Bola.com, Jakarta - Andrew Giuliani memberikan dukungan kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang sedang mendapat tekanan.
Menurut Giuliani, Infantino telah membawa FIFA ke level yang jauh lebih tinggi sehingga membuat para pengkritiknya merasa iri.
Giuliani pernah menjabat sebagai direktur eksekutif White House Task Force untuk Piala Dunia 2026.
Putra mantan Wali Kota New York sekaligus pengacara Donald Trump, Rudy Giuliani, itu menilai pihak yang ingin Infantino dicopot dari jabatannya perlu mempertanyakan keputusan tersebut.
Dukungan terhadap Infantino menjelang pemilihan kembali sebagai presiden FIFA pada 2027 memang terus berkurang.
Federasi Sepak Bola Selandia Baru (NZF) menjadi organisasi terbaru yang menarik dukungannya.
Sebelumnya, UEFA, Concacaf, dan AFC telah menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino. Sejumlah asosiasi sepak bola, termasuk Inggris, Wales, dan Republik Irlandia, juga memastikan tidak akan mendukung pria Swiss-Italia itu.
Di sisi lain, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan CONMEBOL telah menyatakan dukungan kepada Infantino untuk memenangkan masa jabatan keempat dalam Kongres FIFA, Maret 2027.
Pihak Lain Hanya Iri
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga sebelumnya memperingatkan FIFA bahwa mencopot Infantino akan menjadi "kesalahan besar".
"Saya pernah melihat ini sebelumnya. Ini politik. Saya pernah melihatnya ketika Presiden Trump menjadi sasaran dari sudut pandang politik. Saya juga pernah melihat hal serupa ketika orang lain menjadi sasaran," ujar Giuliani kepada The Athletic.
Menurut Giuliani, keberhasilan besar seseorang kerap membuat pihak lain merasa iri.
Ia menilai hal tersebut juga terjadi terhadap Infantino karena dia telah membawa FIFA ke level yang sebelumnya mungkin dianggap tidak mungkin dicapai.
"Orang-orang merasa iri ketika ada seseorang yang sangat sukses. Apa yang dilakukan Gianni Infantino untuk FIFA adalah membawa mereka ke level yang benar-benar baru, yang mungkin sebelumnya mereka pikir tidak mungkin," kata Giuliani.
Giuliani juga menyoroti Piala Dunia 2026 sebagai turnamen pertama yang benar-benar berada di bawah visi Infantino sejak awal.
Pencapaian Infantino
Menurutnya, Infantino mewarisi penyelenggaraan Piala Dunia di Rusia dan Qatar, tetapi Piala Dunia 2026 menjadi turnamen pertama yang sepenuhnya mencerminkan visinya.
"Saya akan mengatakan kepada presiden konfederasi atau federasi sepak bola mana pun yang sedang mempertimbangkan untuk tidak memilih Gianni Infantino, bahwa itu mungkin menjadi salah satu keputusan paling bodoh dalam karier profesional mereka," ujarnya.
Giuliani kemudian menyoroti pencapaian Infantino selama memimpin FIFA.
"Orang ini baru saja menyelenggarakan ajang olahraga global terbesar yang pernah ada tanpa insiden, menghasilkan pendapatan lebih dari empat kali lipat dibandingkan Piala Dunia sebelumnya, tetapi Anda masih berpikir untuk menyingkirkannya," kata Giuliani.
"Jika Gianni Infantino tidak terpilih kembali secara bulat, siapa pun yang memberikan suara menentangnya perlu memeriksa kembali keputusan mereka," lanjutnya.
Penegasan Giuliani
Infantino sebelumnya meminta maaf atas proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan yang direncanakan menangani aspek komersial dan operasional turnamen FIFA.
Dalam proposal tersebut juga terdapat gagasan untuk menjual sekitar 20 persen saham kepada investor swasta, termasuk perusahaan yang dipimpin Joshua Kushner, saudara ipar Jared Kushner yang merupakan menantu Trump.
Proposal tersebut kemudian dibatalkan. Giuliani mengakui bahwa Infantino tetap bisa melakukan kesalahan dalam upayanya mengembangkan FIFA.
"Kita semua adalah manusia. Menurut saya, ini salah satu hal yang terjadi ketika olahraga telah menjadi sangat bernilai dan dikomersialkan," ujar Giuliani.
"Saya hanya akan mengatakan bahwa Anda harus melihat seluruh rekam jejak Gianni dan menyadari bahwa dia selalu berusaha memperbaiki organisasinya. Menurut saya, itu yang penting."
"Hanya karena Anda selalu berusaha melakukan perbaikan, bukan berarti Anda tidak akan melakukan kesalahan sesekali. Sebagai manusia, itu bisa terjadi. Namun, saya akan melihat keseluruhan rekam jejaknya dan mengatakan bahwa inilah orang yang saya inginkan untuk memimpin," tegas Giuliani.
Sumber: ESPN