Lima Tahun Berlalu, Sindiran Cheerleader Roy Keane ke Jordan Henderson Kini Terasa Benar

Jordan Henderson dipanggil lagi ke Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026, komentar pedas Roy Keane kembali viral.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Mei 2026, 16:30 WIB
Tokoh lainnya adalah Roy Keane. Menurutnya, Liga Super Eropa hanya bergantung kepada uang dan keserakahan dan berharap FIFA dapat menghentikannya. (AFP/Nick Potts/Pool)

Bola.com, Jakarta - Keputusan Thomas Tuchel memasukkan Jordan Henderson ke skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 kembali memunculkan perdebatan lama.

Lima tahun setelah Roy Keane melontarkan komentar pedas soal peran Henderson di Timnas Inggris, ucapan legenda Manchester United itu kini dianggap mulai terbukti.

Advertisement

Tuchel baru saja mengumumkan daftar 26 pemain Inggris untuk Piala Dunia 2026. Sejumlah nama besar justru gagal masuk skuad, dari Cole Palmer, Phil Foden, Trent Alexander-Arnold, hingga Harry Maguire.

Sebaliknya, Tuchel memilih mempertahankan sebagian besar kerangka tim yang sudah dibangunnya sejak tiga jeda internasional tahun lalu.

Selain daftar pemain yang dicoret, keputusan memasukkan beberapa nama tertentu juga mengundang perhatian.

Pemanggilan John Stones, Dan Burn, Ivan Toney, hingga Jordan Henderson menjadi bahan diskusi di kalangan publik Inggris.


Objek Perdebatan

Gelandang Brentford asal Inggris #06, Jordan Henderson (C), melompat untuk merebut bola dalam pertandingan Premier League Inggris antara Brentford dan Liverpool di Stadion Komunitas Gtech, London, pada 25 Oktober 2025. (Glyn KIRK/AFP)

Henderson bukan sosok baru dalam perdebatan soal Timnas Inggris.

Pada era Gareth Southgate, mantan kapten Liverpool itu memang menjadi satu di antara figur penting di ruang ganti. Inggris berhasil mencapai semifinal Piala Dunia 2018 dan dua final Piala Eropa dengan fondasi kelompok pemain yang relatif stabil selama bertahun-tahun.

Kendati tidak selalu menjadi pilihan utama di lini tengah, Henderson tetap dianggap punya pengaruh besar sebagai pemimpin tim.

Namun, menjelang Euro 2020, Roy Keane sempat mempertanyakan alasan Henderson tetap dibawa ke turnamen itu setelah lama absen akibat cedera.

Dalam siaran pertandingan persahabatan Inggris kontra Rumania, Keane secara terbuka menyindir peran Henderson dan bahkan menyebutnya seperti "pemandu sorak aiias cheerleader".

"Itu sudah menjadi gangguan bagi Jordan," kata Keane saat itu.


Henderson Kena Sentil Keane

Gelandang Timnas Inggris, Jordan Henderson, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Ukraina pada laga perempat final Euro 2020, Minggu (4/7/2021) dini hari WIB. (AFP/Alberto Pizzoli)

Mantan kapten Manchester United tersebut menilai Henderson seharusnya tidak dilibatkan setelah menepi selama tiga setengah bulan.

"Saya pikir dia akan bermain beberapa hari lalu. Saya tahu ada pembicaraan bahwa dia mungkin masuk pada babak kedua, tetapi kenapa tidak dimainkan sejak awal selama 45 menit pertama ketika intensitas pertandingan lebih tinggi?" ujar Keane.

"Pada babak kedua pasti akan ada banyak pergantian pemain. Menurut saya, ini gangguan besar dan saya rasa dia tidak seharusnya dilibatkan."

Keane lalu melanjutkan kritiknya dengan nada khas yang tajam dan sarkastis.

"Kalau dia tidak bisa menjadi starter melawan Rumania karena secara fisik dan mental pertandingan, hari ini jelas tidak terlalu berat untuknya…" kata Keane.

"Dia memang pemain berpengalaman, tetapi dia tidak menyentuh bola selama tiga bulan lalu pergi ke Euro, itu tidak benar," sentilnya.

"Saya mendengar orang-orang bilang mereka ingin dia tetap ada di sekitar tim, untuk apa? Apa dia melakukan sulap kartu? Bernyanyi? Membuat kuis setiap malam?" cetus Keane.


Keputusan Tuchel Disorot

Gelandang Timnas Uruguay, Federico Valverde (kanan), berlari menjauhi gelandang Timnas Inggris, Jordan Henderson, (kiri) selama pertandingan persahabatan internasional antara Inggris dan Uruguay di Stadion Wembley, London barat, pada 27 Maret 2026. (Henry NICHOLLS/AFP)

Lima tahun berlalu, Henderson kini kembali masuk skuad Inggris untuk turnamen besar lainnya. Di usia 35 tahun, ia tetap dibawa Tuchel ke Piala Dunia 2026, meski menit bermainnya bersama Brentford dalam beberapa bulan terakhir sangat terbatas.

Keputusan itu makin disorot karena Tuchel memilih Henderson dibanding gelandang muda Crystal Palace, Adam Wharton, yang tampil menjanjikan dalam dua musim terakhir.

Tuchel sebenarnya punya kesempatan memberi tempat kepada pemain muda berbakat sebagai opsi cadangan di lini tengah. Namun, pelatih asal Jerman itu lebih memilih pengalaman.

Sulit membantah kualitas kepemimpinan Henderson. Akan tetapi, kontribusinya di lapangan kini mulai dipandang tidak lagi sebesar masa-masa terbaiknya bersama Liverpool.

Sementara itu, Inggris sebenarnya masih memiliki banyak figur senior lain di skuad, seperti Harry Kane, John Stones, Jordan Pickford, Declan Rice, hingga Bukayo Saka.

Itulah mengapa, komentar "pemandu sorak" dari Keane kini dianggap lebih relevan dibanding lima tahun lalu.

Menyebut Henderson tidak berguna tentu terlalu berlebihan. Namun, berbeda dengan masa jayanya di Liverpool, Henderson sekarang memang tidak lagi bersaing di level tertinggi sepak bola klub Eropa.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait