Arsenal Kalah dari Man City, Mikel Arteta di Ujung Pembuktian: Kembali Jadi Spesialis Nyaris Juara?

Meski masih memimpin klasemen dan unggul selisih gol tipis, posisi Arsenal kini terancam, terutama karena Man City masih memiliki satu laga tersisa lebih banyak di tangan.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 20 April 2026, 12:00 WIB
Pelatih Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta. (Thomas SAMSON/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kekalahan 1-2 yang dialami Arsenal dari Manchester City di Etihad Stadium, Minggu (19/4/2026) malam WIB, bukan sekadar kehilangan tiga poin. Ini juga menjadi simbol tekanan besar yang kini menghinggapi tim London Utara itu.

Sebuah spanduk raksasa bertuliskan "Panic on the streets of London" terbentang di stadion, mengirim pesan tajam kepada Mikel Arteta dan anak asuhnya.

Advertisement

Kalimat itu merujuk kepada karya band legendaris The Smiths, namun maknanya jelas: Arsenal sedang berada di bawah tekanan besar dalam perebutan gelar Premier League.

Meski masih memimpin klasemen dan unggul selisih gol tipis, posisi Arsenal kini terancam, terutama karena Man City masih memiliki satu laga tersisa lebih banyak di tangan.


Performa Tangguh, Hasil Tetap Mengecewakan

Pemain Manchester City, Rayan Cherki, mencetak gol pertama timnya dalam pertandingan Liga Inggris melawan Arsenal di Etihad Stadium, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (AP Photo/Dave Thompson)

Dalam pertandingan tersebut, Arsenal sebenarnya tampil solid dan mampu menandingi permainan Manchester City. Mereka bahkan nyaris mencuri hasil imbang sebelum gol penentu dari Erling Haaland memastikan kemenangan tuan rumah.

Penampilan ini setidaknya membantah anggapan Arsenal adalah tim yang mudah gugup di momen penting. Namun, pada fase krusial musim, hasil akhir tetap menjadi segalanya.

Peluang emas di detik-detik akhir, termasuk sundulan Kai Havertz yang melambung di depan gawang kosong, menjadi simbol betapa tipisnya margin antara sukses dan kegagalan.


Ancaman Nyata: Bayang-Bayang Selalu Nyaris

Pemain Manchester City, Rodri, berebut bola dengan pemain Arsenal, Declan Rice, dalam pertandingan Liga Inggris di Etihad, Inggris, Minggu (19/4/2026) malam WIB. (AP Photo/Dave Thompson)

Seiring laju konsisten Manchester City, tekanan terhadap Mikel Arteta makin besar. Tim asuhan Pep Guardiola kembali menunjukkan kebiasaan lama: tampil kuat di fase akhir musim dan merebut kendali dari rival.

Kini muncul kekhawatiran Arsenal akan kembali finis sebagai runner-up untuk musim keempat berturut-turut, sebuah label menyakitkan sebagai tim "hampir juara".

Padahal, Arsenal masih berpeluang meraih trofi, baik di kompetisi domestik maupun Liga Champions. Namun, jika kembali mengakhiri musim tanpa gelar, yang terakhir diraih pada 2020, pertanyaan serius akan muncul terhadap proyek Arteta.


Arteta Tetap Optimistis, Dukungan Datang dari Legenda

Ekspresi Manajer Arsenal Mikel Arteta di pertandingan melawan Bournemouth di pekan ke-32 Liga Inggris 2025/2026 di Emirates Stadium, Sabtu (11/04/2026) malam WIB. (AP Photo/Dave Shopland)

Di tengah tekanan, Arteta mencoba tetap tenang dan fokus pada peluang yang masih ada.

"Saya sangat kecewa dengan hasilnya karena cara kami bermain. Ini seperti liga yang baru sekarang dan kami punya keunggulan tiga poin dengan lima laga tersisa. Semuanya masih bisa terjadi," ujar Arteta.

Pelatih asal Spanyol itu juga menegaskan bahwa performa tim tidak sepenuhnya buruk.

"Saya sangat kecewa tidak mendapatkan hasil dari pertandingan ini dan dari cara kejadiannya, tapi bukan dengan performanya," ujar Arteta.

"Para pemain merasa kami kehilangan peluang, tapi kami masih punya keunggulan di liga dalam lima pertandingan ke depan, jadi mari lanjutkan," lanjutnya.


Eks Liverpool pun Sampai Angkat Bicara

5. Danny Murphy - Murphy dikenal sebagai salah satu pembunuh Manchester United yang paling terkenal. Hal yang tak pernah terpisahkan dari kisah indah Murphy bersama Liverpool adalah nomor 13 di punggungnya. (AFP/Paul Barker)

Mantan gelandang Liverpool dan Timnas Inggris, Danny Murphy, bahkan meminta publik untuk melihat situasi secara lebih adil.

"Saya paham kesuksesan diukur dari trofi, tapi bayangkan jika Arteta kalah gelar liga karena selisih gol dan kalah di final Liga Champions, Anda harus melihatnya dengan perspektif itu," ujar Murphy.

"Dia selalu ada di sana atau mendekati. Mereka semakin dekat. Memang sudah beberapa tahun finis kedua. Skuadnya adalah yang terbaik yang pernah mereka miliki. Ada pembicaraan jika dia tidak memenangkan apa pun, dia harus pergi, menurut saya itu gila."


Titik Penentuan Musim Arsenal

Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta (kiri ke kanan), memberikan instruksi dari pinggir lapangan kepada gelandang Arsenal asal Inggris bernomor punggung 41, Declan Rice, gelandang Arsenal asal Brasil bernomor punggung 11, Gabriel Martinelli, dan bek Arsenal asal Spanyol bernomor punggung 36, Martin Zubimendi, selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Bayer 04 Leverkusen vs Arsenal di Leverkusen, Jerman barat, pada 12 Maret 2026. (INA FASSBENDER/AFP)

 

Kini, Arsenal berada di titik kritis. Mereka harus menepis tekanan eksternal dan membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar tim "hampir juara".

Kekalahan ini bukan akhir, tetapi sinyal bahaya. Dengan lima laga tersisa, segalanya masih mungkin. Namun satu hal pasti: jika kesempatan ini kembali terlewat, label "nyaris" akan semakin sulit dilepaskan dari Arteta dan Arsenal.

Sumber: BBC

 
 

Berita Terkait