Mantan Wasit Liga Inggris Tidak Sepakat VAR Anulir Gol Mesir di Piala Dunia 2026: Kontak Wajar, Jaraknya 91 Meter ke Gawang Argentina

Pakar perwasitan sekaligus mantan wasit Liga Inggris, Graham Scott, membagikan pandangannya mengenai gol Timnas Mesir yang dianulir ketika menghadapi Argentina dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026.

BolaCom | Muhammad Adi YaksaDiterbitkan 08 Juli 2026, 10:45 WIB
Gelandang Mesir Mostafa Ziko mencetak gol setelah yang sebelumnya dianulir VAR saat melawan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, Selasa (7/7/2026). (AFP/Roberto Schmidt)

Bola.com, Atlanta - Pakar perwasitan sekaligus mantan wasit Liga Inggris, Graham Scott, membagikan pandangannya mengenai gol Timnas Mesir yang dianulir ketika berhadapan dengan Timnas Argentina dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Unggul dua gol lebih dulu, Mesir takluk 2-3 dari Argentina dalam drama yang terjadi di Atlanta Stadium, Atlanta, Rabu (8-7-2026) dini hari WIB.

Advertisement

Mesir mencetak dua gol melalui Yasser Ibrahim pada menit ke-15 assist dari Marwan Ateya dan Mostafa Ziko pada menit ke-67 assist dari Haissem Hassan.

Tim berjuluk The Pharaohs itu sebenarnya bisa membuat gol kedua lebih cepat lewat Mostafa Ziko pada menit ke-58, tetapi wasit Francois Letexier membatalkannya setelah mengecek VAR.

Wasit Letexier menganggap gelandang Mesir, Marwan Attia, lebih dulu melanggar bek Argentina, Lisandro Martinez, sebelum terjadinya gol Mostafa Ziko yang berawal dari serangan balik.


Analisis Graham Scott

Trezeguet (7) Mesir merayakan golnya melawan Selandia Baru bersama rekan setimnya Mohamed Salah (10) selama pertandingan Grup G Piala Dunia antara Selandia Baru dan Mesir di Vancouver, British Columbia, Senin, 22 Juni 2026. (Timothy Matwey/The Canadian Press via AP)

Insiden yang berlangsung di pojok kanan lini pertahanan Mesir itu dinilai merugikan Mohamed Salah dkk. Mengapa demikian?

"Keputusan untuk menganulir gol Timnas Mesir adalah keputusan yang keliru. Duel Attia dengan Lisandro Martínez dalam proses terciptanya gol Mostafa Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak yang wajar dalam permainan dan seharusnya diperlakukan sebagai bagian dari pertandingan, bukan dianggap sebagai sebuah pelanggaran," ujar Graham Scott dalam analisisnya di The Athletic.

"Selain itu, insiden tersebut terjadi hampir 100 yard dari gawang Timnas Argentina sehingga para pemain Argentina memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk kembali mengatur posisi serta bertahan. Tidak mengherankan Timnas Mesir merasa dirugikan ketika gol tersebut akhirnya dianulir setelah ditinjau melalui VAR," jelasnya.

Jika dikonversi ke satuan meter, jarak 100 yard setara dengan 91,44 meter.


Ulasan Lebih Terperinci

Mohamed Salah #10 Timnas Mesir berebut bola melawan Julian Alvarez #9 dan Cristian Romero #13 Argentina selama pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir di Stadion Atlanta pada 8 Juli 2026 di Atlanta, Georgia. (Dan Mullan/Getty Images via AFP)

Graham Scott mengulas secara lebih terperinci alasan di balik penilaiannya bahwa keputusan VAR tidak semestinya mengubah keputusan di lapangan.

Menurutnya, kontak yang terjadi dalam proses serangan Mesir masih berada dalam batas kewajaran permainan dan tidak memenuhi syarat untuk dijadikan dasar pembatalan gol.

"Jika melihat kembali insiden itu, memang terdapat sedikit kontak, baik berupa pijakan kaki ke kaki maupun tarikan singkat pada jersey lawan, tetapi tidak ada pelanggaran yang layak menjadi dasar bagi VAR untuk meminta wasit melakukan peninjauan ulang," imbuh Scott.

"Dari tayangan tersebut juga terlihat bahwa insiden itu terjadi cukup jauh dari area pertahanan Timnas Argentina. Selain itu, Timnas Argentina juga masih memiliki banyak pemain yang sudah berada di belakang untuk melakukan pertahanan."

"Intervensi VAR dalam situasi tersebut merupakan keputusan yang sangat mengejutkan dan sudah melampaui peran VAR, yang seharusnya hanya digunakan untuk mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata."

"VAR memang secara rutin memeriksa seluruh fase serangan sebelum sebuah gol tercipta, dan dalam kasus ini pemeriksaan dilakukan hingga momen pergantian penguasaan bola," kata Scott.


Contoh dari Graham Scott

Wasit, Graham Scott memberikan kartu kuning kepada Alvaro Morata saat laga babak ketiga Piala FA di Stamford Bridge, London, (17/1/2018). Chelsea menang lewat adu penalti 5-3. (AP/Alastair Grant)

Graham Scott menjelaskan bahwa suatu gol tidak dapat dibatalkan hanya karena terdapat kontak antarpemain dalam proses serangan apabila insiden tersebut tidak memenuhi kategori pelanggaran yang jelas dan nyata.

Dia juga membandingkan penilaiannya dengan insiden klaim penalti Mesir terhadap Mohamed Salah sebelum gol penentu Argentina sebagai contoh penerapan standar yang sama dalam mengevaluasi keputusan wasit.

"Namun, agar sebuah gol dapat dianulir, harus ada pelanggaran yang benar-benar jelas. Dalam situasi ini, pelanggaran tersebut tidak pernah ada. Sebagai pedoman umum, semakin lama jeda waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah duel dengan terciptanya gol, dugaan pelanggaran yang menjadi dasar pembatalan gol seharusnya memiliki tingkat keseriusan yang lebih tinggi," jelasnya.

"Faktanya, dalam insiden tersebut tidak ada pelanggaran yang layak dibahas, apalagi sampai memenuhi ambang batas yang membuat VAR perlu ikut campur."

"Dengan logika yang sama, klaim penalti Timnas Mesir akibat dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Timnas Argentina juga sudah tepat apabila ditolak. Memang ada sedikit kontak pada bagian sepatu Salah, tetapi tidak cukup untuk membuatnya terjatuh sehingga insiden itu bukan merupakan sebuah pelanggaran."

"Sama seperti gol Timnas Mesir yang seharusnya tidak dianulir, gol kemenangan Enzo Fernandez untuk Timnas Argentina juga seharusnya tetap disahkan," tutur wasit yang sedikitnya memimpin 107 laga Premier League itu.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait