Anggota Parlemen Eropa Desak Investigasi Gianni Infantino, Soroti Pencabutan Hukuman Balogun

Keputusan FIFA mencabut hukuman larangan bermain striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, terus menuai kontroversi.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 08 Juli 2026, 23:52 WIB
Pemain Amerika Serikat Folarin Balogun melakukan selebrasi aksi setelah mencetak gol pertama timnya selama pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Bosnia di Santa Clara, California, dekat San Francisco, Rabu, (01/07/2026). (AP Photo/Julio Cortez)

Bola.com, Jakarta - Keputusan FIFA mencabut hukuman larangan bermain striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, terus menuai kontroversi.

Kali ini, sejumlah anggota Parlemen Eropa mendesak dilakukannya investigasi terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, karena diduga ada campur tangan politik dalam keputusan tersebut.

Advertisement

Menurut laporan Euronews yang dikutip Al Jazeera, sekelompok anggota parlemen Eropa meluncurkan inisiatif untuk menyelidiki peran Infantino setelah FIFA membatalkan skorsing Balogun di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026.

Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina pada 1 Juli 2026. Berdasarkan regulasi yang berlaku, ia seharusnya menjalani hukuman larangan bermain pada pertandingan berikutnya.

Namun, FIFA melalui Komite Disiplin memutuskan mencabut hukuman tersebut sehingga Balogun tetap bisa tampil menghadapi Belgia.


Harus Ditinjau

Striker Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, Folarin Balogun. (Bola.com/Dok.JAMIE SQUIRE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP).

Keputusan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghubungi Gianni Infantino. Trump mengakui dirinya meminta FIFA meninjau kembali kasus Balogun, meski menegaskan tidak memerintahkan hasil tertentu.

"Saya pikir hukuman itu akan meninggalkan noda besar. Saya ingin kedua tim memainkan pemain terbaik mereka," kata Trump.

Ironisnya, keputusan tersebut tidak mengubah nasib Amerika Serikat. Tim tuan rumah tetap tersingkir setelah kalah telak 1-4 dari Belgia di babak 16 besar.

Surat yang beredar di Parlemen Eropa menyerukan kepada seluruh asosiasi sepak bola di negara-negara Uni Eropa agar meminta FIFA melakukan peninjauan resmi terhadap proses pengambilan keputusan tersebut, termasuk kemungkinan adanya intervensi politik.


Preseden Buruk

Folarin Balogun (20) dari Amerika Serikat bermain bola selama pertandingan babak 32 besar Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Bosnia di Santa Clara, California, dekat San Francisco, Kamis, 2 Juli 2026. (AP Photo/Julio Cortez)

Anggota Parlemen Eropa, Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang menilai keputusan FIFA menciptakan preseden buruk.

"Mengubah aturan mengenai hukuman kartu merah di tengah turnamen adalah sebuah aib dan bentuk penyimpangan terhadap keadilan," bunyi pernyataan bersama mereka.Ketiganya juga menilai FIFA kembali tunduk terhadap tekanan pemerintahan Donald Trump.

"Keindahan olahraga terletak pada aturan yang netral dan transparan. Ketika tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, rasa keadilan dalam olahraga akan hilang," lanjut pernyataan tersebut.Hingga kini, sedikitnya 35 anggota parlemen Eropa disebut telah bergabung dalam petisi tersebut.


UEFA Ikut Mengkritik

Kontroversi ini juga memicu reaksi dari UEFA. Badan sepak bola Eropa itu menyebut keputusan FIFA sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, sulit dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.

Sementara itu, Gianni Infantino membantah adanya campur tangan politik. Ia menegaskan keputusan sepenuhnya diambil oleh badan peradilan independen FIFA.

"Saya mengatakan kepada Presiden Trump bahwa persoalan ini ditangani oleh badan peradilan independen FIFA. Begitulah sistem FIFA bekerja dan prinsip itu akan selalu saya pertahankan," ujar Infantino.

Meski demikian, hubungan dekat antara Infantino dan Trump kembali menjadi sorotan publik. Keduanya diketahui memiliki relasi yang erat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk ketika Infantino menyerahkan penghargaan khusus "FIFA Peace Prize" kepada Trump pada tahun lalu.        

Sumber: Euronews

Berita Terkait