Apakah Ini Calciopoli Baru? Mengurai Skandal Wasit Italia yang Menyeret Gianluca Rocchi

Apakah ini Calciopoli baru? Membedah skandal perwasitan yang mengguncang sepak bola Italia.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 28 April 2026, 16:30 WIB
Wasit Italia, Daniele Orsato, berpose di atas panggung setelah menerima penghargaan 'Wasit Terbaik' dari Gianluca Rocchi (kiri) selama acara penghargaan Italian Footballers' Association (AIC) 2023 pada 4 Desember 2023 di Milan. (Marco BERTORELLO/AFP)

Bola.com, Jakarta - Skandal perwasitan kembali menghantam sepak bola Italia, dan kali ini menyeret nama besar Gianluca Rocchi, figur yang selama ini identik dengan kredibilitas.

Federasi Sepak Bola Italia (FICG) pernah menyebut Rocchi sebagai salah satu wasit paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir.

Advertisement

Rekam jejaknya menjelaskan reputasi itu. Ia menjadi ofisial keempat final Liga Champions 2013, memimpin Piala Super UEFA 2017, serta menjadi wasit final Liga Europa 2019.

Saat pensiun pada 2020, hanya Concetto Lo Bello yang mencatat lebih banyak pertandingan Serie A. Perpisahannya di Allianz Stadium bahkan diwarnai tepuk tangan para pemain.

"Saya ingin berterima kasih kepada Juventus dan Roma karena memberi saya pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan di momen yang saya kira akan menjadi saat yang menyedihkan," katanya kepada Sky Italia.

Ia menambahkan, penghargaan dari pemain sangat berarti karena pemain adalah penilai pertama dan paling penting atas kerja seorang wasit.

Kini, situasinya berbalik.


Muncul Bayang-Bayang Calciopoli

Wasit Gianluca Rocchi berdiskusi dengan para pemain Atalanta saat melawan Inter Milan pada laga Serie A di Stadion San Siro, Milan,Sabtu (11/1). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AP/Luca Bruno)

Pada Kamis waktu setempat, Rocchi dijadwalkan menjalani pemeriksaan oleh jaksa di Milan. Dalam kapasitasnya sebagai penunjuk wasit di CAN (Komisi Wasit Nasional untuk Serie A dan Serie B), ia dituduh melakukan kecurangan dalam olahraga.

Kasus ini pertama kali diungkap Agenzia Italia dan langsung mengguncang sepak bola Italia.

Harian Tuttosport bahkan mengangkat pertanyaan di halaman depan: "Apakah ini Calciopoli baru?"

Perbandingan itu tidak berlebihan. Calciopoli, yang terjadi 20 tahun lalu, mengguncang Serie A karena praktik pengaruh dalam penunjukan wasit dan struktur kekuasaan di baliknya.

Rocchi membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resminya, ia menyebut keputusan untuk menonaktifkan diri sebagai langkah "menyakitkan dan sulit".

"Saya yakin akan keluar dari situasi ini tanpa cacat dan lebih kuat dari sebelumnya," ujar Rocchi.

Langkah serupa diambil Andrea Gervasoni, pengawas VAR di CAN yang juga masuk penyelidikan. Bahkan, pengacaranya mengaku kebingungan.

"Kami bahkan tidak memahami mengapa ia dituduh," kata sang pengacara.


Dari Ketukan Kaca

Para pemain Udinese merayakan gol pada laga Serie A/Liga Italia antara AC Milan vs Udinese di Milan, Italia, Sabtu, 11 April 2026. (AP Photo/Antonio Calanni)

Akar kasus ini bermula dari sebuah insiden yang tampak kecil.

Maret tahun lalu, Udinese menghadapi Parma di Stadion Bluenergy. Dari ruang VAR di pusat siaran Lissone, Daniele Paterna dan asistennya, Simone Sozza, menilai insiden handball oleh bek Parma, Botond Balogh.

Penilaian awal: bukan pelanggaran. Tangan Balogh dianggap dekat dengan tubuh, dan sudut kamera lain memperkuat kesimpulan itu.

Namun, tiba-tiba terdengar ketukan di kaca ruang VAR.

Paterna menoleh, seolah bertanya, "Apakah itu penalti?" Tak lama kemudian, wasit utama, Fabio Maresca, diminta menghentikan pertandingan untuk melakukan tinjauan ulang. Keputusan berubah, penalti diberikan.

Florian Thauvin mencetak gol, Udinese menang 1-0 atas Parma yang saat itu sedang berjuang menghindari degradasi.

Masalahnya bukan pada keputusan akhir, melainkan prosesnya. Dalam protokol VAR, independensi pengambilan keputusan adalah prinsip utama. Ketukan tersebut, yang diduga berasal dari Rocchi, dinilai melanggar prinsip itu.

Rekaman audio percakapan dan suara ketukan kemudian muncul di media Il Fatto Quotidiano. Namun, hingga kini, Paterna tidak pernah berbicara secara terbuka.


Laporan Internal

Gianluca Rocchi (UEFA.com)

Pada periode yang sama, jaksa federal FIGC, Giuseppe Chine, menerima laporan dari seorang wasit, Domenico Rocca.

Rocca mengkritik cara CAN dijalankan. Mengapa wasit yang tampil buruk tetap mendapat pertandingan besar? Bagaimana sistem penilaian sebenarnya bekerja?

Dalam laporannya, Rocca juga menyinggung kejadian di Lissone dan menuding Rocchi telah melampaui batas.

FIGC segera membuka penyelidikan.

"Tidak ditemukan tindakan yang memerlukan sanksi disiplin terhadap anggota Asosiasi Wasit Italia," kata Chine setelah memeriksa pihak terkait.

Namun, kesimpulan itu kini dipertanyakan. Penyelidikan jaksa Milan memiliki cakupan lebih luas, tidak hanya terbatas pada insiden VAR tersebut.


Dugaan Pengaruh dalam Penunjukan Wasit

Gianluca Rocchi (AFP/Marco Bertorello)

Jaksa juga menyelidiki dugaan bahwa Rocchi berkolusi dalam penunjukan wasit.

Satu di antara kasus yang disorot terjadi pada semifinal Coppa Italia antara Inter Milan dan AC Milan di San Siro.

Diduga, ada kesepakatan untuk menugaskan wasit tertentu dengan tujuan menghindari potensi penugasan di laga lain yang lebih penting bagi Inter. Pada saat yang sama, wasit lain disebut diproyeksikan untuk memimpin laga liga Inter melawan Bologna.

Inter justru kalah 0-1 dalam pertandingan itu, meski muncul kontroversi soal gol Riccardo Orsolini, yang dinilai sebagian pihak seharusnya dianulir.

Dalam kasus kecurangan olahraga, hasil akhir tidak menentukan. Upaya manipulasi saja sudah cukup untuk menjadi pelanggaran, jika terbukti.

Namun, ada kejanggalan dalam tuduhan ini.

"Ini tuduhan yang sulit dipahami. Disebut ada beberapa pihak terlibat, tetapi tidak ada nama lain yang disebut," ujar Antonio D'Avirro, pengacara Rocchi.


Inter Membantah

Presiden Inter, Beppe Marotta. (GABRIEL BOUYS / AFP)

Inter tidak termasuk dalam penyelidikan. Presiden klub, Beppe Marotta, menegaskan tidak ada keterlibatan.

"Kami mengetahui ini dari media. Kami terkejut. Kami tidak memiliki daftar wasit yang kami sukai atau tidak. Sama sekali tidak," kata Moratta kepada DAZN.

Ia juga mengingatkan bahwa musim lalu Inter sempat dirugikan keputusan wasit, termasuk penalti yang tidak diberikan saat kalah dari Roma, yang bisa menentukan gelar.

Rocchi kemudian mengakui kesalahan itu dalam program "Open VAR".

"Kami tahu kami bertindak dengan integritas penuh, dan itu yang paling penting," kata Marotta kepada Sky Italia.

"Saya tidak khawatir; kami tidak terlibat dalam hal ini dan tidak akan terlibat," tegasnya.


Krisis di Tubuh Wasit Italia

Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, tiba untuk upacara pembukaan Sesi IOC ke-145 di Teater La Scala di Milan pada 2 Februari 2026. (PIERO CRUCIATTI/AFP)

Kasus ini memperlihatkan masalah yang lebih dalam. Asosiasi Wasit Italia (AIA) sudah lama berada dalam kondisi tidak stabil.

Pada 2022, Presiden AIA, Alfredo Trentalange, mundur setelah jaksa internal AIA, Rosario D'Onofio, ditangkap dalam kasus perdagangan narkoba internasional dan dijatuhi hukuman lebih dari lima tahun penjara.

Penggantinya, Antonio Zappi, kini terkena larangan menjabat selama 13 bulan karena diduga menekan pejabat lain untuk mundur.

Akibatnya, AIA kini tanpa presiden, dan Serie A serta Serie B tidak memiliki penunjuk wasit aktif.

"Aspek paling serius adalah bagaimana laporan ini ditangani dalam sistem sepak bola," ujar Andrea Abodi, Menteri Olahraga Italia.


Ancaman Intervensi

Presiden Italia, Sergio Mattarella (kanan), menyampaikan pidato didampingi oleh Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI), Luciano Buonfiglio, saat mengunjungi Perkampungan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 di Milan, pada 5 Februari 2026. (Yara Nardi/POOL/AFP)

Kondisi ini memunculkan wacana intervensi dari Komite Olimpiade Italia (CONI).

Namun, langkah tersebut hanya bisa dilakukan dalam kondisi ekstrem, seperti kegagalan sistemik atau pelanggaran serius. Keputusan ada di tangan Presiden CONI, Luciano Buonfiglio.

Semua ini terjadi menjelang pemilihan presiden FIGC pada 22 Juni, di tengah perebutan pengaruh yang menentukan arah masa depan sepak bola Italia.

Presiden Serie A, Ezio Maria Simonelli, meminta semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan.

"Penilaian tergesa-gesa tidak tepat. Kita harus menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui kebenaran," ucapnya.

Ia menegaskan bahwa integritas sistem tidak boleh langsung diragukan secara keseluruhan. Namun, jika ada pelanggaran terbukti, konsekuensi harus dijalankan.

Kasus ini masih berjalan.

Akan tetapi, seperti dua dekade lalu saat Calciopoli mengguncang sepak bola Italia, pertanyaan yang sama kembali muncul: apakah sistem mampu memperbaiki dirinya sendiri, atau justru kembali mengulang kesalahan yang sama.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait