Kylian Mbappe Siap Hadapi Maroko, Mental Kuat usai Serangan Rasis

Didier Deschamps memastikan Kylian Mbappe siap untuk Prancis vs Maroko di perempat final Piala Dunia 2026 meski diterpa komentar rasis senator Paraguay.

BolaCom | Serafinus Sapto Prasetyo UnuspasiDiperbarui 09 Juli 2026, 17:11 WIB
Kylian Mbappe dari Prancis (10) mencetak gol pertama mereka melewati pemain Swedia Gustaf Lagerbielke (2) pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Swedia di East Rutherford, N.J., dekat New York, Rabu, 1 Juli 2026. (AP Photo/Adam Hunger)

Bola.com, Jakarta - Timnas Prancis bersiap menantang Maroko pada perempat final Piala Dunia 2026, Kamis mendatang. Didier Deschamps memastikan kaptennya, Kylian Mbappe, berada dalam kondisi prima dan fokus penuh menatap laga.

Kepastian ini datang di tengah sorotan publik setelah Mbappe menjadi sasaran komentar ofensif bernada rasis dari seorang senator Paraguay. Situasi tersebut sempat menyita perhatian jelang duel delapan besar.

Advertisement

Deschamps menegaskan kondisi psikologis sang penyerang tetap terjaga dan persiapan tim tidak terganggu. Fokus mereka diarahkan pada kemenangan atas Maroko untuk merebut tiket semifinal.

Penyerang berusia 27 tahun itu tetap diandalkan memimpin skuad di momen krusial ajang empat tahunan tersebut.


Fokus Prancis Jelang Duel Maroko

Penyerang Timnas Prancis, Kylian Mbappe, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Irak dalam laga Grup I Piala Dunia 2026 di Philadelphia, Selasa (23/6/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Petr David Josek)

Dalam konferensi pers jelang pertandingan, Deschamps menegaskan bahwa kondisi sang kapten tidak terpengaruh isu di luar lapangan. Ia menyebut tim siap menghadapi tantangan berat dari Maroko.

"Kylian baik-baik saja. Secara mental, memang ada sesuatu yang sempat ia alami dan saya tidak ingin mengungkitnya lagi. Dia adalah sosok muda yang sangat kuat, baik secara mental maupun fisik," ujar Deschamps.

"Fokusnya saat ini sepenuhnya tertuju pada pertandingan besok, yang akan menjadi laga sangat sulit karena kedua tim sama-sama memiliki kualitas dan hanya ada satu tim yang bisa lolos. Namun Kylian dalam kondisi yang baik, sama seperti pemain lainnya, dan dia siap untuk pertandingan besok."


Insiden Rasisme dan Latar Duel

Kontroversi muncul setelah seorang senator Paraguay, Celeste Amarilla, melayangkan ejekan bernada rasis kepada Mbappe. Ia menulis, "Orang Kamerun yang terjajah yang benar-benar berpura-pura menjadi orang Prancis, pahit, kaya baru, arogan, dan jelek".

Pernyataan tersebut muncul usai Mbappe mencetak satu-satunya gol yang menyingkirkan Paraguay dari Piala Dunia 2026. Ejekan itu menjadi sorotan di tengah persiapan Prancis menuju babak delapan besar melawan Maroko.

Deschamps menegaskan insiden di luar lapangan tidak mengganggu psikologis sang kapten, dan menolak mengulas lebih jauh isu tersebut agar fokus tim tetap pada pertandingan.


Mentalitas Tim Menurut Deschamps

Deschamps menilai duel kontra Maroko akan menuntut kesiapan menyeluruh. Ia mengingatkan bahwa mentalitas penting, namun performa di rumput hijau tetap menjadi tolok ukur utama.

"Mentalitas tim memang tidak akan membuat Anda memenangkan pertandingan, tetapi saya tahu betul bahwa mentalitas bisa menjadi alasan mengapa Anda kalah. Pada akhirnya, satu-satunya kebenaran adalah apa yang terjadi di atas lapangan," sambungnya.

Sang pelatih juga meminta para pemain menyiapkan fisik dan mental untuk menghadapi kualitas lawan di perempat final, mengingat hanya satu tim yang akan melaju ke semifinal.


Peran Kapten Mbappe di Ruang Ganti

Di luar kontribusi di lapangan, Deschamps menilai kepemimpinan Mbappe sebagai kapten berjalan efektif dan menjadi rujukan sikap bagi rekan setimnya.

"Jika kembali berbicara tentang Kylian, dia adalah kapten tim dan menjalankan peran itu dengan sangat baik. Dia memahami bahwa sikap dan perilakunya berdampak pada seluruh kelompok."

"Tentu saja para pemain juga saling mengatur dan mendukung satu sama lain. Bukan berarti mereka membuat aturan sendiri, tetapi ada semacam organisasi di dalam tim. Terkadang satu, dua, atau tiga pemain menghadapi persoalan pribadi maupun profesional yang membuat kondisi mereka tidak seperti biasanya. Di situlah peran kelompok menjadi penting untuk saling mendukung," tutup Deschamps.

Berita Terkait