Bola.com, Jakarta - Performa Kylian Mbappe kembali menjadi sorotan tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Perbedaan nasib antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Real Madrid sejak sang penyerang pindah ke Spanyol pada 2024 memicu kritik keras terhadap kontribusinya.
Pada musim debutnya di Stadion Santiago Bernabeu, Mbappe tampil tajam dengan mencetak lebih dari 40 gol di semua kompetisi. Ia bahkan sudah menyamai catatan tersebut pada musim 2025/2026.
Namun, prestasi tim belum sebanding dengan produktivitas individunya, Real Madrid baru meraih satu trofi, yakni Piala Super Eropa sejak kedatangannya.
Sebaliknya, PSG justru mencatat sejarah. Tanpa Mbappe, mereka berhasil menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya. Di bawah arahan Luis Enrique, raksasa Prancis itu tampil jauh lebih solid setelah tidak lagi diperkuat Mbappe, Neymar, dan Lionel Messi.
Bawa Keegoisan ke Ruang Ganti
Mbappe sempat mencetak gol saat Real Madrid menghadapi Bayern Munchen di Stadion Allianz Arena. Namun, gol tersebut tidak mampu menyelamatkan Los Blancos dari tersingkir di kompetisi Eropa.
Di tengah ketajamannya, pemain berusia 27 tahun itu justru dituding membawa sikap egois ke dalam ruang ganti Real Madrid.
Mantan pemain Timnas Prancis, Emmanuel Petit, menjadi satu di antara yang paling vokal melontarkan kritik.
Ia memang mengakui bahwa tidak semua kesalahan ada pada Mbappe, tetapi tetap menilai kehadirannya berdampak buruk.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Mbappe. Tetapi, kedatangannya membawa sikap egois ke ruang ganti Real Madrid. Ini adalah sebuah kegagalan," kata Petit kepada Mail Sport.
Perbandingan dengan PSG
Petit juga menyoroti perbandingan dengan PSG yang justru makin kuat sebagai tim setelah ditinggal Mbappe.
"Waktunya benar-benar tidak berpihak kepadanya. Sejak Paris Saint-Germain bermain sebagai sebuah tim, mereka tampil luar biasa. Mereka bersatu, seperti jari-jari dalam satu tangan," lanjutnya.
Ini bukan pertama kalinya Petit mengkritik Mbappe. Ia sebelumnya juga menyebut sang pemain sebagai pencari perhatian dan menilai tidak pantas menjadi kapten Timnas Prancis setelah kekalahan di Piala Eropa 2024 dari Spanyol.
Kendati keras terhadap Mbappe, Petit menilai kegagalan Real Madrid di Liga Champions musim ini tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pemain.
Ia justru menunjuk gelandang muda Eduardo Camavinga sebagai sosok yang paling bertanggung jawab dalam laga melawan Bayern Munchen.
Sorotan Juga Tertuju ke Camavinga
Dalam pertandingan tersebut, Camavinga menerima dua kartu kuning yang berujung kartu merah. Padahal, kedudukan masih imbang sebelum insiden itu terjadi. Bayern kemudian memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk mencetak dua gol di akhir laga dan memastikan lolos ke semifinal.
"Jika harus menyalahkan seseorang, itu adalah Camavinga. Pelanggarannya sangat fatal," ujar Petit.
"Pada momen itu dalam pertandingan (menit ke-86), kartu merah memang terasa sangat keras, tetapi wasit hanya menjalankan aturan. Real Madrid selalu berlindung di balik performa wasit," tambahnya, merujuk pada keputusan wasit Slavko Vincic.
Sumber: Give Me Sport