Alvaro Arbeloa Sindir Kinerja Wasit: Lebih Mudah Juara Liga Champions daripada La Liga

Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, kembali memicu spekulasi adanya konspirasi wasit terhadap Los Blancos.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 21 April 2026, 15:15 WIB
Ia meminta skuad Los Blancos untuk memenangkan duel panas melawan wakil Portugal itu. Tampak dalam foto, pelatih Real Madrid asal Spanyol, Alvaro Arbeloa (tengah) berkumpul dengan para pemain selama sesi latihan jelang matchweek kedelapan Liga Champions 2025-2026 melawan SL Benfica di stadion Luz, Lisbon pada Selasa 27 Januari 2026. (FILIPE AMORIM/AFP)

Bola.com, Jakarta - Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, kembali memicu spekulasi adanya konspirasi wasit terhadap Los Blancos. Dia bahkan mengklaim lebih mudah bagi Real Madrid menjuarai Liga Champions daripada menjadi kampiun La Liga

Dengan 31 pertandingan yang sudah dimainkan musim ini, Real Madrid berada di posisi kedua klasemen La Liga. El Real tertinggal sembilan poin dari pemuncak klasemen Barcelona.

Advertisement

Peluang Madrid menghindari musim tanpa trofi kini bergantung pada kemungkinan Barcelona terpeleset. Jika Barca tak melakukan kesalahan, Real Madrid bakal gigit jari. 

Arbeloa, yang menggantikan Xabi Alonso pada Januari 2026, belum mampu memangkas jarak dari pemuncak klasemen. Kekalahan 1-2 di kandang Mallorca diikuti hasil 1–1 melawan Girona dalam bulan April yang krusial bagi Madrid.

Sementara itu, Real Madrid juga tersingkir dari perempat final Liga Champions oleh Bayern Munich. Petinggi Madrid dikabarkan sudah mengambil keputusan atas nasib Arbeloa pada akhir musim nanti. 

Paradoks bagi Real Madrid adalah performa mereka di liga sering kali tidak memengaruhi perjalanan di Eropa. Dalam 20 tahun terakhir, mereka  hampir meraih jumlah gelar Eropa (enam) yang sama dengan gelar liga (tujuh).

Sementara itu, Barcelona telah memenangkan 11 gelar liga dalam periode yang sama, dan Madrid belum mampu meraih gelar La Liga secara beruntun sejak 2008.

 


Arbeloa Kembali Salahkan Wasit

Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa (ke-2 kanan), dan Kylian Mbappe (ke-2 kiri) terlihat di pinggir lapangan selama pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026 antara Bayern Munich dan Real Madrid di Munich, Jerman selatan, pada 15 April 2026. (AFP/Karl-Josef HILDENBRAND)

Menjelang laga melawan Deportivo Alaves pada Rabu (22/4/2026), Arbeloa ditanya mengapa Madrid kesulitan menampilkan performa terbaiknya di liga.

“Mengenai performa kami, tentu masih ada banyak ruang untuk berkembang di La Liga dalam beberapa tahun terakhir. Saya pikir dalam beberapa bulan terakhir kami tampil lebih baik di pertandingan besar dibanding melawan tim yang kurang mapan," ujar Arbeloa, seperti dikutip dari Sport Illustrated, Selasa (21/4/2026). 

“Jika berbicara tentang tiga bulan terakhir, kami memang masih banyak kekurangan. Tapi kami juga mengalami situasi seperti saat melawan Girona, yang membuatnya terasa lebih mudah bagi Real Madrid untuk memenangkan Liga Champions dibandingkan gelar La Liga.”

Arbeloa merujuk pada pertandingan melawan Girona. Saat itu Kylian Mbappe dijatuhkan di kotak penalti pada menit ke-88 setelah terkena pukulan di wajah dari bek Vitor Reis. Wasit Javier Alberola Rojas membiarkan permainan berlanjut, dan tidak ada intervensi VAR dalam insiden tersebut, yang membuat Mbappe harus menerima tiga jahitan di atas matanya.

“Bagi saya, itu penalti di sini maupun di bulan, dan ini hanya satu lagi. Minggu demi minggu seperti itu. Kami sudah sering bermasalah dengan wasit. Cerita lama yang sama," imbuh Arbeloa. 

Menambah kontroversi, anggota Komite Teknis Wasit Spanyol (CTA), Marta Frías, kemudian mengatakan kepada program Tiempo de Revisión bahwa insiden tersebut merupakan tindakan ceroboh yang layak dihukum penalti.”

 

 


Mengapa Real Madrid Kesulitan di La Liga Dibandingkan Eropa?

Pemain Real Madrid, Vinicius Junior, tampak kecewa setelah ditaklukkan Bayern Munchen pada laga leg pertama perempat final Liga Champions di Stadion Santiago Bernabeu, Rabu (8/4/2026). (AP Photo/Jose Breton)

Meski Arbeloa mengisyaratkan adanya agenda tertentu terhadap Real Madrid di La Liga, para pendukung tim lawan akan menunjuk banyak insiden lain ketika Los Blancos justru dianggap diuntungkan oleh keputusan wasit.

Kemungkinan besar, bukan karena konspirasi, melainkan karena Eropa selalu menjadi prioritas utama Madrid. Kemampuan klub untuk tampil maksimal di malam-malam besar Liga Champions menciptakan rasa kepemilika  terhadap kompetisi tersebut, yang kembali menguat setelah mereka memenangkan La Décima pada 2014.

Sebaliknya di liga musim ini, Madrid kesulitan menjaga konsistensi dan motivasi yang sama. Setelah Barcelona kalah dari Girona pada Februari, Madrid yang saat itu fokus pada play-off Liga Champions melawan Benfic justru menelan dua kekalahan beruntun dari Osasuna dan Getafe.

Kemenangan dramatis 3–2 dalam derby Madrid bulan lalu sempat memberi momentum, tetapi kembali diikuti hasil mengecewakan melawan Mallorca dan Girona.

Jika melihat gambaran besar, tujuh gelar La Liga Madrid dalam 20 tahun terakhir juga bertepatan dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi di kompetisi tersebut, termasuk dari Barcelona era Pep Guardiola dan Atletico Madrid asuhan Diego Simeone.   

Sumber: Sport Illustrated

Berita Terkait