Intervensi VAR Dinilai Terlalu Berlebihan, UEFA Siapkan Pertemuan dengan Liga-Liga Eropa

UEFA telah mengundang liga-liga top Eropa untuk membahas pendekatan baru dalam penggunaan VAR di sepak bola Eropa.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 21 Maret 2026, 19:30 WIB
Wasit memberikan penalti lagi kepada FC Twente setelah pemeriksaan VAR (video assistant referee) selama pertandingan Liga Europa UEFA antara Malmoe FF dan FC Twente di Malmoe, pada 23 Januari 2025. (Johan NILSSON/KANTOR BERITA TT/AFP)

Bola.com, Jakarta - UEFA berencana mengundang liga-liga domestik terbesar di Eropa untuk duduk bersama usai Piala Dunia 2026. Tujuannya, yakni mencari kesepakatan soal penggunaan Video assistant referee (VAR) yang dinilai terlalu sering mengintervensi jalannya pertandingan.

Selain itu, UEFA sedang mempertimbangkan langkah baru di sektor komersial dengan menjajal platform streaming langsung ke konsumen (direct-to-consumer/DTC) di pasar yang lebih kecil.

Advertisement

Langkah ini mengikuti tren yang lebih dulu dilakukan beberapa liga top Eropa. Premier League, misalnya, telah mengumumkan rencana peluncuran layanan DTC bernama Premier League+ bersama mitra penyiaran StarHub di Singapura mulai musim depan.

Sementara itu, Bundesliga sudah menghadirkan Bundesliga Pass di Kenya, Nigeria, dan Afrika Selatan, sedangkan Ligue 1 kini langsung menjangkau penonton di Prancis tanpa perantara.

Saat ini, UEFA menjual hak siar melalui UC3, perusahaan patungan dengan European Football Clubs (EFC), dan telah mengamankan kontrak jangka panjang untuk kompetisi klubnya di lima pasar utama Eropa: Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris, serta Jepang dan Belanda.


Uji Coba DTC

llustrasi menonton pertandingan sepak bola. (Photo by Soumith Soman from Pexels)

Baru-baru ini, UC3 bersama agensi pemasaran Relevent Football Partners juga memulai gelombang kedua penawaran hak siar untuk wilayah lain seperti Eropa non-utama, Kanada, Amerika Tengah, Meksiko, dan Amerika Selatan.

Kontrak baru tersebut akan mulai berlaku pada musim 2027/28, sementara kesepakatan dengan CBS Sports di Amerika Serikat masih berjalan hingga 2030.

Seperti Bundesliga dan Premier League, UEFA diperkirakan akan memilih pasar dengan nilai komersial lebih kecil untuk uji coba DTC.

Negara-negara Asia seperti Singapura dinilai ideal karena memiliki basis penggemar sepak bola Eropa yang kuat serta infrastruktur internet yang memadai.


VAR Dinilai Terlalu Mikroskopis

Wasit Jerman, Deniz Aytekin, mengecek layar VAR (Video Assistant Referee) pada laga persahabatan antara Inggris versus Italia di London, 27 Maret 2018. (AFP/Ian Kington)

Di sisi lain, UEFA ingin mendorong pendekatan yang lebih konsisten dan tidak terlalu invasif dalam penggunaan VAR di berbagai liga, termasuk La Liga dan Serie A.

Langkah ini muncul setelah Kepala Wasit UEFA, Roberto Rosetti, menyampaikan kekhawatirannya bahwa VAR kini terlalu "forensik atau terlalu detail dalam menilai setiap insiden.

Ia bahkan secara tersirat menolak dorongan dari FIFA untuk memperluas cakupan VAR, seperti meninjau situasi sepak pojok dan kartu kuning kedua.

Kendati perubahan itu sudah disetujui oleh IFAB, badan pembuat aturan sepak bola, UEFA tetap menunjukkan kecenderungan untuk membatasi intervensi VAR seminimal mungkin dan mempercepat proses pengambilan keputusan.

"Di akhir musim nanti kita perlu membahas ini, karena kita tidak bisa terus berjalan ke arah intervensi VAR yang terlalu mikroskopis. Kita mencintai sepak bola apa adanya," ujar Rosetti.


VAR Tak Mungkin Dihapus

Foto ilustrasi saat wasit Liga Inggris Kevin Friend melihat Video Assistant Referee (VAR). Keputusan wasit yang menganulir gol di pertandingan pekan ke-6 Liga Inggris 2022/2023 melalui VAR menuai banyak kontroversi. (AFP/Daniel Leal)

Meski perdebatan soal VAR terus berlangsung di berbagai negara, Rosetti menegaskan bahwa teknologi tersebut tetap penting dan tidak mungkin dihapus.

Menurutnya, VAR telah membantu mengurangi ketidakadilan terbesar dalam pertandingan. Selain itu, generasi wasit saat ini sudah terbiasa dengan teknologi seperti tayangan ulang, goal-line technology, hingga offside semi-otomatis sehingga menghilangkannya justru akan menimbulkan kekacauan.

Dalam perkembangan lain, UEFA juga memutuskan untuk mempertahankan aturan "country protection" di Liga Champions. Artinya, tim dari negara yang sama tidak akan saling bertemu di League Phase, kecuali jika jumlah klub dari satu negara dalam satu pot undian terlalu banyak.

Keputusan ini diambil setelah Komite Kompetisi Klub UEFA meninjau kembali aturan tersebut, menyusul adanya dorongan dari sejumlah klub untuk memperluas atau bahkan menghapus sistem tersebut.

Namun, pada akhirnya, UEFA memilih mempertahankan aturan yang ada saat ini.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait