang utama tim. Namun di Madrid, ia harus menerima peran sebagai pemain nomor dua di belakang Cristiano Ronaldo. Meski begitu, ia tetap mampu bersinar dalam perannya tersebut dan mencetak salah satu gol paling penting dalam sejarah klub pada final Liga Champions 2014.

Walau tidak selalu mendapatkan cinta penuh dari fans Madrid, Bale tetap dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di dunia selama beberapa tahun.   


5. Chris Smalling

Chris Smalling memutuskan untuk merumput di Liga Italia bersama AS Roma setelah tak masuk dalam rencana skuat pelatih MU, Solskjaer. Dipinjam sejak 2019 lalu, Smalling akhirnya dipermanenkan oleh i Gialorossi berkat penampilan apiknya. (Foto: AFP/Filippo Monteforte)

Sebelum Scott McTominay, ada Chris Smalling yang berhasil menghidupkan kembali kariernya setelah pindah ke Italia.

Bek asal Inggris itu awalnya bergabung dengan AS Roma dengan status pinjaman dari Manchester United. Gaya bermainnya ternyata lebih cocok dengan atmosfer Serie A, sehingga ia tampil sebanyak 37 kali pada musim pertamanya dan akhirnya mendapatkan kontrak permanen.

Smalling kemudian mencatat lebih dari 100 penampilan bersama klub ibu kota Italia tersebut dan berhasil memenangkan UEFA Conference League pada 2022.   


6. Memphis Depay

Selebrasi striker Lyon, Memphis Depay setelah mencetak gol ke gawang Metz pada laga Liga Prancis 2020/2021 di Saint Symphorien Stadium, Metz (6/12/2020). Satu setengah musim membela Manchester United, Memphis Depay hanya mencetak 7 gol dari 53 laga. Pada tengah musim 2016/2017 ia hijrah ke Lyon dan tampil tajam dengan torehan 76 gol dari 178 laga hingga akhir musim 2020/2021 sebelum akhirnya ditarik Barcelona. (AFP/Jean-Christophe Verhaegen)

Setelah menjalani masa yang kurang mengesankan di Manchester United, Memphis Depay memutuskan hengkang untuk membangun kembali kariernya bersama Olympique Lyonnais. Ia berhasil melakukannya.

Penyerang asal Belanda itu mencetak 76 gol dari 178 pertandingan serta menambahkan 56 assist selama bermain di Lyon. Performa impresif tersebut kemudian membawanya mendapatkan kesempatan bergabung dengan Barcelona, sesuatu yang sebelumnya terlihat sangat kecil kemungkinannya saat ia masih bermain di Old Trafford.   


7. Cristiano Ronaldo

3. Menjuarai Ballon D'or dan FIFA's Player of the Year di dua liga berbeda, yakni ketika bermain untuk Manchester United dan Real Madrid. (AFP/Pierre-Philippe Marcou)

Cristiano Ronaldo sebenarnya sudah menjadi pemenang Ballon d'Or ketika meninggalkan Manchester United. Namun tidak dapat disangkal bahwa ia mencapai level yang lebih tinggi lagi setelah bergabung dengan Real Madrid.

Statistiknya di ibu kota Spanyol benar-benar luar biasa. Ronaldo mencetak 450 gol dari 438 pertandingan, memenangkan lima trofi Liga Champions, termasuk tiga secara beruntun, serta menambah empat Ballon d'Or lagi ke dalam koleksinya.

Apakah ia bisa mencapai level tersebut jika tetap bertahan di United? Mungkin saja. Namun tampaknya Madrid menjadi lingkungan yang sempurna bagi Ronaldo untuk mengekspresikan ambisinya dan berkembang menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa. 


8. Romelu Lukaku

Striker Inter Milan, Romelu Lukaku, melepaskan tendangan ke gawang Genoa pada laga Serie A 2019 di Stadion San Siro, Sabtu (21/12). Inter Milan menang 4-0 atas Genoa. (AP/Luca Bruno)

Ada sesuatu dari Romelu Lukaku yang membuat lebih dari satu pelatih di Premier League yakin mereka bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Di atas kertas, Lukaku memiliki semua atribut untuk sukses di liga tersebut. Namun, masa-masa terbaiknya di Inggris justru terjadi lebih awal dalam kariernya, pertama saat membela West Bromwich Albion, lalu bersama Everton.

Sebaliknya, periode bermainnya di Manchester United terbilang kurang memuaskan. Kepindahannya ke Italia bersama Inter Milan justru menjadi titik balik. Di bawah asuhan Antonio Conte, Lukaku berkembang menjadi salah satu striker terbaik di dunia.

Performa impresif itu kemudian membuat Chelsea rela mengeluarkan dana sebesar £97,5 juta untuk membawanya kembali ke Premier League.


9. Jadon Sancho

Penyerang Borussia Dortmund, Jadon Sancho, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang RB Leipzig pada laga Bundesliga di Stadion Red Bull Arena, Sabtu (9/1/2021). Dortmund menang dengan skor 3-1. (AP/Michael Sohn)

Menghadapi persaingan ketat dari banyak pemain berbakat di tim utama Manchester City, Jadon Sancho memutuskan hengkang ke Borussia Dortmund. Keputusan tersebut terbukti menjadi langkah yang sangat tepat bagi perkembangan kariernya.

Selama bermain di Jerman, Sancho berkembang menjadi salah satu winger paling menarik di dunia, terutama berkat kemampuan dribelnya yang sangat berbahaya saat membawa bola dari area yang dalam.

Sayangnya, perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Setelah kembali ke Inggris, performanya tidak kembali seperti sebelumnya. Saat ini ia menjalani masa peminjaman di Aston Villa dari Manchester United, namun ia masih terlihat jauh dari level permainan terbaik yang pernah ia tunjukkan di masa lalu. 


10. Diego Forlan

Atletico Madrid merekrut Diego Forlan 30 Juni 2007 dari Villarreal dengan nilai transfer 21 juta euro. Ia didatangkan untuk menggantikan Fernando Torres yang hijrah ke Liverpool. Selama 4 musim, ia tampil 198 laga di semua ajang dengan torehan 96 gol dan 31 assist. (AP/Arturo Rodriguez)

Pelatih legendaris Alex Ferguson dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dalam menentukan pemain. Namun menariknya, ia memberi kesempatan cukup lama kepada Diego Forlan di Manchester United, meski performanya tidak terlalu konsisten.

Catatan 17 gol dari 98 pertandingan menjadi anomali dalam karier striker asal Uruguay tersebut. Setelah meninggalkan Old Trafford, Forlan kembali menemukan ketajamannya di depan gawang.

Ia kemudian bergabung dengan Villarreal dan mencetak 59 gol dari 127 pertandingan. Namun puncak performanya benar-benar terlihat setelah pindah ke Atletico Madrid.

Bersama klub ibu kota Spanyol itu, Forlan mencetak 96 gol dalam 198 pertandingan—rasio yang sangat impresif pada era sebelum dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Ketajaman Forlán juga menjadi awal dari tradisi Atlético Madrid yang kerap memiliki striker-striker kelas dunia. 

Sumber: Planet Football 

Berita Terkait