Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi salah satu edisi paling menantang dalam sejarah sepak bola modern. Bukan hanya karena jumlah peserta yang bertambah menjadi 48 negara, tetapi juga karena ancaman cuaca panas yang diperkirakan akan memengaruhi jalannya pertandingan.
Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu berlangsung di tengah meningkatnya suhu global. Sejumlah ilmuwan bahkan memperingatkan bahwa kondisi cuaca selama turnamen dapat berdampak langsung terhadap performa pemain di lapangan.
Temuan tersebut diungkap dalam analisis terbaru Climate Central yang meneliti kemungkinan terjadinya suhu tinggi selama Piala Dunia 2026. Hasilnya menunjukkan mayoritas pertandingan berpotensi dimainkan dalam kondisi yang kurang ideal bagi para pesepak bola.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru menjelang turnamen terbesar sepak bola dunia. Tidak hanya menyangkut kesehatan pemain, tetapi juga kualitas permainan yang selama ini menjadi daya tarik utama Piala Dunia.
Hampir Seluruh Pertandingan Berisiko Terdampak Cuaca Panas
Dalam laporannya, Climate Central menemukan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya suhu di atas 28 derajat Celsius pada 97 dari total 104 pertandingan yang dijadwalkan berlangsung di Piala Dunia 2026.
Angka tersebut menjadi perhatian serius karena suhu di atas 28 derajat Celsius telah lama dianggap sebagai batas yang dapat memengaruhi performa atlet di lapangan.
Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi panas ekstrem dapat mengurangi frekuensi sprint pemain, menurunkan total jarak tempuh selama pertandingan, serta memperlambat proses pemulihan fisik.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu pemain. Tempo pertandingan, intensitas permainan, hingga pendekatan taktik sebuah tim juga berpotensi berubah ketika cuaca terlalu panas.
Profesor Mike Tipton dari Extreme Environments Laboratory, University of Portsmouth, menjelaskan bahwa suhu tinggi dapat mengubah karakter pertandingan secara signifikan.
"Bermain pada suhu di atas 28 derajat Celsius mengubah permainan. Taktik, tempo, dan kualitas pertandingan ikut terdampak. Intensitas menurun, jumlah sprint berkurang, dan peluang menciptakan kesempatan mencetak gol juga bisa lebih sedikit," ujar Tipton.
Ia juga mengingatkan bahwa risiko kesehatan akan semakin meningkat apabila suhu terus bertambah tinggi selama pertandingan berlangsung.
"Paparan panas berkepanjangan dan dehidrasi dapat menyebabkan kelelahan akibat panas bahkan heat stroke, terutama dalam pertandingan penting ketika pemain cenderung memaksakan diri melampaui batas normal mereka," lanjutnya.
Perubahan Iklim Dinilai Mulai Mengubah Wajah Sepak Bola
Climate Central menilai kondisi tersebut merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim terhadap dunia olahraga. Meningkatnya suhu bumi akibat penggunaan bahan bakar fosil dinilai mulai memengaruhi berbagai tradisi olahraga yang selama ini dianggap stabil.
Meteorolog Climate Central, Shel Winkley, bahkan menyebut Piala Dunia masa depan tidak akan lagi sama seperti yang dikenal selama puluhan tahun terakhir.
"Piala Dunia seperti yang kita kenal di masa lalu tidak akan terjadi lagi. Bukan karena para pemain berubah, tetapi karena planet ini telah berubah," kata Winkley.
Menurutnya, gelombang panas, cuaca yang semakin sulit diprediksi, dan perubahan musim mulai mengubah cara olahraga dimainkan di berbagai belahan dunia.
"Para atlet dipaksa bermain lebih hati-hati, menyusun strategi secara berbeda, dan mengurangi risiko-risiko yang dulu membuat olahraga terasa begitu menarik," ujarnya.
Winkley menegaskan bahwa jika laju perubahan iklim tidak ditekan, kompetisi olahraga di masa depan bisa lebih ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dengan panas dibandingkan kualitas permainan itu sendiri.
"Jika kita tidak menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, masa depan kompetisi bukan lagi tentang siapa yang bermain paling baik, tetapi siapa yang paling mampu bertahan menghadapi panas," tegasnya.
Sumber: Climate Central